“Emang bisa ngurusin Rama sendirian?”
Pertanyaan itu diajukan istri saya penuh keraguan. Ya, saya menawarkan diri untuk tinggal di rumah, sementara istri saya saja yang mengantarkan ortunya. Bukan gak mau, sehari sebelumnya saya juga sudah seharian pergi membantu ibu saya membersihkan rumah yang baru di renovasi. Capek.
Pengennya sih di rumah sama Rama. Tapi saya pikir kalau mau dibawa ya gpp. Toh jamak kalau para sesepuh berkumpul ingin memamerkan anak-cucu. Ternyata kata istri saya acaranya bakal lama, kasihan Rama kalau ikut.
Tanpa panjang lebar, akhirnya saya jadi juga di rumah bersama Rama. Berdua saja. Lumayan, sempat main lumayan heboh, nyuapin Rama, dan membersihkannya waktu poop. Menurut saya lumayan. I did OK. At least he still in one piece.
Kenapa seorang ibu ragu ‘melepaskan’ anaknya dengan bapaknya? Image. Bapak tidak lekat dengan image mengurusi anak. Agak aneh, karena biasanya perempuan yang menuntut persamaan agar diakui sejajar dengan laki-laki :)
Image memang segalanya. Terutama untuk kesan pertama. Mungkin seorang laki-laki akan memandang khawatir ke perempuan yang mau meminjam mobilnya. Perempuan sering dianggap gak mampu mengemudikan mobil dengan baik. Apalagi kalau mau merawat mobil. Sekedar ingat jadwal rutin ke bengkel saja susah. Apalagi sampai ngolong membersihkan dan memeriksa mobil.
Oh ya, ada yang lucu dengan urusan perempuan dan mobil ini. Dulu saya pernah mengantarkan teman membeli mobil 2nd. Sepertinya yang jual ini perantara. Sampai berbusa-busa mulutnya bilang mobilnya masih bagus dan OK, karena pemilik sebelumnya perempuan! Padahal saya jarang menemukan perempuan yang telaten merawat mobilnya. Kalau urusan tetek-bengek lain mungkin ya, tapi mobil? Bagi saya, itu bukan nilai tambah!
Jadi saya pikir sebetulnya perempuan gak perlu terlalu rewel soal persamaan hak ini. Bahasa kerennya emansipasi. Ada hal-hal yang mereka memang lebih baik, dan ada yang mereka memang lebih buruk. Dan mereka juga sering merasa laki-laki gak mampu dalam ‘urusan perempuan’ kan? Laki-lakidulu dianggap aneh dan gak biasa kalau bilang bisa masak. Toh kenyataannya sekarang, banyak chef terkenal yang laki-laki, melebih chef perempuan.
Tapi ini bukan soal persamaan hak antar gender. Bukan hanya urusan laki-perempuan aja kita percaya-gak percaya. Sederet gelar misalnya. Masih dianggap ampuh untuk dipajang di spanduk caleg. Para capres, lagi sibuk-sibuknya membentuk image dengan materi kampanyenya. Dulu pernah ada orang kaya nyentrik yang ditolak masuk ke hotel gara-gara pake celana pendek. Anehnya bule yang melakukan itu dianggap lazim. Kalau pribumi mungkin dianggap orang gak mampu.
Saya sendiri gak terlalu mementingkan image. Bagi saya yang penting nyaman. Tapi tentu saya gak akan datang ke pesta kawinan dengan baju tidur yang robek sana-sini. Makin belel, makin enak buat dipakai tidur. Tapi kalau dipakai kawinan, namanya gak menghormati yang punya gawe.
Kalau anda sendiri, mementingkan image atau tidak? Punya pengalaman seru soal image ini?
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Seperti Lingkaran Setan Ilustrasi: www.wikimu.com Sejak lebaran kemarin, serumah kondisinya gak ada yang sehat. Pertama sekali ibunya Rama kena radang tenggorakan. Dan Rama yang juga excited ketemu banyak fans di rumah Yang
- Seksi itu Seperti Apa sih? Status Y!M itu lucu juga. Kata teman saya yang satu ini, dia pengen seseksi salah satu artis taun 80-an. Saya gak tau apa banyak yang nge-buzz dia karena status itu, tapi saya tertarik untuk menangg
- Buku Manual Bukan Pajangan Kemarin saya, istri dan Rama beli mainan di Ambassador. Maunya sih mainan multi fungsi. Buat si Rama belajar jalan, sebagai dorongan. Buat dinaikin, dan didorong-dorong Bapaknya. Atau buat mainan lain


hm… itu most women. I’m no ordinary woman. aku percaya laki2 bisa masak, bahkan lebih jago. laki2 bisa kerjakan pekerjaan perempuan, tapi caranya beda. yang merasa ngga cocok itu-lah yang nganggepnya ga bisa.
dan aku setuju, most women ga urusan soal kendaraan. kalo aku pegang kendaraan pun, perawatannya pasti sebatas nyuci. soal mesin dan kolong… tolong ya pak :D