March 6th, 2009

Kalau sekarang saya perhatikan, semakin hari semakin banyak saja pengguna jalan yang menyebalkan. Tidak hanya tidak menghargai pengguna jalan lain, mereka juga melanggar dan membahayakan. Tanpa memikirkan orang lain yang mungkin dirugikan. Misalkan seorang pengemudi menabrak kendaraan lain. Tentu seharusnya ia mengganti rugi kerusakan yang dibuatnya. Terkadang mereka ngotot gak mampu bayar. Kalaupun mau bayar, minta nanggung separo-separo.

Katakanlah kali ini yang nabrak sedikit lebih bertanggung jawab. Ia mau mengganti seluruh biaya perbaikan. Tapi meski kendaraan yang ditabrak bisa tampak seperti baru, toh sudah cacat. Diketok suaranya udah beda. Yang satu belum pake bedak dempulan, yang lainnya sudah. Belum bicara bagian yang gak sepenuhnya bisa seperti aslinya.

Belum lagi kalau kita bicara pihak yang ditabrak selama kendaraannya diperbaiki, gak bisa menggunakannya. Kalau mobilnya banyak sih bisa pake yang lain. Kalau enggak, mungkin harus berjuang naik angkutan umum atau mengeluarkan uang extra untuk taxi. Sukur kalau yang nabrak bisa ngasih mobil pengganti atau uang pengganti naik taxi. Ia naik ke jenjang berikutnya di level tanggung jawab.

Ini masih kasus yang ringan. Kita belum bicara soal korban jiwa atau yang ditabrak sampai luka parah atau cacat. Misalnya yang ditabrak dibayar harian, selama itu ia tidak dapat mencari nafkah. Kalau sampai yang ditabrak meninggal dunia, seumur hidup ia tidak lagi dapat mencari nafkah. Belum mempertimbangkan perasaan pihak yang ditinggalkan.

Hal-hal itu tidak mudah untuk dipertanggungjawabkan. Jika sudah membayar biaya perbaikan dan rumah sakit sudah merasa bertanggungjawab, mungkin perlu berpikir lagi lebih dalam. Tanggung jawab itu dimulai sejak kita memegang kemudi stir atau stang sepeda motor.

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Kebenaran itu Tidak Selalu Mutlak… Waktu membuat orang menjadi lebih bijak. Paling enggak begitu kata orang bijak. Meski saya ngerasa bukan orang bijak, tapi ada benarnya juga petuah itu. Paling enggak, menurut saya sekarang gak ada gu
  2. Hebohnya para Motivator “Heh, apa kabar lo?” Gitu sapaan yang saya dengar di lift. Sepertinya dia memang rada surprised liat temen yang lama gak keliatan. Rasa surprised itu tampak semakin bertambah waktu temanny
  3. Anak Kecil Itu… Si Ibu buru-buru naik ke bus dengan sedikit menyeret anaknya. Si anak menurut saja. Tidak bisa disalahkan. Bus kota di Jakarta memang tidak manusiawi. Wajar kalau si Ibu takut anaknya malah jatuh ka