
“Tinta Bo’… harganya masih maharani banget… mending tunggu turun atau diskon.”
Mungkin banyak yang paham dengan bahasa itu. Tapi rasanya lebih banyak yang puyeng dengernya. Termasuk orang jadul seperti saya. Sesudah kasak-kusuk nanya, ternyata itu bahasa gaul. Tinta itu maksudnya tidak. Maharani itu maksudnya mahal. Sesudah “Ooooo…” yang cukup panjang, akhirnya saya mulai maklum, bahwa kata-kata seperti itu sudah jamak di kalangan anak muda. Di radio sekarang penyiarnya ya ngomongnya begitu. Mungkin karena pendengar radio sekarang rata-rata cukup gaul.
Kalau baca yang di atas mungkin terbayang saya ini orang yang sudah sepuh. Rambutnya putih semua, keriput sana-sini, dan jalannya gemeteran :D Gak juga. Mungkin karena lingkungan saya emang orangnya gak terlalu gaul. Gak peduli dengan tren. Jadi gak terlalu ngeh dengan revolusi gaya di luar sana. Tapi saya suka. Di sini orang lebih mementingkan fungsi ketimbang gaya. Saat orang demam BB (meski saya sudah tau Blackberry sejak lama, lagi-lagi kaum gaul memberikan istilah sendiri), di sini cuek aja. Ya tentu ada satu-dua yang pake. Tapi justru jadi minoritas. Yang penting di sini telponnya bisa bunyi, bisa sms. Sehingga telpon yang udah ilang dari brosur juga gak masalah. Bahkan ada yang masih ngotot make ponselnya meski batrenya dah mesti diiket karet. Karena longgar.
Dunia entertainment memang dinamis. Gak gaul maka gak laku. Memang seru mendengar mereka bicara. Kelucuan yang adapun muncul kalau yang bicara cerewet. Makanya pembawa acara yang laris manis sekarang yang bawel. Termasuk yang laki, harus bawel seperti nenek-nenek yang mengomeli cucunya yang susah diatur. Seperti halnya produk lainnya, semua mengekor. Semua pembawa acara harus ceriwis, bahasanya harus gaul.
Tapi kalau semua acara harus dibawakan seperti itu, rasanya kok gak banget ya? Bayangkan kelak kalau berita dibawakan oleh Indra Bekti dengan gaya ala Ceriwisnya. Saya kehilangan respek pada acara Indonesian Idol yang pembawa acaranya kelasnya jauh di bawah Ryan Seacrest yang elegan itu. Bagi saya acara itu acara yang mestinya elegan. Acara yang berbobot mestinya gak harus pake bahasa gaul. Talkshow populer di negara paman Sam juga bahasanya gak pakai bahasa slank. Saya gak tau apa memang gak ada host sekelas Oprah yang bisa membawakan acara dengan fun, kadang lucu, kadang mengharukan. Enak diikuti tanpa perlu didramatisir dengan host yang berguling-guling di lantai supaya lucu atau kamera yang ngotot nempel ke wajah orang yang tersedu-sedu supaya penonton terharu.
Saya gak tau apa memang lingkungan saya saja yang gak pake bahasa gaul itu. Tapi setau saya memang gak ada yang pake. Mungkin anak-anak SMA atau kuliahan ada yang pake, tapi saya gak tau karena gak kenal banyak anak kuliahan, dan anak saya juga baru satu taun. Ngomong “Papa..” aja belum jelas, apalagi bahasa gaul. Menurut saya sih penggunaan bahasa seperti itu mungkin bakal bisa menjangkau target tertentu, tapi justru melepaskan pangsa pasar lainnya. Orang jadul yang malas menerjemahkan bahasa gaul.
Image by Free-StockPhotos.com
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Ditunggu: Barney versi Indonesia Rama sudah terkantuk-kantuk hendak tidur. Meski kadang guling sana, guling sini, sepertinya memang menunggu waktu saja Rama terlelap. Dengan niat supaya lebih cepat pules, saya nyanyiin lagu dari DVD
- Senjata Tidak Membunuh Orang, Melainkan Pengemudi yang Ceroboh Guns don’t kill people, reckless drivers do. Itu kata-kata asli yang saya kutip untuk judul posting ini. Saya membacanya di stiker yang menempel di kaca belakang sebuah mobil. Pengingat yang men
- Infotainment, Acara Bodoh yang Cerdas “Elo percaya gak, kalau ada puluhan acara infotainment di TV?” “Masa sih? Apa aja? Coba diitung…” Pembicaraan ini beberapa tahun yang lalu, di sebuah radio swasta. Kalau
Tags: bahasa gaul

