
“Elo percaya gak, kalau ada puluhan acara infotainment di TV?”
“Masa sih? Apa aja? Coba diitung…”
Pembicaraan ini beberapa tahun yang lalu, di sebuah radio swasta. Kalau gak salah, hasil itungannya mendekati angka 30. Sekarang mungkin lebih.
Gimana enggak? Dari pagi-pagi buta sudah acara gosip yang ngomongin para selebritis lokal ini. Sampai malam juga masih ada. Banyak yang merasa sebal dengan acara ini, tapi toh banyaknya tipikal acara ini menunjukkan hal ini memang laku dijual. Mulai dari seleb yang udah bisa beli mobil, caranya ngurus anak, ngasih sedekah, sampai yang berantem dengan orang tua atau suaminya. Hal-hal yang sebetulnya gak pantas diketahui orang pun jadi santapan publik. Niat beramal yang sebetulnya mulia pun dilecehkan.
“Ah, paling-paling buat promosi aja tuh… Jaga image!” Cibir yang sentimen.
Mungkin benar bahwa seleb-seleb itu cuma pamer. Toh, banyak juga seleb yang beramal tanpa diekspos. Toh kata orang tua, kalau tangan kanan memberi, tangan kiri gak perlu tau. Apalagi tangan kiri orang lain. Tapi mungkin aja mereka cuma disuruh manajemennya, atau bertujuan buat ngomporin yang lain ikut beramal.
Lebih seru lagi kalau ada seleb yang ribut. Mukul wartawan yang gak tau diri, seleb tetap sebagai pihak yang salah. Ribut dengan suami, wartawan infotainment itu sudah berbusa-busa mulutnya seperti serigala memburu mangsa. Bahkan ribut dengan orang tuanya, sampai orang tuanya si seleb menggelepar-gelepar dipinggir jalan, si wartawan malah makin semangat mencondongkan kamera dan mikrofonnya. Tidak ada simpati ataupun empati. Yang penting punya komoditas untuk dijual.
Infotainment jelas bukan acara yang cerdas ataupun mencerdaskan bangsa. Bayangkan, nonton TV satu ke TV lain, marathon dari pagi sampai malam isinya itu semua. Gambar yang sama, omongan yang sama, materi yang sama. Seleb A ada cerai, semua TV meliput. Hebatnya, semua laku dijual. Gosip yang makin sip meski gak digosok-gosok ini, juga gak ngajarin yang bener. Kawin-cerai itu biasa di acara ginian. Gaya hidup boros juga bukan hal yang tabu. Alih-alih mendidik, malah menjerumuskan penontonnya.
Tapi sebetulnya acara ini dilihat dari segi marketing sangat cerdas. Bayangkan saja, berapa orang yang dibutuhkan untuk buat acara ini? Tidak banyak. Juga butuh gambar baru dikit aja. Sisanya ambil dari arsip-arsip lama. Banyakin hostnya ngocol sendiri atau memberikan narasi yang berbunga-bunga atau bombastis. Jadi deh acara gak mutu selama 30-60 menit. Padahal misalnya si B baru ngelahirin, butuh waktu berapa menit (detik) untuk menyampaikannya? Bisa dibuat sampai 5-10 menit dengan kepiawaian si produser nyari host yang cerewet. Dengan biaya sangat minim, acara ini sungguh luar biasa. Bisa memberikan keuntungan besar. Tidak salah juga kalau mereka yang berorientasi bisnis tertarik untuk membuat acara seperti ini. Untungnya gede, pasti laku. Kenapa enggak?
Yah, semoga saja dosa-dosa mereka yang terlibat dalam acara semacam ini diampuni. Dan semoga saja yang menonton juga semakin cerdas dan bisa memilah yang patut ditonton ataupun tidak. Amin.
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Bahasa Gaul yang Bikin Puyeng Orang Jadul “Tinta Bo’… harganya masih maharani banget… mending tunggu turun atau diskon.” Mungkin banyak yang paham dengan bahasa itu. Tapi rasanya lebih banyak yang puyeng dengern
- Seleb Ngeblog, Blogger Seleb… “Wah, lo mesti nyoba man… ngeblog itu seru” itu kata dia di suatu hari. Dilain hari ada pembicaraan seperti ini. “Gue kemaren disapa sama orang… A ya? Gue jawab iya
- Resepsi Pernikahan: Untuk Pengantin Apa Untuk Tamu? Anda pernah menghadiri pesta pernikahan orang Amerika? Saya tidak. Tapi seandainya yang di film-film itu menggambarkan suasana pesta mereka secara benar, saya rasa saya cukup punya gambaran. Pesta per
Tags: acara tv


setuju.
hidup tontonan yang cerdas dan bermutu…