Archive for May, 2009

Warga Pondok Indah, Korban Tata Ruang dan Media Massa

Thursday, May 28th, 2009

victimPondok Indah kembali jadi sorotan. Kali ini Pemda DKI kembali berkeinginan mengubek-ubek jalanan PI. Sebelumnya mengacak-acak jalan utama PI, sekarang hendak membuka portal dan mengijinkan through traffic lewat di kawasan pemukiman. Jalan lokal yang dipaksa jadi jalan arteri. Ini bertentangan dengan manajemen transportasi. Pemda yang mestinya mengatur tata guna lahan dengan baik, justru berusaha mencari solusi instan. Dan tentunya, kelak akan mewariskan masalah yang lebih besar bagi penerusnya. Tapi toh, untuk sementara masalah berkurang.

Tata guna lahan di Indonesia memang lucu. Kalau gak bisa dikatakan amburadul. Jalan perumahan yang harusnya jadi jalan lokal dibuka untuk arus yang mestinya ada di jalan arteri. Dan jalanan yang mestinya jadi jalan arteri, dijadikan area bisnis. Ruko dan mall tumbuh subur. Jangan heran Jakarta makin macet. Jalur lambat di Sudirman saja akhirnya sebagian jadi almarhum, demi proyek busway. Akhirnya jalur lambat yang semula berfungsi memisahkan arus kendaraan kelas lokal/kolektor jadi bercampur dengan arteri. Bukan cuma macet ujungnya, tapi juga safetynya jauh berkurang.

(more…)

3
Posted in Transportasi, rumpi |

Terjemahan (Terjun) Bebas

Wednesday, May 27th, 2009

hope

Tulisan ini cukup menggelitik saya pagi ini. Kebetulan saya memang lagi bawa kendaraan, dan liat tulisan ini di kaca jendela ruang tunggu supir. Awalnya saya gak terlalu memperhatikan. Tapi agak tertahan waktu melihat kata HOPED. Eh, apa ini?

The footwear hoped was released

Dicetak dengan font besar dan sepertinya dibuat bold. Ada beberapa detik saya tertahan dan berusaha memahami maksudnya. Waktu akhirnya saya menyerah dan membaca tulisan di bawahnya, saya pun gak tahan nyengir.

Ternyata maksudnya ‘alas kaki harap dilepas’. Mungkin ini korban software terjemahan otomatis. ‘Harap’ secara naif diterjemahkan menjadi hoped. Tapi rasanya ya belum pas juga. Hoped bukannya berharap?

Bukan sekali-dua terjemahan salah kaprah seperti ini muncul. Kadang kesalahan penulisannya cukup menggelikan. Entah apa alasan empunya bangunan untuk memasang bahasa Inggris lebih besar daripada bahasa Indonesianya. Seingat saya gak ada supir yang orang bule. Kalaupun ada bule yang nyetir sendiri, rasanya gak bakal nongkrong di ruang tunggu supir. Jadi pemakaian bahasa Inggris jelas gak berguna. Mungkin lebih berguna kalau pakai bahasa Jawa atau Sunda.

3
Posted in Hanya di Indonesia |

Beli Buku Disegel, Serasa Beli Buku dalam Karung…

Wednesday, May 27th, 2009

old_book

Dulu waktu di Semarang, jaman masih jadi mahasiswa kere, baca buku baru di toko buku kadang saya lakukan. Urusan beli soal nanti. Mungkin beli satu-dua buku buat kuliah, tapi ada buku gratisan yang bisa dibaca. Ajaran sepupu saya. Dulu nongkrong di mall atau ngelosor di daerah wifi gratisan belum jadi mainan mahasiswa. Sekarang meski masih kere, tapi bacaan gratisannya sudah lain: blog dan situs berita. Tapi itu cerita nanti. Kadang terpikir juga, kalau buku-bukunya bisa dibaca gratis, apa nanti ada yang mau beli?

Sebetulnya beli buku gak melulu soal harga. Dulu persewaan buku sempat marak, setidaknya jaman saya masih SMP, saya sering menyewa buku komik silat lokal. Pas kuliah, saya juga sempat lihat ada persewaan buku yang lebih populer dengan komik Jepang seperti City hunter, Kungfu Boy, atau Dragon Ball. Nyewa buku toh jauh lebih murah. Tapi toh buku tetap laris manis buat dibeli.

(more…)

1
Posted in rumpi |