October 31st, 2008

Ilustrasi: http://www.thegadgetnet.com/

Defenisi ngeblog semakin lama semakin kabur buat saya. Awalnya saya tertarik menggunakan blog karena kemudahan menulis content dengan blog. Waktu itupun saya udah ngerasa saya bukan blogger sejati. Banyak blog yang saya sukai, menurut saya isi tulisannya berbeda jauh dengan blog pertama yang saya seriusi. Blog banyak yang bertuliskan catatan-catatan yang ditulis dengan ringan dan menarik, seperti punya paman Tyo. Atau blog yang memberikan tips ngeblog yang canggih-canggih. Sebagian berujung ke nyari duit via blog. Seperti punya Isnaini ini. Sebagian lagi bertuliskan pengalaman sehari-hari. Apa yang paling membedakan dengan blog saya? Komentar. Blog saya sepi komentar, yang ngikutin RSS sedikit. Baru sejak saya pasang update RSS melalui email dari Feedburner aja banyak yang ngedaftar. Padahal menurut banyak blogger, dua fitur itu adalah kelebihan ngeblog yang perlu digarisbawahi.

Banyak yang ngasih komentar karena memang tulisannya bagus, lucu, atau emang berguna banget. Tapi ada juga yang kasih komentar semata karena itu blog temannya. Kadang isi komentarnya cuma “PERTAMAX!” tanpa ada hubungannya dengan tulisannya. Sumpah mati saya pertama-tama bingung apa maksudnya itu. Dasar gak gaul atau mungkin juga telmi, baru beberapa kali baca komentar seperti itu baru saya ngeh maksudnya.

Rasa minder sebagai blogger itu masih terbawa sampai kemudian blog saya cukup banyak yang ngikutin. Bahkan beberapa teman ikut menyumbangkan beberapa tulisan. Tapi blog saya masih belum sampai menghasilkan uang, atau dilirik kalangan blogger. Dilirik komunitas pengguna CAD mungkin ya, tapi para blogger jelas belum. Saya rasa, meski suatu saat blog itu punya brand yang kuat, rank yang tinggi, saya mungkin tidak akan dianggap sebagai blogger.

Tapi bukan itu juga yang membuat saya pengen bikin blog ini. Bukan karena pengen dianggap blogger. Ketika saya mulai ngerasa jadi blogger beneran, saya mulai ngerasa bingung sama defenisi blogger. Apa kalau saya punya blog dengan WordPress atau Blogger saya otomatis dianggap blogger? Bagaimana dengan yang menggunakan engine lain? Seperti Joomla misalnya? Atau bagaimana kalau blogger yang memutuskan menggunakan blognya sebagai situs? Fitur komentar dan RSS dimatiin? Apakah dia ditolak dan dianggap murtad oleh komunitas blogger?

Pada akhirnya, saya memutuskan bahwa blog dan website sebetulnya tidak ada bedanya. Saya menuliskan ini di blog saya yang lain. Ujung-ujungnya, saya bingung lagi. Apa saya seorang blogger?

Daripada pusing, mendingan saya ikutin aja deh… Ngaku-ngaku jadi blogger, dan datang ke pesta blogger. Toh saya punya alamat blog dengan engine WordPress ;)

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Seleb Ngeblog, Blogger Seleb… “Wah, lo mesti nyoba man… ngeblog itu seru” itu kata dia di suatu hari. Dilain hari ada pembicaraan seperti ini. “Gue kemaren disapa sama orang… A ya? Gue jawab iya
  2. Obama, Pemilu, dan Blogger Sukses Obama melalui web 2.0 ternyata turut menginspirasi para politikus negeri ini. Mereka sudah mencoba mengundang para blogger untuk ikut dalam kampanye mereka. Meski masih tampak agak ’gapte
  3. Blog, Meteran Narsismu? Komentar miring yang sering saya temui dari sayap kiri yang mendukung gerakan ogah ngeblog adalah “Ngapain sih ngeblog? Biar bisa menyalurkan semangat narcisnya ya?” Sedikit mencibir, kada

Tags: ,