Jaman seperti ini memang suka bikin pusing. Obrolan kami pun tak jarang nyerempet soal investasi dan tabungan. Kali ini seorang rekan yang nanya soal asuransi pendidikan ke saya. Bukan karena saya financial planner atau bahkan wealth planner, tapi saya memang sudah ikutan buat anak saya.
Waktu pembicaraan nyerempet ke kata-kata ‘benefit’, seorang rekan lainnya menyela
“Kata siapa asuransi itu menguntungkan? Liat aja krisis moneter sekarang. Jaman sudah membuktikan kalau investasi paling bagus itu emas!” Nah lo…
Saya sih enggak musingin untung-ruginya waktu bikin polis asuransi itu. Tapi satu yang saya tau, asuransi emang gak buat cari untung. Keuntungan yang ditawarkan asuransi jelas, dari arti kata asuransi. Untuk meminimalisir kerugian. Hanya bedanya, saya bisa dianggap nabung, dan pada saatnya uangnya bisa saya ambil. Kerugian yang diminimalisir? Untuk kasus asuransi pendidikan… ya jaminan anak saya bisa tetep dapat biaya pendidikan. Meski gak gede, karena polisnya juga gak seberapa.
Nabung di bank juga sebetulnya gak menguntungkan. Bukan cuma uang tabungan yang terus kepotong biaya administrasi. Dan nilai uang selalu tergerus inflasi. Dulu waktu saya kuliah, SPP ‘cuma’ 180rb persemester. Sekarang? Jutaan. Entah berapa nilainya uang 10 juta 5, atau 10 tahun lagi…
Kalo mau untung, mungkin paling seru ya bikin usaha sendiri. Investasi ke barang, saham, emas, atau lainnya mungkin jadi pilihan juga. Itu pilihan masing-masing. Kalo saya sih serem juga kalau nyimpen emas. Kalaupun mampu beli, mau nyimpen di rumah bakal bikin deg-degan. Meski membeli barang masih bisa diperdebatkan juga.
Sebelum kasus ‘asuransi pendidikan’-gate ini, saya juga diperdebatkan saat memutuskan membeli rumah. Rekan lain, mengatakan bahwa ia lebih memilih ngontrak ketimbang beli. Katanya dengan ngontrak, ia bisa dapat rumah lebih dekat ke kantor. Sementara beli rumah bakal dapat didaerah coret. Entah Jakarta coret, Bekasi coret, atau Tangerang coret. Buang waktu dan biaya transport katanya. Lha tapi kan punya sendiri, dan bisa jadi investasi? Gitu pikir saya waktu itu.
Dia kembali berargumen. Investasi itu kan kata-kata manis developer aja. Misalkan kita beli rumah 200juta. 3 taun lagi kita beneran ingin menjual ntu rumah. Si developer menjual unit yang sama udah seharga 250juta. Dia nanya ke saya, apa mungkin kamu ngejual rumah itu 250 juta? Enggak kan? Kalau butuh cepat, maksimal 3 bulan… kamu mungkin malah mesti jual di bawah 200 juta. He’s got a point.
Menurut pemikiran saya yang awam ini, properti memang bukan investasi jangka pendek. Itu pun kalau ingin disebut sebagai investasi. Yang pasti saya memilih benda satu ini karena nilainya tidak akan turun tergerus investasi. Meski harganya gak naik, tapi setidaknya ada kenaikan semu yang menyesuaikan dengan inflasi. Sukur-sukur kalau di daerah itu makin berkembang, dan memang nilai tanah di sana meningkat. Tapi bagi saya jauh lebih baik ketimbang nyimpan uang yang nilainya makin tidak berarti.
Bagaimana pilihan investasi anda?
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Ditunggu: Barney versi Indonesia Rama sudah terkantuk-kantuk hendak tidur. Meski kadang guling sana, guling sini, sepertinya memang menunggu waktu saja Rama terlelap. Dengan niat supaya lebih cepat pules, saya nyanyiin lagu dari DVD
- Suka Komplain = Kurang Bersyukur atau Pejuang? “Kalau kamu itu tulisannya serius… dan suka komplain :D” Itu pendapat Latri soal gaya nulis saya di blog. Saya gak ingin berdebat soal itu. Meski kadang saya emang gak ngerasa gaya n
- Ayo Bebaskan Jakarta dari Macet! What You Can Do… Di tulisan sebelumnya, saya sedikit curhat kenapa Jakarta sulit diharapkan bebas dari macet. Tidak terasa keseriusan dari Pemda untuk membenahi kemacetan itu. That’s why. Tapi sebetulnya macet i

