November 6th, 2008

“Kalau kamu itu tulisannya serius… dan suka komplain :D”

Itu pendapat Latri soal gaya nulis saya di blog. Saya gak ingin berdebat soal itu. Meski kadang saya emang gak ngerasa gaya nulis saya serius-serius amat, tapi memang, urusan komplain, sering saya tulis di blog. Soal serius saya juga gak pengen ambil pusing, serius kan gak berarti negatif. Serius bisa berarti bagus. Dan mungkin emang bener, soalnya kalo kita sendiri yang menilai kan suka gak objektif.

Soal urusan gak puas… yang berujung pada komplain. Nah ini rada berat nih. Terlintas dipikiran saya, apakah orang yang suka komplain (bisa berarti gak gampang puas dong…) itu orang yang kurang merasa bersyukur?

Suka komplain mungkin rada susah dibedakan dengan suka mengeluh. Tapi menurut saya dua kelompok orang ini jauh berbeda.

Suka mengeluh, orang yang gak bisa terima kalau dia keluar dari comfort zone-nya. Kurang tidur dikit, ngeluh ngantuk. Jalan-jalan di mall, ngeluh kalau uangnya kurang buat beli ini-itu. Ngeluh kalau bonus gak keluar. Ngeluh karena capek abis jalan-jalan seharian. Ngeluh karena lingkar pinggangnya nambah beberapa cm. Dan muncul kecenderungan nyalahin orang lain.

Suka komplain ini menurut saya gak selalu negatif. Bisa negatif, bisa enggak. Komplain ini hal yang jamak sebetulnya. Coba saja lihat di berbagai surat kabar. Mereka memiliki halaman khusus untuk surat pembaca. Isinya? Kebanyakan komplain. Entah mereka juga orang-orang yang suka komplain seperti saya, atau memang redaksinya cuma mau nayangin yang isinya komplain. Sementara yang sifatnya testimony dianggap gak layak jual (atau dianggap marketing).

Komplain itu menurut saya salah satu bentuk perjuangan mempertahankan hak. Jaman dulu orang berjuang dengan darah melawan bentuk ketidakadilan. Jaman sekarang tentu kita gak bisa menombak pengendara motor yang naik ke trotoar dengan bambu runcing. Padahal trotoar itu jelas-jelas tanah airnya pejalan kaki. Bukan untuk lewat motor, parkir mobil, atau jualan rokok. Idealnya, tentu kita berharap polisi menindak bentuk pelanggaran seperti ini. Rasa diperlakukan tidak adil inilah yang berujung ke komplain. Yang berani langsung ke polisi mungkin hampir gak ada. Yang nulis ke surat kabar mungkin banyak. Atau mungkin nulis di blog.

Atau misalnya kita beli produk elektronik dengan brand ternama. Dengan iming-iming garansi 1 tahun, tentu kita berharap setidaknya setahun itu kita puas memakainya. Kalau baru dipake 3 bulan, terus rusak dan diperbaiki makan waktu 2 bulan, tentu ada rasa tidak terima.

Kalau Pemerintah menetapkan untuk terus menaikkan tarif parkir, tanpa ada usaha melindungi konsumen lahan parkir itu tentu juga ada rasa tertindas yang muncul. Malah ada pengusaha parkir yang setengah menantang kalau yang protes itu bersikap tidak rasional, karena parkir toh cuma bayar 2000 perak, harga mobilnya jutaan. Mentang-mentang sealiran sama Pemda. Padahal kalau asuransi diitung perjam, nilainya gak jauh beda ama parkir. Malah yang usaha asuransi ‘pasrah bongkokan’ aja kalau kerusakan sebetulnya salah yang punya mobil. Klaim kerugian parkir bisa dihindari kalau dia mau serius nyediakan keamanan di lahan parkir.

Jadi yang suka komplain itu pejuang? Wah, saya gak berani bilang begitu. Tapi menurut saya memperjuangkan hal itu bukan suatu yang salah. Selama gak ngotot, toh ada hak orang lain yang perlu diperhatikan. Kalau saya komplain dengan menutup jalan protokol, merusak fasilitas negara, dan menyusahkan orang banyak, jelas saya bukan pejuang.

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Co-pas itu salah atau benar? Weekend ini agak aneh. Paling enggak menurut saya. Ternyata Arsenal berhasil mengalahkan MU, meski Arsenal sedang compang-camping. Saya sendiri ragu Arsenal bisa menang, karena hampir full team aja la
  2. Kalau pengemudi ini membahayakan, hubungi …. Orang itu melempar sebuah batu kecil. Anjing buduk itu lari terkaing-kaing dengan ekor terselip diantara kedua kakinya. Entah kenapa, hal itu yang terbayang oleh saya saat sebuah mobil mendadak berusa
  3. Nyantol Listrik tanpa Ijin, Bisa Dipidanakan gak sih? Weekend ini cukup mengesalkan saya. Hari Minggu saya datang mengontrol rumah yang sudah diserahterimakan oleh developer sejak tanggal 11 Mei lalu. Setelah lihat sana-sini sambil membayangkan rencana p

Tags: ,

3 Responses to “Suka Komplain = Kurang Bersyukur atau Pejuang?”

  1. latree says:

    komplain bukan mengeluh, Do. komplain itu ungkapan ketidakpuasan atas sesuatu yang tidak sesuai dengan yang semestinya, seperti komplain garansi itu…
    kalau mengeluh, ungkapan ketidakpuasan atas hal yang tidak sesuai dengan keinginan. keinginan itu bisa jadi justru tidak semestinya. misalnya ya… mengeluh tidak punya uang itu!

  2. Edo says:

    Sesekali mengeluh itu biasa :)
    Yang repot kan klo dikit-dikit ngeluh.

  3. pkgeykmlwq says:

    Zcmspm vzfesetnjydp, [url=http://lkizmdpipmfk.com/]lkizmdpipmfk[/url], [link=http://ppjyknpxaemn.com/]ppjyknpxaemn[/link], http://sxdmvjjtyswr.com/