Saya bukan penggemar permainan ketangkasan di Mall. Entah video game, atau mentung-mentung kepala yang nongol-nongol di mesin itu. Tapi minggu itu emang kita lagi kehabisan ide, sementara Rama sudah gak betah banget di rumah. Rewel terus. Akhirnya dibawa jalan-jalan ke Time Zone, dan naik mobil-mobilan. Rama senang dan tertawa lebar. Orang tuanya juga lega :D
Di sisi lain, saya melihat ada yang menggunakan mesin permainan dance itu. Saya gak tau namanya, tapi yang di lantainya lampunya nyala-nyala minta diinjak. Nyalanya ngikutin musik yang diputar. Bukan sekali ini saya melihat orang memainkannya. Tapi yang satu ini beda. Kedua tangannya berpegangan pada batang besi di belakang, sementara kakinya sibuk mengikuti lampu yang makin cepat ritmenya. Sama sekali tidak tampak seperti orang menari. Dan tidak seperti kebanyakan orang lain yang tertawa-tawa sewaktu bermain, dia tampak terlalu serius, cenderung merengut.
Bukan urusan saya bagaimana dia bermain. Sambil merengut atau tertawa. Tapi bukankah bermain game itu seharusnya menyenangkan? Apalagi kalau bermain rame-rame dengan rekan yang celele’an. Cela-cela berhamburan. Tapi ya dibawa rame juga, ketawa-ketawa melepas stress. Kalau merengut, sebetulnya buat apa membuang uang dan capek loncat-loncat dan ujung-ujungnya malah gak hepi?
Tapi jujur saja, kadang rasa kesal sering juga melanda saat bermain game. Entah karena mentok gak tau mesti ngapain buat nyelesaiin gamenya, sampai terobsesi akan posisi di high score. Mungkin sama dengan sepak bola. Sepak bola kalau mau dirunut dari silsilahnya, termasuk olah raga permainan. Banyak orang yang senang bermain sepak bola. Seru, bisa dimainkan rame-rame, dan tentu saja sehat. Namun sama halnya dengan hal lain, begitu sudah merambah dunia bisnis, sepak bola tidak lagi seasik itu. Masih enak dilihat, tapi bayarnya makin mahal. Dulu bisa nonton gratis meski bertaburan iklan, sampai banyak yang marah saat gol terjadi pas iklan. Pemasang iklanpun lebih bijak, ‘hanya’ menempelkannya di kiri-kanan, atas-bawah layar. Jadi penonton tetap bisa melihat gol meski relatif lebih kecil. Yah, namanya juga gratis. Sampai akhirnya sepak bola liga Inggris semakin mahal, dan hanya bisa ditonton yang mampu bayar. Mungkin kelak liga yang bisa ditonton gratis di TV hanya liga lokal. Yang kadang dibayarpun ogah nontonnya. Jangan kaitkan dengan nasionalisme, karena kalau para pemain itu membawa bendera Indonesia (bukan klub), penonton tetap berjubel.
Sepak bola sering juga dikaitkan dengan fanatisme. Orang yang asalnya dari kota Bandung, hampir bisa dipastikan bakal mengidolakan klub Bandung. Meski saya suka bingung kalau yang beginian. Maklum, saya sering berpindah-pindah kota. Apa saya mestinya mendukung tim dari kota tempat tinggal saya, ya gak tau juga. Apalagi kalau saya pernah sebal sama tim itu, pas saya masih di kota lain. Untungnya, saya emang gak ngikutin liga lokal. Fanatisme yang berlebihan, sering dijadikan olok-olok yang bikin merah telinga. Ada juga yang gak terima timnya kalah, meski emang timnya lebih melempem dari kerupuk yang udah berminggu-minggu diluar kalengnya. Ujung-ujungnya rusuh.
Permainan mestinya menyenangkan. Entah kita emang ikut bermain, atau sekedar mendukung. Aneh rasanya, kalau main malah merengut. Apalagi berujung rusuh. Mestinya kita mengembalikan itu ke kodratnya bukan?
Ilustrasi: http://www.comparestoreprices.co.uk
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Emang Fans Bola Harus Ribut? Anda penggemar sepak bola? Punya klub idola? Penggemar bola pasti punya tim pujaan tersendiri. Kadang malah ogah nonton yang lain kecuali timnya yang bertanding. Saya kadang mengikuti komentar di deti
- Pemilu Libur… Nyuruh Orang Jadi Golput? Akhir minggu ini mungkin banyak disambut gembira orang kantoran. Boleh lihat di status Facebook atau Y!M teman-teman kita. Betapa tidak, pada hari H Pemilu pemerintah memutuskan untuk dijadikan hari l
- Masih Pedulikah Pemerintah pada Keselamatan? Pagi ini untungnya saya denger di radio kalau jalan tol dalam kota macet. Ada kecelakaan trailer, truk, dan bus. Kebayang kalo kendaraan dengan bodi yang molegh-molegh seperti itu malang-melintang di
Tags: game

