April 21st, 2009

1088023_danger_signPagi ini untungnya saya denger di radio kalau jalan tol dalam kota macet. Ada kecelakaan trailer, truk, dan bus. Kebayang kalo kendaraan dengan bodi yang molegh-molegh seperti itu malang-melintang di jalan tol. Tanpa direcoki kecelakaan dahsyat itu saja, biasanya dah bikin tekanan darah naik beberapa bar. Akhirnya saya milih mutar lewat Mampang.

Kecelakaan itu merengut satu korban jiwa.

Hari ini pula saya membaca status Facebook dari seorang teman. Adiknya akhirnya meninggal dunia dalam kecelakaan di tol Cipularang. Inna lillahi wa ina illaihi rajiun…

Kecelakaan rasanya makin akrab saja dengan pengguna jalan di Indonesia. Rasanya miris melihat mudahnya dana digelontorkan untuk kampanye, ngasih ’sesajen’ biar proyek berjalan mulus, sampai rakyat yang diburu-buru untuk bayar pajak. Mulai dari kantor gaji sudah dipotong, pas nabung dipotong lagi, pas beli dipotong lagi… Tapi hasilnya gak keliatan.

Pembangunan masih dilihat dari bentuk fisik. Jalan baru, bus baru, jalur busway baru dll. Target? Kemacetan. Sepi rasanya yang penuh semangat membahas keamanan yang make jalan.

Selain rakyatnya yang susah diatur, Pemerintahnya juga gak peduli. Jalur lambat dibongkar, gantinya digarisin. Boro-boro garis, kerb aja diterjang. Motor naik ke trotoar sudah biasa, mobil pejabat nerjang bahu jalan petugas pura-pura gak liat. Yang punya motor gede serasa punya ilmu kebal… Lebaran jalanan mendadak seperti sirkus.

Buat apa lancar kalau keselamatan gak dijamin? Jalan tol bisa bolong segede gentong. Jalan di batas kecepatan maksimal kelempar-lempar….

Seperti kata Barney: "People in the car are up and down… up and down…"

Traffic management tidak hanya soal kemacetan… Entah kapan keselamatan jadi prioritas. Atau akan selamanya jalanan jadi seleksi alam… survival of the fittest…

Ilustrasi: stock.xchng.

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Senjata Tidak Membunuh Orang, Melainkan Pengemudi yang Ceroboh Guns don’t kill people, reckless drivers do. Itu kata-kata asli yang saya kutip untuk judul posting ini. Saya membacanya di stiker yang menempel di kaca belakang sebuah mobil. Pengingat yang men
  2. Anak Kecil Itu… Si Ibu buru-buru naik ke bus dengan sedikit menyeret anaknya. Si anak menurut saja. Tidak bisa disalahkan. Bus kota di Jakarta memang tidak manusiawi. Wajar kalau si Ibu takut anaknya malah jatuh ka
  3. Perusahaan Angkutan Setara Ojeg Perjalanan ke Subang sebetulnya mulus saja. Meski jalanan kecil, tapi tidak terlalu ramai. Yang cukup mengganggu cuma angkot yang berhenti sembarangan, motor yang ngotot ngambil jalur kanan… dan pal