Baru-baru ini pemerintah DKI mulai meluncurkan ’wacana baru tapi lama’ : pembatasan kendaraan dengan pelat nomer. Sudah banyak jurus yang sudah dilancarkan Pemda DKI. Mulai dari 3 in 1, busway, larangan parkir, jam sekolah dan jam kerja, sampai monorail dan subway yang masih diangan-angan. Tapi tidak ada yang berhasil, meski waktu pemilihan gubernur, jurus sakti yang dilontarkan adalah ’serahkan saja pada ahlinya. Bahkan ahlinya tampak tidak berdaya menghadapi kemacetan Jakarta.
Bagi saya, semua kebjiakan itu memang tampak tidak terarah. Sulit membayangkan pelaksanaan 3 in 1 bisa sukses kalau angkutan umum masih sangat buruk. Tidak ada pembagian zona yang jelas untuk tata ruang. Fungsi jalan tidak dihiraukan. Busway yang digadang-gadangkan sebagai penyelamat justru makin terpuruk. Jalanan dan haltenya jadi hiasan belaka, seperti tiang monorail.
Saya bermaksud membagi tulisan ini menjadi dua bagian. Pertama, kenapa kita tidak bisa mengharapkan Pemda mampu mengatasi kemacetan dalam waktu dekat. Dan kedua, apa yang bisa anda lakukan untuk membantu mengurangi kemacetan Jakarta. Toh, ini buat kita juga. Dan kalau kita bisa membantu, kenapa tidak?
Coba kita defenisikan, penyebab macet itu apa sih?
Kemacetan muncul karena tingginya volume kendaraan pada suatu ruas jalan pada saat yang bersamaan, sehingga kapasitas ruas jalan itu tidak lagi dapat menampungnya.
Saya tidak tahu persis sumber itu diambil dari mana. Tapi dosen saya yang menjabarkannya seperti itu. Dan bagi saya, memang itu yang paling masuk akal sampai sekarang. Ada beberapa elemen yang bikin macet: volume kendaraan, pada jalan yang sama, waktu yang sama, dan kapasitas jalan. Semua saling mempengaruhi, dan gak bisa diselesaikan secara sebagian saja.
Volume kendaraan jelas. Banyaknya kendaraan yang lewat persatuan waktu. Ruas jalan yang sama jelas. Mayoritas orang menuju ke kuningan, Sudirman, Thamrin, dan sekitarnya. Pada satu waktu juga. Semua berangkat dalam waktu yang hampir bersamaan kan? Kapasitas jalan, ya kemampuan jalan itu melewatkan kendaraan dalam satu satuan waktu.
Nah sebetulnya sih apa yang dilakukan Pemda itu sudah terbukti berhasil di tempat lain. Jadi gak salah-salah amat. Cuma kesannya sekedar nyontek dan berharap bisa berhasil. Misalnya kebijakan jam sekolah itu. Itu dikenal sebagai teknik ’peak spreading’. Penyebaran waktu puncak. Maksudnya biar gak semua orang berangkat bareng dan tumplek bleg di jalan. Tapi kenyataannya banyak orang tua yang gak percaya dengan pelayanan angkutan umum di Jakarta, dan memilih mengantarkan anaknya. Akhirnya orang tua berangkat lebih pagi, habis nganter, ngelencer dulu muter-muter. Jadinya ya gak nolong juga. Gak bisa satu solusi saja.
Pernah naik bus? Saya sering. Sering kali bus itu ngetem cukup lama untuk ngedapetin penumpang. Kawasan UKI sering macet karena bus-bus gede ngetem atau jalan dilambat-lambatin. Padahal digadang-gadangkan Jakarta kekurangan bus. Toh ada armada bus yang bangkrut, padahal katanya bus kurang, penumpang banyak. Secara teori ekonomi kok gak masuk akal ya. Serunya, langsung diputuskan untuk membuat busway. Kendaraan umum memang jadi solusi untuk mengatasi kemacetan. Kalau rata-rata di Indonesia, yang naik mobil itu paling 2-3 orang permobil. Padahal bus bisa sampai 80 orang (klo di sini sih lebih). Bayangkan space yang bisa dihemat. Masalahnya, apa iya kita butuh lebih banyak bus? Dan kenapa sepertinya insentif atau subsidi untuk kendaraan umum sulit sekali diberikan?
Seperti yang saya sebutkan, bus sering ngetem. Seringkali bus dan angkutan umum lain jadi biang macet. Ironis, padahal mestinya ngebantu mengatasinya. Ngatasin yang ada aja gak bisa, mau ditambah bus lagi? Nanti dulu.
Sedih juga ingat jalan Sudirman diacak-acak demi busway. Jalur lambat dibongkar. Padahal itu juga berguna untuk memisahkan arus lokal dengan arus ’through traffic’. Akhirnya alih-alih membantu kemacetan, malah bikin tambah parah. Seperti gak ada rencana sama sekali.
Alasan yang sering dikemukakan, panjang ruas jalan tidak sebanding dengan volume kendaraan yang ada. Ngeles. Satuan panjang apa? m atau km. Volume apa? kendaraan per jam. Jadinya kok Jaka Sembung ya… km kok dibandingkan dengan kend/jam.
Teori itu sudah ketinggalan. Mungkin 30 tahun kadaluarsa. Analogikan dengan selang air. Kita bisa mengisi kolam dalam waktu yang sama, meski selangnya panjang 1 meter atau 10 meter. Entah kapan mereka akan menganut teori baru.
Seandainya saja jalanan di Jakarta bebas dari lubang dan berbagai halangan lain seperti banjir, kemacetan Jakarta bisa berkurang secara signifikan! Belum lagi hal-hal seperti itu bisa membahayakan dan merugikan pengguna jalan.
Yang juga jelas terlihat, law enforcement. Penegakan hukum di jalanan basa-basi dan tidak konsisten.
Karena itu saya berani menilai, Jakarta gak akan bebas macet dalam beberapa waktu ke depan. Makin macet malah sangat mungkin. Tapi rasanya gak adil juga kalau kita sekedar menyalahkan Pemda yang gak mampu mengatasi macet. Toh kita yang make jalan. Kita yang membebani jalanan sampe macet. Mestinya kita cukup tau diri untuk gak bikin macet makin parah.
Mudah-mudahan bisa saya teruskan di tulisan berikutnya :)
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Ayo Bebaskan Jakarta dari Macet! What You Can Do… Di tulisan sebelumnya, saya sedikit curhat kenapa Jakarta sulit diharapkan bebas dari macet. Tidak terasa keseriusan dari Pemda untuk membenahi kemacetan itu. That’s why. Tapi sebetulnya macet i
- Suara Alam Hujan di Jakarta mungkin banyak bikin orang darah tinggi, terutama kalau sore hari. Bukan hujannya yang bikin masalah. Tapi banjir yang diikuti kemacetan yang menghantui. Dua masalah ini memang susah
- Masuk Sekolah Lebih Pagi untuk Mengurangi Kemacetan Jakarta Sudah seminggu ini anak sekolah masuk lebih pagi. Jam 6.30. Bagi sebagian orang mungkin tidak masalah. Namun sebagian lainnya mengecam dan mengeluh. Ada yang merasa tambah macet, ada yang harus berang


kendaraan umum yang ngetem sembarangan itu… itu besar banget kontribusinya pada kemacetan.
coba kalau mereka tertib ngetem di pemberhentian yang disediakan. dan para penumpangnya mau jalan kaki sedikit, itung2 buat olahraga…
Memang. Makanya aku tuh dari dulu gak setuju adanya busway. Kendaraan umum ngetem kan artinya masih nyari penumpang, artinya jumlahnya gak kurang-kurang amat. Manajemennya yang amburadul. Ngurusin yang ada aja gak bisa, mau nambah angkutan? Makanya ‘volume kendaraan’ terus nambah…
kita semua ngga bisa nyalahin kendaraan umum, mobil pribadi or apalah yang ada di jalan……, semua kan ada sebeb ada akibat…., kenapa angkot, atau bis berhenti ngetem?, karena ada yang mau naik…., kenapa semua jadi keliatan serabutan ga jelas?, karena supir juga butuh uang untuk setoran dan keluarganya, ini masalah kompleks bung dan mbak, kayanya system transportasi yang harus berubah, semua juga mencakup aspek ekonomi. kenapa angkot tambah banyak yang ngetem??, karena banyak yang ehilangan pekerjaan trus narik angkot deh. kenapa kita ga pernah tanya, kenapa mobil pribadi tambah banyak??
kita semua ngga bisa nyalahin kendaraan umum, mobil pribadi or apalah yang ada di jalan……, semua kan ada sebeb ada akibat…., kenapa angkot, atau bis berhenti ngetem?, karena ada yang mau naik…., kenapa semua jadi keliatan serabutan ga jelas?, karena supir juga butuh uang untuk setoran dan keluarganya, ini masalah kompleks bung dan mbak, kayanya system transportasi yang harus berubah, semua juga mencakup aspek ekonomi. kenapa angkot tambah banyak yang ngetem??, karena banyak yang ehilangan pekerjaan trus narik angkot deh. kenapa kita ga pernah tanya, kenapa mobil pribadi tambah banyak??
@Rereph: kalau cuma saling menyalahkan memang gak ada gunanya :)