May 28th, 2009

victimPondok Indah kembali jadi sorotan. Kali ini Pemda DKI kembali berkeinginan mengubek-ubek jalanan PI. Sebelumnya mengacak-acak jalan utama PI, sekarang hendak membuka portal dan mengijinkan through traffic lewat di kawasan pemukiman. Jalan lokal yang dipaksa jadi jalan arteri. Ini bertentangan dengan manajemen transportasi. Pemda yang mestinya mengatur tata guna lahan dengan baik, justru berusaha mencari solusi instan. Dan tentunya, kelak akan mewariskan masalah yang lebih besar bagi penerusnya. Tapi toh, untuk sementara masalah berkurang.

Tata guna lahan di Indonesia memang lucu. Kalau gak bisa dikatakan amburadul. Jalan perumahan yang harusnya jadi jalan lokal dibuka untuk arus yang mestinya ada di jalan arteri. Dan jalanan yang mestinya jadi jalan arteri, dijadikan area bisnis. Ruko dan mall tumbuh subur. Jangan heran Jakarta makin macet. Jalur lambat di Sudirman saja akhirnya sebagian jadi almarhum, demi proyek busway. Akhirnya jalur lambat yang semula berfungsi memisahkan arus kendaraan kelas lokal/kolektor jadi bercampur dengan arteri. Bukan cuma macet ujungnya, tapi juga safetynya jauh berkurang.

Konon, kawasan PI dulunya adalah kawasan pemukiman. Dan diubah berkembang jadi kawasan seperti sekarang. Jadi jalur arteri yang menghubungkan Lebak Bulus sampai ke Daan Mogot. Mall PI akhirnya jadi salah satu yang terpopuler.

Beberapa waktu yang lalu saya juga baru membeli rumah. Saya sengaja membeli di cluster, dengan alasan kenyamanan dan keamanan. Sesudah bekerja 5 hari seminggu, menurut saya akan menyenangkan kalau bisa bermain dengan putra saya di luar rumah. Sekedar membiarkan ia berlari-lari atau mungkin kalau kakinya sudah cukup panjang, memainkan gokartnya. Ini dimungkinkan hanya kalau saya membeli di kawasan tertutup. Dengan kendaraan yang lewat dibatasi. Keamanan, meski mungkin sifatnya semu, pasti jadi satu pertimbangan saat membeli rumah. Siapa yang mau kehilangan barang terus? Apalagi kalau yang mampir rampok…

Saya pikir saya juga akan kesal kalau kelak, jalan di depan rumah saya jadi jalan bagi para komuter. Yang sering srudak-sruduk, menaikkan kendaraan ke trotoar, parkir sembarangan, dan gak memperdulikan pejalan kaki. Semua alasan kenapa saya memilih rumah di sana jadi hilang. Saya pikir keberatan mereka beralasan. Toh memang seharusnya jalan lokal tidak dijadikan jalanan umum. Kalau anda pernah mudik membawa kendaraan sendiri mungkin tau juga, banyak ‘jalan alternatif’ yang ditawarkan untuk menghindari kemacetan. Tidak jarang jalan itu jalan kampung yang aspalnya masih kasar dan harus pelan-pelan saat berpapasan dengan mobil lain. Pastinya itu bukan jalan antar kota. Lucunya, pasar yang harusnya gak ada di jalan utama, malah bisa meluber sampai tumpah ke jalanan.

Mereka sebetulnya korban dari desain tata ruang yang amburadul. Mereka korban, tapi media massa memojokkan mereka seolah-olah mereka yang gak mau diatur. Lihat saja judul media, ‘perumahan mewah’ selalu disebut. Sebetulnya biar bukan pemilik rumah mewah, mereka juga berhak untuk merasa keberatan kan? Yang lebih baru, TEMPOinteraktif menyebutkan para jenderal yang tinggal di sana yang keberatan. Ada rasa bahwa media satu ini mencibir para jenderal yang menggunakan alasan keamanan sebagai penolakan. Keamanan, toh tidak hanya soal rampok. Mungkin mereka khawatir keluarga mereka celaka karena para pengguna jalan itu. Yang sudah dikasih hak pakai, tapi sering tak tau diri. Lagipula, sekali lagi, saya rasa mereka berhak untuk keberatan. Toh diartikel itu juga ditulis kalau mereka keberatan, tapi kalau Pemda ngotot ya mereka mau terima. Judul tulisan itu, seolah memvonis para jenderal sebagai pihak yang sok kuasa dan tak tau diri.

Terus-terang saya sering geram dengan tulisan di media. Seperti kata semboyan media ‘there’s no news like bad news’. Kalau gak ada berita buruk, seolah mereka menciptakan sendiri. Di milis fans Arsenal, banyak teman-teman yang sudah cuek membaca artikel dari media Inggris. Media Inggris memang terkenal sering menulis hal-hal heboh yang sebetulnya tidak benar. Entah karangan atau asal comot dari sumber yang tidak dipercaya. Parahnya, Detiksport sering menyadur berita dari mereka, dan terjemahannya (terjun) bebas. Biasanya sesudah re-check dari sumber aslinya, beritanya tidak seburuk itu.

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Mbah Surip, Nurdin M Top, Manohara, dan Tari Pendet di Mata Media Kita Sebetulnya saya ingin posting soal ini sudah cukup lama. Waktu mbah Surip berpulang. Menurut saya ironis, disaat sedang di puncak, beliau berpulang. Tapi melihat banyaknya posting dan berita soal be
  2. Nyantol Listrik tanpa Ijin, Bisa Dipidanakan gak sih? Weekend ini cukup mengesalkan saya. Hari Minggu saya datang mengontrol rumah yang sudah diserahterimakan oleh developer sejak tanggal 11 Mei lalu. Setelah lihat sana-sini sambil membayangkan rencana p
  3. Ayo Bebaskan Jakarta dari Macet! What You Can Do… Di tulisan sebelumnya, saya sedikit curhat kenapa Jakarta sulit diharapkan bebas dari macet. Tidak terasa keseriusan dari Pemda untuk membenahi kemacetan itu. That’s why. Tapi sebetulnya macet i

3 Responses to “Warga Pondok Indah, Korban Tata Ruang dan Media Massa”

  1. latree says:

    iya, gambarnya. asik (loh?)