Di sebuah perusahaan, jika seseorang ingin dipercaya menduduki suatu jabatan, ia akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Jika ia bekerja dengan baik, mungkin ia akan dijadikan supervisor. Atau mungkin bahkan jadi manajer atau lebih tinggi. Kalau ia sudah menunjukkan bahwa ia memang lebih baik dari yang lain, ia akan dijadikan orang yang memimpin rekan-rekannya. Jika ia menunjukkan bahwa ia pemimpin yang baik di kelompoknya, ia akan diminta menjadi pemimpin kelompok yang lebih besar. Paling tidak itulah gambaran saya mengenai cara memilih pemimpin yang ideal.
Sebentar lagi kita akan memasuki event akbar di dunia demokrasi. PEMILU. Pemilihan Umum. Bukan pilu yang diberi sisipan em. Kalau ini artinya jadi orang yang bikin orang lain pilu. Kehebohan pesta demokrasi ini sepertinya hanya ditingkat partai yang terlibat. Pesta partai, bukan pesta rakyat. Spanduk bertebaran di mana-mana. Senyum para caleg mudah ditemui. Sebagian tampak dibuat-buat, tapi mungkin sebagian lagi memang murah senyum. Tiba-tiba saja banyak orang yang merasa dirinya layak jadi pemimpin. Merasa dirinya lebih baik.
Banyak nama yang disebut-sebut sebagai putra daerah terbaik. Tiba-tiba saja muncul di pinggiran. Mungkin karena tidak yakin bisa bersaing di kota besar. Tapi yang pasti nama itu tidak pernah muncul dan dikenal membawa perbaikan signifikan untuk daerahnya. Sekarang ia turut meramaikan pemilihan caleg. Senyum penuh rasa percaya diri tampak di posternya. Sekedar ikut meramaikan pesta.
Hiruk pikuk pemilihan pemimpin satu ini memang beda. Sukses terpilihnya mereka diukur dari dana yang dihamburkan. Berapa popularitas mereka berdasarkan survey. Dana yang dikeluarkan untuk iklan. Berapa massa yang dapat dikumpulkan. Bukan dari hasil kerja mereka selama ini. Tapi dari janji yang belum tentu bakal diingat, apalagi dipenuhi.
Talk is cheap. Berjanji itu gampang. Mudah saja berkata, kalau saya terpilih, saya bakal membuat rumah susun gratis untuk rakyat. Saya akan buat Jakarta bebas banjir, bebas macet. Sekolah gratis. Harga BBM saya turunkan. Berobat gratis. Gelandangan disantuni. Dan berbagai janji lainnya. Tapi itu bukan gaya saya. Janji itu hutang. Saya gak mau berhutang kalau saya tidak yakin bisa melunasinya.
Saya gak ingat ada gubernur yang punya prestasi hebat. Sehingga bisa dipercaya untuk memimpin kelompok yang lebih besar. Menjadi presiden. Atau pemimpin lain yang cukup berprestasi. Yang ada hanya janji. Kalaupun ada geliat dari partai atau sang calon untuk menunjukkan ia berguna, hanya menjelang pemilihan. 5 tahun sekali saja. Gak perlu terkagum-kagum kalau ada partai atau calon yang sibuk berusaha mengambil hati rakyat sekarang ini. Justru partai yang hebat adalah partai yang sibuk mendekatkan diri setelah masa pemilihan berakhir. Pemimpin yang baik adalah yang tidak banyak janji, tapi menunjukkannya dengan hasil. Hasil yang dapat mengantarkannya memimpin kelompok yang lebih besar.
Ilustrasi: http://www.free-stockphotos.com/
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Obama, Pemilu, dan Blogger Sukses Obama melalui web 2.0 ternyata turut menginspirasi para politikus negeri ini. Mereka sudah mencoba mengundang para blogger untuk ikut dalam kampanye mereka. Meski masih tampak agak ’gapte
- Pemilu Libur… Nyuruh Orang Jadi Golput? Akhir minggu ini mungkin banyak disambut gembira orang kantoran. Boleh lihat di status Facebook atau Y!M teman-teman kita. Betapa tidak, pada hari H Pemilu pemerintah memutuskan untuk dijadikan hari l
- Iklan Caleg, Untuk Apa? Ilustrasi: http://bahtiarhs.net Anda lihat spanduk iklan di tengah-tengah baliho raksasa para caleg di foto ini? Ada Alex’s Salon. Pusat grosir juga ada. Saya gak tau ini di mana karena nyomot

