Pak Ogah atau polisi cepek. Begitu orang seperti ini dipanggil. Dulu nama ini timbul karena mereka diberi uang cepe’an alias 100 rupiah. Jumlah yang sering diminta oleh tokoh gundul pemalas bernama pak Ogah di film si Unyil. Tapi jangan coba-coba memberikan uang cepek pada mereka sekarang. Minimal justru dimaki, atau disambit koin seratusan yang kita kasih. Harga diri mereka sekarang sudah meninggi. Tidak hanya karena inflasi, tapi sepertinya profesi ini diamini oleh pihak berwajib adalah profesi yang sah.
Posisi pak Ogah satu ini betul-betul ogah-ogahan. Dia tetep berdiri di dekat jendela pengemudi. Keberadaannya betul-betul mubazir. Karena posisinya itu, ia tidak dapat menghalangi arus kendaraan dengan semestinya. Ia enggan bolak-balik dan mungkin juga takut pengemudinya keburu kabur. Justru adanya pak Ogah satu ini, kadang pengemudi justru buru-buru memutar. Malas dengar umpatan pak Ogah yang gak dikasih gope’an. Kadang kaburnya membahayakan pengguna jalan lain.
Ia jelas tidak memberikan kontribusi apapun, justru membuat yang menggunakan jalan merasa tidak nyaman. Tapi coba tanyakan padanya apa pekerjaannya, pasti ia akan mengatakan itu adalah pekerjaannya. Dan biasanya akan tersinggung kalau disuruh cari kerjaan yang ‘bener’.
Tentu saja, tidak semua pak Ogah seperti itu. Ada yang betul-betul berguna dan tidak terlalu money oriented. Di dekat rumah orang tua saya, ada yang rela meninggalkan posnya demi membantu anak sekolah menyebrang. Tidak peduli dengan recehan yang mungkin akan lolos. Banyak yang respek padanya, dan justru memberikan lebih. Kadang saya lihat ada yang naik becakpun memberikan selembar uang ribuan. Tapi yang seperti ini sungguh langka. Kebanyakan justru menimbulkan rasa sebal.
Tidak hanya pak Ogah yang merupakan pekerjaan yang diragukan statusnya sebagai pekerjaan beneran. Masih ada pengamen. Sama halnya dengan pak Ogah, keberadaan mereka sering menimbulkan rasa tidak nyaman. Terutama bagi kaum hawa saat berada di tempat tertentu di malam hari. Berbeda dengan sidewalk musician/artist di luar negri sana. Di sana mereka hanya berdiri di satu tempat. Entah di pojok taman, atau di trotoar. Mereka bermain dengan sungguh-sungguh. Orang yang lewat pun beberapa tertarik dan berhenti menikmatinya. Kemudian dengan sukarela memberikan uang receh dari beberapa sen sampai beberapa dollar. Tidak ada kecrek-kecrek dengan botol air mineral berisi beras. Tidak ada yang hanya menggumam melainkan betul-betul menyanyi atau bermusik. Dan yang memberikan uang pun kebanyakan karena menyukainya. Tidak sekedar takut apalagi kasihan.
Dulu pengamen cukup banyak yang disukai. Kakek saya tiap sore memberikan uang 500 perak pada pengamen langganannya. Dan sambil duduk santai di depan, mendengarkan pengamen itu menyanyikan 5 lagu. Ya dulu mereka cukup terhormat untuk mempunyai tarif. Satu lagu 100 perak. Tapi sejak krismon di tahun 98, banyak yang ikut-ikutan pekerjaan seperti ini. Mulai dari yang bisa nyanyi beneran sampe menggumam saja. Asal bawa alat musik, dianggap sudah sah.
Masalahnya, pekerjaan seperti ini sangat bias. Sulit mengukur apa dia betul-betul memberikan kontribusi atau tidak. Berbeda dengan pedagang asongan yang masih bisa terukur. Saya bayar, saya dapat koran. Atau air mineral. Saya pasti dapat imbal-balik. Tapi pak Ogah tidak selalu. Kalau macet kadang membantu, tapi bisa juga enggak. Pas sepi dia tetap berdiri di posnya. Biar tanpa bantuan dia, saya bisa dengan mudah lolos dari arus kendaraan yang berlawanan. Kadang saya juga diacungi kantong oleh pengamen meski jelas saya menggunakan headphone.
Setelah krisis ini, rasanya jumlah pekerja (yang kadang sulit disebut bekerja ini) akan bertambah banyak. Bagi saya, hal ini akan membuat saya semakin tidak nyaman. Dan saya rasa, jika ada kesempatan, banyak juga diantara mereka yang ingin ‘bekerja beneran’. Meski mungkin memang ada yang merasa pekerjaan seperti itu lebih enak. Bebas, gak diatur boss, bisa kerja dekat rumah, sambil kongkow, dan penghasilannya bisa jauh di atas UMR.
Mungkin ini juga bentuk kegagalan pemerintah dalam membuat lapangan kerja yang baik bagi rakyatnya. Seperti kata rekan saya dari Malaysia, Dawood, saat kami berhenti di sebuah lampu merah:
“Why your goverment don’t help these people?”
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Bahasa Gaul yang Bikin Puyeng Orang Jadul “Tinta Bo’… harganya masih maharani banget… mending tunggu turun atau diskon.” Mungkin banyak yang paham dengan bahasa itu. Tapi rasanya lebih banyak yang puyeng dengern
- Menang Jadi Arang, Kalah Jadi Abu – Bebaskan Ibu Prita! Ini soal sedikit soal rasa solider. Anda tahu soal Prita yang ditahan gara-gara menulis keluhan soal layanan yang diberikan rumah sakit ‘O’? Saya enggan menulis nama rumah sakitnya, karen
- Emang Fans Bola Harus Ribut? Anda penggemar sepak bola? Punya klub idola? Penggemar bola pasti punya tim pujaan tersendiri. Kadang malah ogah nonton yang lain kecuali timnya yang bertanding. Saya kadang mengikuti komentar di deti
Tags: Pak Ogah, Pengamen, Polisi cepek


nice theme….beautiful colour n creative font (is that your hand writting??)
pengamen kalo nyanyinya bagus psti aku kasih, kadang malah aku kebawa ikut nyanyi… kadang malah kusuruh nyanyi lagi…
kalo jelek, jangan harap
kalo pake tepuk tangan doang, ya… dapet tepuk tangan juga sudah lumayan…
eh, kemaren itu ada sinden ngamen yang ku rekam, dan seneng banget aku kasih 5rb. tengok deh di video terakhir di MPku.
Itu dia Lat… bias banget service yg mereka kasih. Layak dikasi gak.
Yang paling nyebelin klo bersenjatakan alat ngamen tapi wajah garong dan kalimat pembuka/penutup yang mengintimidasi…
Hari ini banyak baca artikel-artikel yg ditulis sama pak Edo, bahasa nya luwes dan enak dibaca. Salam dari Jepang :) Moga-moga bisa ikut terinspirasi untuk mengulas kehidupan dalam budaya nge-blog . Sukses juga buat situs IT dan CAD nya, sangat membantu sekali untuk memperluas sains dan iptek di Indonesia
Wah, baru kali ini ada yang bilang tulisan saya enak dibaca :D Makasih buat doanya. Masih banyak pe-er buat saya untuk bisa menulis dengan baik ;)