November 10th, 2008

Weekend ini agak aneh. Paling enggak menurut saya. Ternyata Arsenal berhasil mengalahkan MU, meski Arsenal sedang compang-camping. Saya sendiri ragu Arsenal bisa menang, karena hampir full team aja lawan Stoke babak belur. Tapi itu tentu berita baik. Hal aneh lainnya waktu melihat TV, isi acaranya cuma 2: pernikahan BCL dan berita eksekusi Imam Samudra cs. Hal lain jadi gak penting. Hebatnya semua TV gak ada yang absen nyiarin dua berita itu dari pagi sampe sore. Segitu cekaknya ide para produser acara TV kita? Tapi bukan itu yang paling aneh. Meski trio macan terpidana bom Bali itu jelas-jelas diputuskan bersalah oleh hukum yang berlaku, ternyata masih ada yang menganggap mereka pahlawan.

Satu hal aneh lainnya, saya memperoleh komentar seperti ini di posting blog saya yang lama:


1. COPAS berarti belajar. kok bisa? “ya jelas. sebelum copi paste pasti saya baca artikel tersebut. membaca = belajar”
2. COPAS berarti ibadah. loh mosok? “ya. karena copy paste berarti menyebarkan ilmu yang kita yakini kebenarannya. sampaikan walau satu ayat”
3. COPAS adalah manusiawi. masa iya to? “iya betul, dari dulu apa pernah manusia tidak melakukan copi paste, misal cara makan, cara berjalan, bicara, bahasa, dll. manusia selalu melakukan copi paste dari kegiatan orang lain, bahkan tanpa menuliskan/menyebutkan siapa yang menemukan”
4. COPAS adalah Hak. mengapa? ” Bloging atau ngeblog adalah kebebasan menuliskan pendapat, curahan, hasil karya, yang dihasilkan oleh blogger itu sendiri, terlepas dari mana dan bagaimana cara mendapatkannya. jadi bebas mau diisi apa Blog-nya asal bertanggung jawab.
5. COPAS dapat menghasilkan uang. ah masak? tanya aja mas ario ario moderato Bukan blog itu :) (sory mas link-nya lupa)
6. COPAS adalah CUKUP. cukup ah alasannya.

Kenapa aneh? Pertama saya sudah sebutkan bahwa saya tidak keberatan dengan COPAS di tulisan itu. Mungkin dia salah satu blogger yang kesal karena sering ‘gak dianggep’ sama blogger lain dan menumpahkan kekesalan di tulisan itu. Yang aneh lainnya, menurut saya alasannya sedikit banyak ‘maksa’. Betapa tidak. Alasan yang pertama… membaca = belajar… itu benar. Tapi apa kalau dia gak COPAS proses belajarnya gagal? Rasanya tidak. Proses belajar sudah berhenti saat dia berhenti membaca.

Paling tidak saya setuju dengan pendapat dia bahwa kalau dia mau copas ya itu haknya. Tapi perlu diingat bahwa hak kita bisa saja berbenturan dengan hak orang lain. Dan kita juga punya kewajiban. Bagi saya, secara etis, kalau kita mau copas tentu kita minta ijin sama yang punya tulisan. Kalau emang diijinin ya udah. Case closed. Mau orang teriak kaya apa, toh yang punya dah ngijinin… Mau apa lagi?

2. Ibadah? Ya bisa saja… Tapi yang jelas itu bukan cara saya. Saya lebih suka mereview tulisan orang dan membuat link ke sana. Banyak blogger yang membuat list dari tulisan-tulisan dalam satu topik. Misalkan 5 tips Windows terbaik. Saya akan review kenapa menurut saya 5 tips itu terbaik, dan saya link ke 5 tips yang saya suka. Mereka yang sudah nulis susah-susah, kalau menurut Paman Tyo, dengan darah, keringat, dan air mata, saya pikir berhak mendapat sedikit penghargaan. Setidak-tidaknya dari saya yang sudah merasakan manfaatnya, dengan memberi reward itu sebagai tips terbaik (buat saya). Jika anda copas bulat-bulat, katakanlah itu memang ibadah. Tapi nilai ibadah anda bisa berkurang kalau yang dicopas gak rela dan nyumpah-nyumpah. Kalau anda membuat link seperti itu, selain beribadah karena menyebarkan ilmu, anda juga beribadah karenamembuat orang lain senang kan?

3. Manusiawi? Ah, rasanya enggak juga. Orang yang hidup di belahan dunia lain dari Indonesia toh juga bisa jalan, bicara, ngobrol (meski dengan bahasa berbeda). Itu bukan copas buat saya. Kita bisa baca juga gak gratis. Kita sekolah, beli buku, dengan mengeluarkan biaya sebagai bentuk penghargaan untuk yang mengajarkan kita dan nyusun buku.

5. Menghasilkan uang? Wah kalau itu udah bukan ranah saya lagi. Ini emang hal yang wajar kok. Memangnya koran-koran mengirimkan wartawan ke semua penjuru dunia untuk dapat berita? Enggak. Kadang mereka memperoleh berita dari sumber lain. Entah CNN, Antara, atau mungkin Mama Loren udah ngasih tau hari ini mesti ngirim wartawan ke mana. Saya kurang tau apa mereka kudu bayar buat masang berita dari sumber-sumber itu apa enggak. Tapi saya pikir lagi (kebayakan mikir nih…) orang yang nulis dengan darah, keringat, dan air mata mestinya dapat share dari kita, kalau tulisan mereka menguntungkan kita. Ya ini masalah ijin lagi. Kalau yang punya orangnya baik hati dan mempersilahkan saja ya monggo. Kalau dia minta share, ya wajar kan? Tapi kalau kita beli buku di Gramedia, mengetikkan isi dari buku itu di blog dan mempublishnya… wah ati-ati aja. Banyak blogger yang paling-paling cuma misuh-misuh dan nyumpahin tujuh turunan yang mengkopi-paste tulisannya tanpa ijin (apalagi diakuin tulisannya sendiri)… tapi kalau udah urusan sama hak cipta itu repot. Apalagi klo sama perusahaan. Minta ijin adalah cara paling aman ;)

Sekali lagi, saya gak anti sama co-pas. Saya pribadi menemukan beberapa blog yang meng-copas tulisan saya, dan ada beberapa yang cukup sopan dengan meminta ijin lebih dulu. Supaya gak repot, saya memang memasang disclaimer bahwa mengutip atau melakukan copas isi blog saya itu boleh, asal bukan untuk tujuan komersial. Gak usah minta ijin, asal link ke blog saya dicantumin. Kalau misalnya ada penerbit yang mencomot tulisan saya untuk nyari keuntungan, saya pikir saya berhak dapat bagian. Begitu juga kalau ada blogger lain yang melakukannya. Toh semanusiawi-manusiawinya copas seperti di alasan no. 3 itu, kita kan gak bisa copas DVD atau program orisinal dan kita jual lagi untuk keuntungan pribadi. Meski bisa diperdebatkan lagi… apa itu masih penting kalau kita tersandung masalah hukum?

Seperti kasus Imam Samudra, kita bisa aja ngotot dengan berbagai alasan bahwa kita benar. Tapi toh Imam Samudra meski jadi pahlawan bagi sebagian orang, tetap ditembak mati. Apa yang diyakini Imam Samudra tentu berbeda dengan apa yang diyakini blogger copas. Tentunya sebagai blogger lebih aman kalau kita minta ijin sama yang menulis dengan susah payah. Saya tau banyak blogger yang menulis dengan sangat serius, pakai riset segala. Selain kita lebih dihargai karena minta ijin lebih dulu, kita terhindar dari masalah hukum yang mungkin timbul. Bagaimana pun kecilnya. Pada akhirnya, segitu pentingnya kah mana yang benar, mana yang enggak? Meski kita akhirnya diiyain sama lawan bicara (entah karena yang diajak ngomong dah males ndengerin, atau beneran dia nganggep kita bener) kalau kesandung masalah hukum dan kena sangsi penjara atau denda gimana? There’s no glory anyway. Just my 2 cents ;)

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Saat Ide Itu Habis… Ngeblog itu gampang. Itu kata blogger profesional yang udah malang-melintang di blogosphere alias jagad per-blog-an. Tapi kenyataannya ngeblog itu gak gampang-gampang amat. Gak semua orang b
  2. Menggunakan Domain Sendiri, Sekedar Commitment Fee Ngeblog di domain sendiri punya banyak alasan. Ada yang biar keliatan keren, ada yang menganggapnya sebagai investasi, ada yang ingin membuatnya jadi lebih professional, dan sebagainya. Bl
  3. Suka Komplain = Kurang Bersyukur atau Pejuang? “Kalau kamu itu tulisannya serius… dan suka komplain :D” Itu pendapat Latri soal gaya nulis saya di blog. Saya gak ingin berdebat soal itu. Meski kadang saya emang gak ngerasa gaya n

Tags: