November 27th, 2008

Orang itu melempar sebuah batu kecil. Anjing buduk itu lari terkaing-kaing dengan ekor terselip diantara kedua kakinya. Entah kenapa, hal itu yang terbayang oleh saya saat sebuah mobil mendadak berusaha menyerobot jalur saya. Dia ada di bahu jalan, dan mendadak melihat polisi berjaga di depannya. Pengecut itu berusaha menghindari masalah dengan seolah-olah tampil ia pengemudi yang patuh.

Perilaku pengguna jalan di Indonesia memang terbilang parah. Meski angkutan umum mungkin mendapat predikat paling ndableg dalam urusan patuh aturan ini, sepertinya mendapat saingan berat dari sepeda motor. Kadang saya yang sudah berada di trotoar juga sering disuruh minggir sama pengguna motor yang nyolong jalan. Yang heboh, beberapa hari yang lalu, saya lihat sebuah sepeda motor melawan arus di jalan tol Jagorawi!. Tapi sebetulnya mobil dan bahkan pejalan kaki pun enggan patuh pada peraturan. Padahal mestinya peraturan dibuat untuk kepentingan bersama, melindungi hak mereka juga, tanpa melanggar hak orang lain. Dan tentunya, melindungi keselamatan yang ada di jalan.

Urusan langgar-melanggar ini mungkin juga bikin gerah beberapa perusahaan angkutan. Di dalam taxi, ada himbauan untuk mengingatkan pengemudi kalau ugal-ugalan. Sebuah bus carteran yang warnanya putih dengan strip biru plus burung bangau putih di bodynya, menurut saya salah satu perusahaan yang suka bikin saya gerah. Supirnya sering nyupir seenaknya. Kadang parkir di jalan sempit pas disewa buat piknik. Bikin macet. Mungkin perusahaannya merasa gerah karena banyak tudingan miring bahwa bus itu ugal-ugalan. Karena itu mereka meminta kalau yang bawa bus gak patuh aturan, bisa ngadu dengan SMS ke no yang ditempel di belakang bus. Hal yang sama juga saya lihat di truk-truk yang ada kodenya SAT xxx. Belum lama ini saya lihat mereka mencantumkan no yang bisa dihubungi kalau supirnya gak patuh aturan.

Mungkin saya menggeneralisir. Gak semua supir bus dan truk itu ugal-ugalan, tentu aja. Mungkin saya aja yang sial ketemunya yang nakal melulu. Daripada mikir negatif aja, ambil sisi positifnya. Perusahaan itu mau berbenah diri dengan menyediakan nomer itu. Patut dipuji, dan mudah-mudahan laporan yang masuk ditanggapi serius. Banyak perusahaan lain yang tutup mata, dan gak berusaha membuka diri seperti itu.

Terpikir oleh saya, kalau semua mobil dinas dipasangi nomer SMS seperti itu, membantu gak ya? Ya termasuk mobil pelat merah, ijo, biru, coklat, sampai kuning. Mungkin nomer yang dipasang nomer atasannya. Biar klo dipake buat kebut-kebutan atau srudak-sruduk, bisa dijewer atau disetrap dengan diikat di tiang bendera. Mungkin bisa juga potong gaji atau bonus. Maklum, kadang karena bukan mobil sendiri, sense of belonging-nya kurang. Jadi mau nabrak atau kebaret ya ga papa. Malah kadang warna pelat tertentu bikin segen yang lain buat protes. Mestinya kalau bawa nama perusahaan atau instansi tertentu, ada rasa malu kalau bertindak tidak patuh. Bagusnya kan malah bikin bangga perusahaan dan instansi. Karena rasa itu gak ada, kenapa gak dibuka jalur laporan biar bisa dijewer atasannya?

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Senjata Tidak Membunuh Orang, Melainkan Pengemudi yang Ceroboh Guns don’t kill people, reckless drivers do. Itu kata-kata asli yang saya kutip untuk judul posting ini. Saya membacanya di stiker yang menempel di kaca belakang sebuah mobil. Pengingat yang men
  2. Ayo Bebaskan Jakarta dari Macet! What You Can Do… Di tulisan sebelumnya, saya sedikit curhat kenapa Jakarta sulit diharapkan bebas dari macet. Tidak terasa keseriusan dari Pemda untuk membenahi kemacetan itu. That’s why. Tapi sebetulnya macet i
  3. Gue Gak Mau Susah… Lo Mau Apa? Si supir angkot itu gak berusaha minggir. Ia tetap berada di lajur tengah, berhenti, dan tangannya melambai-lambai memanggil calon penumpang. Di belakangnya beberapa kendaraan lain terhalang, emosi da

Tags: ,