February 13th, 2009

togasexy83068.jpg

Ilustrasi: http://www.houseofmasquerades.com

Pernahkah anda mendengar orang yang mencaci maki ‘budaya barat’, dan mengagung-agungkan ‘budaya timur’? Terus terang saya bukan orang barat, dan mestinya saya gak punya kepentingan kalau ada yang ngomong begitu. Tapi rasanya gak enak juga kalau orang terlalu menggeneralisir seperti itu. Orang Padang toh gak identik dengan rumah makan Padang. Banyak yang punya justru orang Jawa. Termasuk yang masaknya.

Budaya barat yang sering dianggap nista adalah pergaulannya yang dianggap bebas. Saya pernah bertanya pada seorang teman, yang kebetulan orang bule. (Lah, lahirnya emang bule, kok kebetulan… Anaknya Iyem sama Joko lahir bule, itu baru kebetulan) Dasar ndeso, rasa penasaran saya gak bisa ditahan. Dia terkekeh saja.

“Gak lah, itu kan cuma di film-film aja. Kamu juga gak akan liat robot-robot Transformers berkeliaran di Amerika kan? Kamu juga gak akan liat orang-orang bebas berciuman di jalanan.”

Betul juga. Toh kenyataannya sekarang di Indonesia film-filmnya juga semakin ‘bebas’. Dulu aja warkop banyak mengumbar aurat pemain wanitanya. Sementara komedi slapstick di luar sana justru gak sebrutal itu. Tapi toh kita gak liat adegan-adegan seperti di film warkop di jalanan.

Hal lain yang sering dianggap hina adalah pakaian mereka. Mungkin yang ngeritik cuma liat infotainment hollywood dan baca detikhot. Atau liat majalah-majalah panas, dan membayangkan semua orang di sana berpakaian seperti di gambar ilustrasi.

Taukah mereka, bahwa dulu pakaian di ‘budaya barat’ itu seperti ini? Masih agak terbuka di bahu, tidak sepenuhnya menutup aurat memang. Tapi toh cukup sopan.

g_1859_dec_b.jpg

Image: http://vintagedancers.org/

Tapi pakaian tradisional Jerman Utara ini lebih sopan dari banyak pemakai jilbab di negara kita saat ini.

PLATE97CX.JPG

http://www.siue.edu/

Juga suku Amish di Amerika ini. Sampai sekarang masih ada lho… Mungkin mirip suku Badui di sini. Masih tradisional.

amish.jpg

Image: http://www.amishabuse.com

Bagaimana pakaian ‘budaya timur’ yang diagung-agungkan itu? Penari jawa ini cukup terbuka pakaiannya. Saya tidak yakin Dewi Persik meniru pakaian ‘budaya barat’, tapi mungkin kemben Jawa.

hib1.jpg

Image: http://www.sinarharapan.co.id

Budaya berkembang. Dulu orang bule yang pakaiannya masih versi 1.0 tertutup, di versi 2.0 makin terbuka. Di sini ada yang makin terbuka, tapi ada yang makin tertutup. Film kita juga makin tidak mendidik. Meski gak porno, tapi membuat sadis… mengajarkan konsumtif. Film layar perak juga judulnya makin ngawur. Gak sekedar nyerempet, tapi sudah terang-terangan mengarah ke saru. Isinya juga jelas-jelas pergaulan bebas. Yang ini gak jelas, apa mereka niru film barat apa emang kelakuannya begitu.

Bukannya saya mau menghina ‘budaya timur’. Tapi buat apa menggeneralisir dan memusuhi semua yang berbau barat? Pikiran yang sama mungkin muncul di otak mereka: ’semua orang Indonesia teroris!’. Atau Roy Suryo yang langsung nuduh ‘Blogger itu tukang tipu!’. Kalau masing-masing ditanamkan rasa benci yang digeneralisir, kapan orang bisa damai? Lagian budaya timur dan barat yang diributin yang mana sih? Budaya korupsi?

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Wanita Ingin Menguasai Dunia? Entah sudah berapa puluh kali film ‘Baby’s day out’ diputar di TV. Ceritanya pasti udah pada tau. Basi. Meski begitu, kelucuan yang ada masih lumayan menggelitik. Pada satu bagian
  2. Mbah Surip, Nurdin M Top, Manohara, dan Tari Pendet di Mata Media Kita Sebetulnya saya ingin posting soal ini sudah cukup lama. Waktu mbah Surip berpulang. Menurut saya ironis, disaat sedang di puncak, beliau berpulang. Tapi melihat banyaknya posting dan berita soal be
  3. Dikritik Itu Gak Enak Ilustrasi: http://www.businessweek.com Rasanya gak ada orang yang suka denger dirinya dikritik. Apalagi kalo yang ngritik nyolot. Rasanya ini manusiawi. Gak ada orang yang senang kalau tau dia salah.

Tags:

2 Responses to “Pakaian 2.0”

  1. latree says:

    kalo jaman sekarang masih pake pakaian asli yang rok tumpuk2 itu, betapa ribetnya kalo mau naik bis… naik elevator…

    pakaian jawa walaupun terbuka gitu kenapa jauh dari kesan sensual? karena pembawaan pemakainya. gesture pemakai juga ngaruh di efek yang akhirnya ditangkap oleh mata pemandangnya.
    dewi persik, ntah bahu terbuka model mana yang dia tiru, kalau tidak didukung dengan mimik dan gesture yang mendukung jg tidak akan berkesan sensual. ya ngga?

    • Edo says:

      Pakaian Jawa secara tradisional ya memang gak sok sensual dan sok seksi. Suku pedalaman aja masih telanjang dada, dan banyak yang gak memasalahkannya sebagai saru, seksi, atau sensual :)
      Yang jadi pemikiran saya… kok ya mesti menggeneralisir dan nyalahin bagian dunia lain gitu lho Jeng…