
Dulu waktu di Semarang, jaman masih jadi mahasiswa kere, baca buku baru di toko buku kadang saya lakukan. Urusan beli soal nanti. Mungkin beli satu-dua buku buat kuliah, tapi ada buku gratisan yang bisa dibaca. Ajaran sepupu saya. Dulu nongkrong di mall atau ngelosor di daerah wifi gratisan belum jadi mainan mahasiswa. Sekarang meski masih kere, tapi bacaan gratisannya sudah lain: blog dan situs berita. Tapi itu cerita nanti. Kadang terpikir juga, kalau buku-bukunya bisa dibaca gratis, apa nanti ada yang mau beli?
Sebetulnya beli buku gak melulu soal harga. Dulu persewaan buku sempat marak, setidaknya jaman saya masih SMP, saya sering menyewa buku komik silat lokal. Pas kuliah, saya juga sempat lihat ada persewaan buku yang lebih populer dengan komik Jepang seperti City hunter, Kungfu Boy, atau Dragon Ball. Nyewa buku toh jauh lebih murah. Tapi toh buku tetap laris manis buat dibeli.
Beli buku memang lebih nyaman. Buku bisa dibaca kapan saja, tanpa batas waktu tertentu. Mungkin hanya dibaca beberapa halaman setiap pagi sewaktu di shuttle bus. Atau saya pernah lihat ada yang membacanya sambil menghabiskan rokoknya di smoking area. Buku juga bisa jadi koleksi, meski mungkin hanya akan dibaca sekali. Intinya, kalau buku itu layak dibeli, ya rasanya tetap akan dibeli.
Buku apa yang layak dibeli? Kadang saya merujuk ke penulisnya. Dulu hampir semua buku Shidney Sheldon saya beli. Michael Crichton saya juga suka. Saya beli karena saya pernah baca karya mereka yang menurut saya cocok dengan selera saya. Ada juga yang saya beli karena memang lagi ngehits. Seperti buku Da Vinci Code. Ini bicara soal buku fiksi.
Untuk buku non-fiksi, saya tentu nyari buku yang isinya saya butuhkan. Cukup banyak pengalaman buruk waktu membeli buku non-fiksi. Isinya gak seheboh judulnya. Karena itu penting juga bagi saya membaca sinopsis atau kalau ada daftar isinya. Tapi yang menyebalkan, banyak toko buku yang menyegel buku-buku yang dijualnya. Untuk sample saja tidak ada. Seringkali saya membatalkan beli buku karena gak yakin dengan isinya. Review? Wah, review kadang sulit dipercaya. Apalagi kalau yang mereview masih dari grup penerbit yang sama.
Buku, mestinya harus tau dulu isinya seperti apa. Baru saya mau beli. Di Navinot, disebutkan beberapa alasan kenapa buku itu mungkin disegel. Bagi saya alasan-alasan itu benar adanya, tapi tetap tidak masuk akal.
Bagi yang berkantong cekak, menyewa buku bisa jadi pilihan. Sementara bagi yang berkantong cukup tebal, jika mereka suka akan tetap membelinya. Bukan diskriminasi. Tapi kalau kasarnya ‘lo gak punya duit, gak usah baca-baca deh’ jadi gak masuk akal.
Untuk teaser, rasanya lebih tidak masuk akal lagi. Seperti yang saya katakan, saya akan beli buku tanpa perlu tahu isinya kalau sudah tau reputasi penulis atau buku itu. Kalau saya punya budget untuk satu buku, ada dua pilihan –keduanya tertutup– saya akan ambil berdasarkan recordnya. Kalau penulis yang saya gak tau, dan bukunya gak kedengaran, pasti akan saya lewati. It works for some, but not for others.
Ada satu alasan yang mungkin paling mengena: limited edition atau mahal harganya. Tapi saya jarang melihat ada buku semacam ini. Kalaupun ada, pastinya reputasinya cukup baik. Artinya cukup dikenal dan termasuk dalam kategori ’some’ sebelumnya.
Bagi saya, menyegel buku bukan cara menjual yang baik. Paling tidak sediakan satu unit untuk diremek-remek pengunjung dan dilihat isinya. Tidak pede kalau buku itu bakal dibeli setelah dibaca? Kenapa masih memenuhi rak buku dengan buku seperti itu? Rasanya bukan citra yang bagus juga untuk toko buku yang menjual ‘kucing dalam karung’. (Di tulisan tersebut juga ada yang menyebutkan jaringan toko buku besar yang sudah melakukan strategi ini). Bahkan jika beli buku secara online, saya sering menemukan ada sampel beberapa halaman dari isi buku itu + daftar isi.
Sekarang, mana yang lebih menguntungkan? Saya mencoba melakukan sedikit survey dan menemukan tulisan ini. Empunya blog membandingkan toko buku Borders dan Kinokuniya di Singapura. Borders menerapkan strategi buku terbuka, dan Kinokuniya sebaliknya: tertutup. Mana yang lebih sukses? Borders pernah menjadi toko paling menguntungkan/sq feet di dunia! Artinya keuntungan dari luas tokonya per-sq feet lebih besar dari toko mana pun di dunia. Menariknya, adanya kenyataan bahwa toko-toko buku itu mengambil keuntungan yang cukup besar. Di Indonesia rasanya tidak sebesar itu untuk buku lokal. Tapi saya yakin masih cukup besar. Apalagi toko buku besar yang bisa mengambil langsung ke penerbit.
Tulisan ini juga dibuat untuk mendiskusikan tulisan Buku Tertutup atau Terbuka untuk ikut serta dalam Kontes Berpikir Kritis 2009.
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Buku Manual Bukan Pajangan Kemarin saya, istri dan Rama beli mainan di Ambassador. Maunya sih mainan multi fungsi. Buat si Rama belajar jalan, sebagai dorongan. Buat dinaikin, dan didorong-dorong Bapaknya. Atau buat mainan lain
- Masuk Sekolah Lebih Pagi untuk Mengurangi Kemacetan Jakarta Sudah seminggu ini anak sekolah masuk lebih pagi. Jam 6.30. Bagi sebagian orang mungkin tidak masalah. Namun sebagian lainnya mengecam dan mengeluh. Ada yang merasa tambah macet, ada yang harus berang
- Suka Komplain = Kurang Bersyukur atau Pejuang? “Kalau kamu itu tulisannya serius… dan suka komplain :D” Itu pendapat Latri soal gaya nulis saya di blog. Saya gak ingin berdebat soal itu. Meski kadang saya emang gak ngerasa gaya n


D3e1dC icivurfyqniy, [url=http://fyohkdkaqwvv.com/]fyohkdkaqwvv[/url], [link=http://nqoymxtoxzzv.com/]nqoymxtoxzzv[/link], http://uuhijqghyaiq.com/