Si supir angkot itu gak berusaha minggir. Ia tetap berada di lajur tengah, berhenti, dan tangannya melambai-lambai memanggil calon penumpang. Di belakangnya beberapa kendaraan lain terhalang, emosi dan menekan klakson. Si sopir angkot sedikit merasa terganggu. Menekan gas sehingga angkotnya terlompat-lompat ke depan.
“Iya… orang kaya…” Gerutunya.
Ah, lagi-lagi. Orang yang merasa berhak melanggar karena merasa orang susah. Bukan barang langka di negara ini. Beberapa memang karena kepepet. Tapi beberapa lagi kok ya dipepet-pepetin aja.
Apa kalau mereka kelak menjadi orang senang, mereka akan berhenti melanggar hukum?


