Sudah seminggu ini anak sekolah masuk lebih pagi. Jam 6.30. Bagi sebagian orang mungkin tidak masalah. Namun sebagian lainnya mengecam dan mengeluh. Ada yang merasa tambah macet, ada yang harus berangkat lebih pagi buat nganter anaknya sekolah, dan sebagainya.
Klo mau dirunut secara teknis, sebetulnya yang dilakukan oleh pemda DKI ini bukan hal yang aneh bin ajaib. Bukan kebijakan yang dikarang-karang. Secara teori, kebijakan seperti ini memang ada di buku-buku manajemen transportasi. Teknik seperti ini disebut sebagai peak spreading. Teknisnya pemda sudah menjelaskan dengan gamblang. Klo masih kurang jelas, mungkin bisa coba baca buku manajemen transportasi. Namun yang jadi keributan para orang tua, kok ya yang dikorbankan kok anak sekolah? Kenapa gak pegawai kantoran aja, entah dimulai dari PNS yang gak mungkin nolak kebijakan pemerintah sampe pegawai swasta yang sering mbalelo.
Dalam satu hari, wagub Prijanto sudah menyatakan kebijakan ini sukses. Kesimpulan yang terburu-buru. Dalam mengubah perilaku jaringan sekomplek Jakarta, butuh waktu beberapa bulan sampai bisa menyimpulkan kebijakan ini sukses atau enggak. Istilah kerennya, sampai sistem mencapai equilibrium yang baru. Hari ini, saya merasakan jauh lebih macet dari senin kemarin. Waktu yang dinilai pak Wagub tersebut.
Sama seperti kebijakan lainnya, saya pesimis akan sukses. Bukan karena kebijakannya ngawur. Klo mau dirunut ke buku dan teori, semua memang masuk akal. Meski kadang sentuhan manusiawinya kurang. Komitmen pelaksanaannya yang kurang. Mulai dari 3 in 1, busway, monorail, sampai penggeseran jam sekolah dan jam kerja. Busway banyak peminatnya. Tapi tidak bisa dibilang sukses karena busnya kurang melulu. Waktu tempuh juga sama saja dengan bus reguler. Karena jalur khususnya gak lagi dipake sendiri. Busway juga gak didukung infrastruktur manajemen parkir. Dan sekarang malah busnya banyak bermasalah. Kebut-kebutan di jalan tol, sampai kebakar. Busway juga bukan kebijakan ngawur. Teknik ini yang disebut sebagai segregasi moda. Tapi pelaksanaannya (maaf) menyedihkan. Kebijakan itu mestinya saling mendukung. Satu kebijakan menyelesaikan semuanya, itu omong kosong. Apalagi kalau tidak dilakukan sungguh-sungguh.
Rasa pesimis masyarakat juga bukan tumbuh sembarangan. Kalau ada kebijakan yang dirasa cukup ektrim dan membuat mereka susah, mereka jadi enggan memikirkan sisi positifnya. Gak bisa disalahkan, karena biasanya kebijakan itu memang bakal gagal menyelamatkan Jakarta. Yang ada, ada beberapa pihak dirugikan. Dan masyarakat luas tidak diuntungkan. Runtutan kebijakan seperti ini bakal makin menggerogoti kepercayaan masyarakat pada pemerintah. Akhirnya kalau kelak ada kebijakan baru, masyarakat sudah menolak duluan. “Ahhh… gak ngefek!!!”
Image by Free-StockPhotos.com
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Ayo Bebaskan Jakarta dari Macet! Baru-baru ini pemerintah DKI mulai meluncurkan ’wacana baru tapi lama’ : pembatasan kendaraan dengan pelat nomer. Sudah banyak jurus yang sudah dilancarkan Pemda DKI. Mulai dari 3 in 1, bu
- Beli Buku Disegel, Serasa Beli Buku dalam Karung… Dulu waktu di Semarang, jaman masih jadi mahasiswa kere, baca buku baru di toko buku kadang saya lakukan. Urusan beli soal nanti. Mungkin beli satu-dua buku buat kuliah, tapi ada buku gratisan yang b
- Buku Manual Bukan Pajangan Kemarin saya, istri dan Rama beli mainan di Ambassador. Maunya sih mainan multi fungsi. Buat si Rama belajar jalan, sebagai dorongan. Buat dinaikin, dan didorong-dorong Bapaknya. Atau buat mainan lain
Tags: Jam sekolah, Kebijakan, Macet


gile bener. jam segitu!
kenapa jadi anak sekolah yang harus ‘mengatasi’ masalah kemacetan jakarta?
aneh :(