Guns don’t kill people, reckless drivers do.
Itu kata-kata asli yang saya kutip untuk judul posting ini. Saya membacanya di stiker yang menempel di kaca belakang sebuah mobil. Pengingat yang menarik. Karena memang kenyataannya korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas lebih besar ketimbang perang. Menarik karena orang sibuk mengutuk Israel, sementara tidak banyak yang mengutuk pengemudi yang ugal-ugalan. Bahkan presiden kita menyatakan prihatin bahwa korban kecelakaan lebih banyak dari korban perang. Kenyataan yang agak menyedihkan sebetulnya. Mengingat pemerintah tidak pernah betul-betul serius memperbaiki masalah keselamatan di jalan raya, melainkan sibuk berkutat di masalah kemacetan.
Saya pernah membaca email seorang member di milis yang saya ikuti. Ia mengungkapkan kemarahannya karena istrinya tewas setelah koma beberapa hari di rumah sakit. Yang menabrak adalah anak-anak yang membawa motor, bonceng bertiga pula. Saat ia menuntut ke orang tua si bocah, orang tuanya hanya minta agar ia maklum. Itu musibah katanya. Caci maki ia lontarkan, terlebih karena orang tua si bocah adalah guru agama. Saya setuju bahwa itu bukan musibah. Kalau anda berikan seorang bayi pisau untuk mainan, kalau ia terluka itu bukan musibah. Pandangan yang salah ini banyak berkembang dan ngotot dipertahankan orang kita.
Pada akhirnya kecerobohan dibenarkan. Korban karena ‘musibah’ semakin banyak. Seperti pada ilustrasi, saya hampir tidak pernah melihat PJR menilang pengguna jalan yang menerobos bahu jalan. Padahal korbannya sudah banyak. Yang paling heboh mungkin bisa anda lihat di tol Jagorawi. Ada baliho peringatan yang menyatakan puluhan penumpang tewas. Dulu yang punya cerita bus Kramat Jati. Entah tahun berapa itu dulu. Mudah saja melihat pelanggaran di sepanjang jalan. Kadang petugas yang melihat membiarkan saja. Saya pikir petugas itu turut menanggung dosa para pelanggar itu kalau kemudian ada yang jadi korban.
Kalau bicara statistik, mungkin nilainya memang sangat kecil. Tapi bukan berarti tidak ada.
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Rasa Percaya yang Hilang Dari belakang, saya bisa melihat ban belakang mobil itu kempes. Entah kenapa, ada rasa kewajiban dan tanggung jawab untuk ngasih tau. Saya berusaha menyalip mobil itu. Gak ada maksud laen karena eman
- Bahasa Gaul yang Bikin Puyeng Orang Jadul “Tinta Bo’… harganya masih maharani banget… mending tunggu turun atau diskon.” Mungkin banyak yang paham dengan bahasa itu. Tapi rasanya lebih banyak yang puyeng dengern
- Wanita Ingin Menguasai Dunia? Entah sudah berapa puluh kali film ‘Baby’s day out’ diputar di TV. Ceritanya pasti udah pada tau. Basi. Meski begitu, kelucuan yang ada masih lumayan menggelitik. Pada satu bagian

