Belakangan ini, sedang heboh berita soal tewasnya ketua DPRD Sumut. Beliau tewas setelah diserbu para demonstran yang sibuk memaksakan kehendak mereka (as always).
Hal seperti ini lah yang membuat saya sedari dulu tidak pernah menyukai demonstrasi. Demonstrasi dekat dengan kekerasan. Dan jujur saja, terkesan para demonstran itu orang yang banyak maunya.
OK, tentu tidak semua demonstran begitu. Dan terus-terang banyak hal yang memang membutuhkan demo baru didengar. Dan demonstrasi sebagai sarana untuk menyuarakan pendapat diakui oleh undang-undang. Tapi sama seperti makanan betawi yang meski halal, saya tidak terlalu menyukainya. Pecel dan gado-gado lebih ‘berisi’ dan bergizi daripada ketoprak, meski sama-sama pakai sambel kacang.
Orang melakukan demonstrasi agar didengar. Kenapa mereka ingin didengar? Toh, banyak orang punya kemauan dan ingin didengar, dikabulkan. Apa semua orang harus demo supaya didengar? Ah, hal ini memang masih bisa diperdebatkan, dan terus-terang saya gak berminat mendebatnya. Demo sah-sah saja selama mengikuti aturan yang ada. Dan bukan sekedar untuk bersenang-senang. Tapi meski saya mengakui itu legal, saya gak suka. Dan saya jelas gak akan demo supaya demonstrasi diharamkan.
Tapi yang mengganjal buat saya bukan boleh apa enggak bolehnya demo. Tapi kenapa orang lebih suka membuat dirinya didengar ketimbang melakukan hal yang berguna?
“OK, kamu benar… bensin saya turunkan lagi harganya”
Lalu? Misalkan waktu itu benar gak dinaikkan, toh terbukti meski harga bbm diturunkan… diturunkan… diturunkan… (sampai 3x) harga barang tidak turun. Tarif angkot gak turun. Pastinya supir angkot gak bakal demo atau mogok untuk menurunkan tarif, seperti waktu BBM naik, minta tarif naik. Tapi pas sudah diputuskan pemerintah, toh nuruninnya juga alot. Soalnya yang dipikirkan kan “mau gue”-nya.Hidup tidak semakin mudah. Apa yang kita mau gak selalu yang terbaik buat kita bukan? Dan apa yang terbaik buat kita, gak selalu yang terbaik bagi semua. Itulah sebabnya kita memiliki agama. Kita memiliki hukum. Meski kita punya hak, namun dibatasi oleh kepentingan orang lain juga.
Seandainya semua orang berhenti berpikir “yang penting mau saya, bukan mau kamu”, dan berusaha melakukan yang terbaik untuk semua… rasanya dunia akan jadi lebih baik. Start will small things, but can be done. Talk aloud is cheap, but doing good things, no matter small is harder.
Apa dulu demonstran yang membuat (waktu itu) presiden Suharto turun, bebas dari KKN? Saya gak tau, tapi saya curiga enggak. Seandainya saja mereka semua tidak melakukan KKN, skrg Indonesia pasti jauh lebih baik. Ada jutaan demonstran yang mengutuk KKN waktu itu. Jadi mestinya ada jutaan orang yang (katanya) anti KKN. Jumlah yang besar untuk memperbaiki Indonesia. Tapi kalau yang gak boleh KKN itu kan yang didemo, saya boleh… ngapain lu ikut demo?
Ilustrasi: Detik.com
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Kebenaran itu Tidak Selalu Mutlak… Waktu membuat orang menjadi lebih bijak. Paling enggak begitu kata orang bijak. Meski saya ngerasa bukan orang bijak, tapi ada benarnya juga petuah itu. Paling enggak, menurut saya sekarang gak ada gu
- Sadar Kewajiban, Sadar Hak… Di kantor mungkin bagian finance lagi pada sebal, atau mungkin justru senang. Setiap hari ada saja yang nanya cara ngisi form SPT tahunan. Mungkin yang sebal bosan ditanya yang itu-itu saja. Y
- Tidak Ada Alasan untuk Spamming! Spamming seringkali dianggap hal yang mengganggu. Banyaknya waktu yang terbuang dalam mensortir email sampah ini sering dijadikan penyebab. Meski sebetulnya spam juga merugikan dari sisi space mail bo
Tags: Demo


cwDs0q vxqpljavbjbb, [url=http://dgfzbpyytsdx.com/]dgfzbpyytsdx[/url], [link=http://plsfiaexpqmb.com/]plsfiaexpqmb[/link], http://xqlneuufpyef.com/