June 22nd, 2009

bendera “Ah, kalau saya sih tetep milih beli di Pertamina. Kita untung, bangsa untung!”

Kata teman saya ini dengan penuh nasionalisme. Itu tanggapannya waktu saya bilang di Shell ternyata bbm sekelas pertamaxnya lebih murah. Saya sih diam saja, meski saya gak setuju dengan anggapan seperti itu. Buat saya, kalau harga lebih murah dengan kualitas sama (atau malah lebih bagus?) kenapa enggak? :D Tapi iklan itu sepertinya cukup mengena, dengan menyentuh sisi nasionalisme yang mendengarnya.

Lagipula saya pikir adanya spbu asing itu menguntungkan buat kita kok. Sekarang spbu pertamina jadi lebih manusiawi dan ukurannya lebih teliti. Pelayanan mereka jadi lebih baik sebelum merasa tersaingi gempuran spbu asing. Lagipula adanya usaha seperti itu toh juga mendatangkan pemasukan pajak, lalu memberikan lapangan kerja baru. Toh Petronas juga bekerja sama dengan Pertamina untuk supply BBM. Saya pikir ada keuntungan juga yang diterima bangsa ini. Toh, sekarang juga banyak perusahaan pelat merah yang sahamnya juga dimiliki asing? – ini bukan ngomongin politik lho! -

Nah, coba kita susuri lebih jauh. Peminum bbm yaitu mobil dan motor harganya jauh di atas harga bbm. Ada yang beberapa tahun sekali ganti, ada yang punya sampai beberapa, termasuk yang harganya ratusan juta. Itu produksi siapa? Mayoritas Jepang dan negara-negara eropa. Uangnya akan terbang ke negara mereka. Rasanya gak pantas kalau kita bicara beli bbm dari BUMN berarti kita nasionalis.

Coba kita lihat kehidupan para petinggi bangsa ini. Para anggota dewan yang terhormat. Sering kita lihat mereka berjalan-jalan studi banding ke luar negri. Tentunya mendapat uang saku. Uang saku yang diberikan dari uang negara digunakan untuk apa? Seringkali untuk belanja oleh-oleh. Uang negara itu akhirnya mengalir ke luar lagi. Oh jangan salah sangka. Itu bukan hal yang salah untuk dilakukan. Itu hak mereka. Sedikit tanda untuk keluarga dan teman setelah bepergian jauh tentu tidak salah. Nilainya juga mungkin kecil dan tidak seberapa. Tapi rasanya ironis kalau kita ingat, sebagian besar uang yang mengalir kembali ke Indonesia adalah hasil keringat para TKI.

Terlepas dari berbagai hal lainnya, satu yang membuat saya terkesan dengan figur Suharto… ia jarang berlibur ke luar negri. Mungkin saya salah. Tapi seingat saya lebih sering ia memuaskan hobi mancingnya atau berlibur di tempat wisata di Indonesia. Sewaktu ia sakit keras, sampai berpulang ia tidak pernah berobat ke luar negri. Hal sepele memang.

Yang paling parah tentu saja koruptor. Menggerogoti uang rakyat, dan dibelikan barang mewah. Kalau koruptor itu korupsi milyaran dan dibelanjakan gorengan, kaos produksi lokal, belanja di warteg (bukannya di starbucks) dan berbagai produksi rakyat kecil lainnya saya pikir nasib rakyat tidak akan jelek-jelek amat. Toh uangnya masih mutar di sini, masih dinikmati rakyat. Kalau dibelikan barang mewah produksi luar, itu artinya mencuri uang rakyat untuk memperkaya orang asing.

Saya pikir terlalu picik kalau kita bicara beli produksi Pertamina berarti nasionalis. Padahal mobilnya masih produksi luar. Tapi ini bukan soal Pertamina saja. Coba hitung pengeluaran anda. Berapa persennya kah kira-kira uang itu akan tetap di Indonesia?

Ilustrasi: http://dafhy.wordpress.com/

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Setelah Pensiun Mau Apa? Mungkin yang tau saya akan tertawa membaca judul di atas. “Ahhh, baru umur segini dah mikir pensiun!” Memang kalau dilihat dari umur sih masih lama. Tapi gak ada salahnya mulai mikir dari sekarang
  2. Tanggung jawab itu… Kalau sekarang saya perhatikan, semakin hari semakin banyak saja pengguna jalan yang menyebalkan. Tidak hanya tidak menghargai pengguna jalan lain, mereka juga melanggar dan membahayakan. Tanpa memiki
  3. Hebohnya para Motivator “Heh, apa kabar lo?” Gitu sapaan yang saya dengar di lift. Sepertinya dia memang rada surprised liat temen yang lama gak keliatan. Rasa surprised itu tampak semakin bertambah waktu temanny