Rama sudah terkantuk-kantuk hendak tidur. Meski kadang guling sana, guling sini, sepertinya memang menunggu waktu saja Rama terlelap. Dengan niat supaya lebih cepat pules, saya nyanyiin lagu dari DVD Barney…
I love you… You love me…
We are happy family…
With a great big hug and a kiss from me to you…
Won’t you say you love me too
Lagu ini selalu muncul di akhir episode, jadi si Rama cukup familiar dengan lagu ini. Hasilnya jauh dari harapan. Rama sontak duduk, menunjuk ke TV dan mengucap "Mimi… mimi…"
Kosa kata baru ini memang jadi kata penunjuk untuk semua hal buat dia. Tapi maksudnya tetap jelas… "Setelin Barney dong…"
Rama memang suka Barney. Biar baru 16 bulan, tapi sepertinya Rama cukup menikmati tontonan satu ini. Saya sering terpaksa ikut menonton. Lambat laun, saya mulai berpikir… mungkin tontonan seperti inilah yang membuat banyak orang tua yang mengajarkan anaknya bahasa Inggris sejak dini.
Dulu saya sebal kalau lihat anak kecil ngoceh dalam bahasa Inggris. Kadang pengasuhnya yang jadi korban, mesti ikut belajar conversation dalam bahasa ditakutinya (yang mungkin juga ditakuti banyak orang lainnya). Beberapa teman saya sengaja berlangganan TV kabel hanya supaya anaknya bisa nonton Baby TV atau sejenisnya. Pikiran ini mulai berubah.
Barney mungkin sepintas mirip si Komo. Tapi kualitasnya jelas jauh berbeda. Barney sebetulnya tidaklah rumit-rumit amat. Lagu-lagunya sederhana, kadang muncul lagi di episode lain. Namun Barney dan teman-temannya tampak betul-betul riang dan menikmati apa yang mereka lakukan. Gak wagu kaya si Komo atau si Unyil. Boneka juga, tapi tampak lincah dan hidup. Pengisi suaranya pun terdengar nyaman untuk anak kecil.
Kalau dilihat dari efek ya gak ada special FX seperti film Hollywood. Mainannya kadang tampak dibuat sendiri. Entah kenapa untuk hal yang seperti ini gak ada yang tergerak untuk membuatnya juga. Kak Seto dan si Komo? Please deh… Di Indonesia banyak kok orang yang kreatif. Jauh lebih baik dari peniru opera sabun yang memberi bandrol sinema elektronik biar keliatan lebih keren. Untuk menunjukkan tokoh antagonisnya marah saja bisa 5 menit sendiri. Melotot sambil mulut dimencong-mencongkan. Kamera perlahan ngezoom ke wajah tokoh yang makeup-nya tampak tidak wajar. Ayolah, seperti itu kah kualitas orang Indonesia? Lagu-lagu anak-anak yang ada juga gak jelas. Gak ada unsur pendidikannya. Duluuuuu, mungkin ya. Tapi sekarang? Sejak era Joshua, rasanya lagu-lagu anak-anak ya gitu… ngenes…
Saya mulai berpikir, mungkin memang untuk memperoleh kualitas pendidikan yang baik, bahasa Indonesia harus dikorbankan. Jadi bahasa kedua. Kalau si anak disuruh belajar 2 bahasa sekaligus kasihan juga. Mau berharap kualitas lokal diperbaiki, kok ya pemerintah seperti gak punya gigi.
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Bahasa Gaul yang Bikin Puyeng Orang Jadul “Tinta Bo’… harganya masih maharani banget… mending tunggu turun atau diskon.” Mungkin banyak yang paham dengan bahasa itu. Tapi rasanya lebih banyak yang puyeng dengern
- Emansipasi, Mampu, dan Image “Emang bisa ngurusin Rama sendirian?” Pertanyaan itu diajukan istri saya penuh keraguan. Ya, saya menawarkan diri untuk tinggal di rumah, sementara istri saya saja yang mengantarkan ortunya. Bukan ga
- Terjemahan (Terjun) Bebas Tulisan ini cukup menggelitik saya pagi ini. Kebetulan saya memang lagi bawa kendaraan, dan liat tulisan ini di kaca jendela ruang tunggu supir. Awalnya saya gak terlalu memperhatikan. Tapi agak tert

