December 18th, 2008

“Heh, apa kabar lo?”

Gitu sapaan yang saya dengar di lift. Sepertinya dia memang rada surprised liat temen yang lama gak keliatan. Rasa surprised itu tampak semakin bertambah waktu temannya merespon.

“Luar biasa!”

Rasanya salam seperti itu rada sering terdengar akhir-akhir ini. Salam dahsyat, luar biasa, dan teriakan sejenis sering berkumandang. Gak lain dan gak bukan dunia kecil di kotak ajaib bernama televisi sedang gencar menyiarkan para motivator itu. Nama-nama seperti Andrie Wongso, Mario Teguh, dan Tung Desem Waringin jadi gak kalah populer dengan Bunga Citra Lestari dan Ashraf. Omongan mereka sama ditunggunya dengan pembelaan Marcella Zalianty.

Saya sendiri terkadang menikmati omongan mereka. Meski menurut saya mempraktekkannya itu lain perkara. Rasa percaya diri yang tinggi (tapi tidak sombong) seringkali menimbulkan rasa nyaman yang berbeda saat menontonnya. Banyak perusahaan yang merasa para pegawainya perlu dikasih motivasi (yang bukan besaran transfer ke rekening mereka tiap bulan) memanggil para motivator ini untuk melecut semangat juang para pegawai. Untuk kepentingan perusahaan juga tentunya. Kalau pegawainya pada rajin dan semangat, tentu perusahaan juga untung. Asal jangan sampai motivatornya ngomporin pegawainya buat bikin usaha sendiri. Bisa-bisa besoknya HRD kebanjiran surat pengunduran diri, dan bulan depan ada tambahan kompetitor dari mantan pegawai!

Kalau dipikir-pikir, apa iya kita butuh motivator? Mungkin ya, mungkin tidak. Setau saya motivator itu gak ada yang termasuk 10 orang terkaya di Indonesia. Kalau gurunya saja gak bisa, rasanya muridnya juga gak akan bisa masuk daftar itu. Padahal katanya mereka dibayar sampai puluhan juta perjamnya untuk cuap-cuap. Saya gak tau apa orang-orang terkaya itu butuh motivator. Toh dari jaman dulu banyak orang kaya meski para motivator seleb itu belum ada.

Kadang kita emang butuh dimotivasi. Omongan mereka emang sering kena di hati. Rasa pede dan semangat pun meninggi. Apalagi setelah rasa jenuh bekerja tanpa harapan akan perbaikan hidup. Atau setelah banyak cobaan mendera. Tapi ya seperti halnya setelah mendengar kotbah Jumat, perlahan semangat itu kembali turun. Mungkin motivasi sukses dan uang merupakan dorongan yang cukup besar sehingga ada yang rajin mengikuti para motivator ini. Sukur kalau kelak ia bisa sukses.

Saya bukan orang yang skeptis dengan para motivator ini. Tapi menurut saya emang gak semua perlu didengar. Mereka bicara seperti itu toh karena itu profesi mereka. Sama seperti MC, penyiar radio, pembaca berita, host, dibayar buat ngomong. Penyanyi dibayar buat nyanyi. Kita suka lagunya kita dengerin. Kalau gak suka ya gak usah maksain kuping jadi panas. Sama seperti halnya motivator. Kalau emang bagus gak ada salahnya diikuti. Tapi kalau justru bikin kita susah ya gak usah diikuti. Gak susah kan? Toh apa yang buat mereka baik, belum tentu cocok buat kita.

Gak perlu ikut-ikutan nyebar duit dari udara. Buat yang cuma mentingin sukses dalam marketing mungkin itu hal yang genius. Tapi buat yang lain, itu menyinggung perasaan dan melecehkan harga diri manusia lain.

Ada juga yang ngakunya ingin hidup santai dan berbagi kesuksesan. Padahal dalam keadaan sakitpun harus keliling dunia dan ngomong sambil terbatuk-batuk demi meraup uang yang dibayar penonton yang terpukau. Yang ini mungkin anda semua kenal namanya, Roberto Kiyosaki. Sayang tulisan mengenai performancenya itu udah gak ketemu. Tapi Kiyosaki emang pernah dituduh pembohong. Ia bukan orang kaya, tapi orang yang menjual ide supaya bisa jadi kaya. Dia dituduh baru kaya setelah bukunya Rich Dad Poor Dad jadi best seller. Perumpamaannya, dia jualan sekop setelah dia bilang di daerah itu ada emasnya. Yang ini bisa anda baca di tulisan Andrias Harefa.

Sekali lagi bukan saya mau nuduh motivator itu tukang tipu atau pembual. Kalau memang ada ajarannya yang bagus, gak ada salahnya diikuti. Tapi gak perlu ngikutin semua omongannya. Kalau anda terpukau itu memang tugas mereka. Sama seperti kalau anda terpukau kalau melihat aksi Metallica menandak-nandak di panggung. Atau David Copperfield menghilangkan patung Liberty. Motivator adalah profesi. Kita bisa terpukau melihat aksi Adebayor mencetak gol ke gawang Chelsea, tapi buat pendukung Chelsea itu menyesakkan. Dan sama seperti Adebayor yang bisa gagal mencetak gol, para motivator itu bisa gagal meyakinkan pendengarnya.

Yang pasti, orang tua saya atau orang tua orang lain bisa aja tersinggung kalau saya jawab “Luar biasa!!!” pas ditanya kabarnya. Kalau saya dan anda mungkin sudah tau kenapa ada yang menjawab seperti itu.

Ilustrasi: www.ideasandtraining.com

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Do or Do Not… There is No Try Ilustrasi: armyofclone.blogspot.com Gak usah bingung baca tulisan yang grammarnya muter-muter gitu. Itu emang omongan alien. Paling enggak menurut filmnya. Itu omongan master Yoda alias guru besar pa
  2. Dikritik Itu Gak Enak Ilustrasi: http://www.businessweek.com Rasanya gak ada orang yang suka denger dirinya dikritik. Apalagi kalo yang ngritik nyolot. Rasanya ini manusiawi. Gak ada orang yang senang kalau tau dia salah.
  3. Kebenaran itu Tidak Selalu Mutlak… Waktu membuat orang menjadi lebih bijak. Paling enggak begitu kata orang bijak. Meski saya ngerasa bukan orang bijak, tapi ada benarnya juga petuah itu. Paling enggak, menurut saya sekarang gak ada gu

3 Responses to “Hebohnya para Motivator”

  1. Blogpreneur says:

    sama saya juga suka dengerin, tapi ya itu ngak semua saya praktekin. Dan penting juga untuk broke the rules for something better cycle ….

  2. Edo says:

    Wah, Arham mampir juga ke sini :)
    Do the unusual? Hehehe…

  3. papa destra says:

    Wah akhirnya ada juga yang sama,,
    kalo saya lebih melihat mereka sebagai penghibur layaknya ST12,Wali,Dewa,dkk

    Ibaratnya nyanyian mereka akan disesuaikan dengan kondisi pasar saat ini

    Tp kadang saya heran..ketika katakanlah salahsati dari mereka menjawab pertanyaan….. adaaa..saja jawaban yang bisa masuk logika..