May 4th, 2009

1174432_engagementAnda pernah menghadiri pesta pernikahan orang Amerika? Saya tidak. Tapi seandainya yang di film-film itu menggambarkan suasana pesta mereka secara benar, saya rasa saya cukup punya gambaran.

Pesta pernikahan wong londo itu gak seperti di sini. Betul-betul pesta, dan pengantin pun terlibat. Yang diundang hanya keluarga dekat, yang juga mengikuti acara dari awal sampai akhir. Mulai dari yang resmi sampai dansa-dansi. Semua undangan bisa duduk dan mengikuti semua prosesi dengan nyaman. Bisa berbincang-bincang dengan pengantin, tidak hanya sewaktu salaman saja. Acara yang terbilang akrab.

Menurut saya, acara yang cukup nyaman untuk diikuti. Apakah anda sudah pernah menikah? Atau setidaknya pernah datang ke resepsi pernikahan teman dekat anda? Atau malah ada rencana nikah lagi? Mungkin kita bisa diskusi soal resepsi ini.

Saya gak tau gimana dulu resepsi pernikahan di jaman kerajaan dulu. Apakah juga seperti sekarang. Coba kita runut dari undangan. Ada yang cukup kurang ajar dengan menuliskan agar kado tidak berupa barang. Mungkin kelak kartu flash, debit atau kartu kredit bisa digunakan untuk datang ke kondangan. Lah, ini resepsi pernikahan atau resto ’all you can eat’? No hurt feeling :)

Datang ke kondangan, kita disambut para penerima tamu. Dikasih cendera mata yang diharapkan sebagai pengingat bahwa anda pernah datang ke acara sang pengantin. Ukuran cendera mata sendiri kadang merepotkan kita yang datang, dibawa kemana-mana repot, akhirnya ditinggal saja di meja atau di bawah bangku. Barangnya sendiri kadang tidak bisa dimanfaatkan, atau berumur pendek.

767401_buffet

Bagi yang datang cukup awal mungkin cukup beruntung menyaksikan prosesi adat acara resepsi itu. Atau anda malah menyesal datang terlalu cepat? Kadang memang tak banyak yang bisa dilihat. Para tamu harus berdiri berjubelan seperti di pasar malam.

Setelah selesai, para tamu bisa mulai mengucapkan selamat pada pengantin yang berbahagia. Yang enggan menunggu terlalu lama, bisa mulai cicip-cicip makanan dulu. Makan sendiri bisa bikin repot. Bayangkan, kita harus makan besar dalam posisi berdiri, dan rapat dengan tamu lainnya. Gak tau juga kenapa garpu selalu disediakan. Padahal kalau tangan yang satu megang piring, otomatis satunya cuma cukup megang sendok. Tempat duduk jadi barang mewah, itupun tanpa meja.

Katanya sih gaya ini meniru ’standing party’. Padahal kalau kita lihat standing party yang beneran, biasanya acara santai. Orang bisa sambil berdiri ngobrol, mungkin sambil megang minuman. Sesekali mencaplok makanan yang dibawa oleh pelayan yang terus mutar. Makanan yang disediakan cukup sekali gigit. Tidak harus dibawa dalam piring kemana-mana.

Intinya, sesudah salaman, lalu apa? Anda langsung pulang pun sebetulnya sudah menunaikan kewajiban sebagai pihak yang diundang. Kalau acara ini diikuti teman-teman lama anda, mungkin anda bisa sekalian reunian. Hitung-hitung ngasih selamat pengantin, sekalian reuni.

911662_all_a_blur_3

Gimana pengantinnya sendiri? Harus rela berdiri terus di pelaminan. Salaman dengan ribuan tamu, yang mungkin bahkan separonya saja gak kenal. Kalau banyak teman lama yang asik ketawa-ketiwi di bawah, hanya bisa memandang iri. Bahkan di acaranya sendiri, mereka merasa terkucil. Lalu apa artinya acara ini bagi mereka?

Saya gak tau. Mungkin acara resepsi di Indonesia lebih bersifat woro-woro atau pengumuman pada semua yang mereka kenal. Mungkin, biar jangan ada gosip kalau kelak si A punya anak, padahal gak pernah ngundang kawinan. Tapi bukan pesta perayaan beneran.

Mungkin saja suatu saat kelak acara resepsi seperti ini berubah. Toh, ini bukan yang pertama kita menyontoh budaya luar. Mungkin kelak, undangan cukup 100-200 orang. Sisanya cukup diberitahu via email, facebook, atau diumumkan di koran. Toh, sudah ada beberapa teman saya yang enggan mengadakan acara seperti ini.

"Serasa ngasih makan orang sekecamatan!" Gitu keluh teman saya. Mungkin kalau anaknya kelak menikah, ia akan membuat acara yang hanya diikuti keluarga dekat. Sekarang? Ia tidak punya kuasa menolak keinginan orang tuanya.

Kalau anda sendiri pengennya acara resepsi seperti apa?

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Menggunakan Domain Sendiri, Sekedar Commitment Fee Ngeblog di domain sendiri punya banyak alasan. Ada yang biar keliatan keren, ada yang menganggapnya sebagai investasi, ada yang ingin membuatnya jadi lebih professional, dan sebagainya. Bl
  2. Telpon Seluler atau…? Sebetulnya masalah ini sudah muncul sejak pertama kali ponsel keluar. Tapi rasanya semakin hot belakangan ini. Pertanyaan pendek saja: sejak anda punya ponsel yang sekarang, berapa lama anda gunaka
  3. Bahasa Gaul yang Bikin Puyeng Orang Jadul “Tinta Bo’… harganya masih maharani banget… mending tunggu turun atau diskon.” Mungkin banyak yang paham dengan bahasa itu. Tapi rasanya lebih banyak yang puyeng dengern

Tags: , ,