Sebetulnya saya ingin posting soal ini sudah cukup lama. Waktu mbah Surip berpulang. Menurut saya ironis, disaat sedang di puncak, beliau berpulang. Tapi melihat banyaknya posting dan berita soal beliau… ya sudahlah…
Mungkin karena terbiasa hidup santai dan tidak dikejar-kejar, jadi kaget dengan gaya hidup yang baru. Semua media mengekspos mbah Surip. Sampai akhirnya dia kecapekan.
Media kita emang suka keterlaluan. Satu hal bisa diekspos, semua akan ikut. Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan sampai limit titik jenuh para penonton/pembacanya. Bahkan kalau yang namanya acara gosip, bisa puluhan kali berita yang sama di TV yang berbeda muncul dalam sehari. Acara TV setali tiga uang. Ngetop satu show, maka frekuensi tayangannya akan ditambah. Dan segera saja tiruannya beredar di TV tetangga. Sorry, tapi mereka gak kreatif.
Kalau saja media tidak begitu trengginas meliput mbah Surip, mungkinkah ia akan kecapekan dan sampai kolaps begitu? Mungkin ya, mungkin tidak. Tapi bagi saya media punya andil.
Ada beberapa kejadian lain yang membuat saya kurang menyukai membaca atau mengikuti media kita. Paling-paling yang saya ikuti hanya berita yang disadur dari berita luar. Berita olah raga terutama. Di berita olah raga juga saya kadang harus cross-check dengan sumber asli untuk meyakinkan. Kadang terjemahannya ngaco dan artinya jadi berbeda.
Masih ingat peristiwa penyerbuan di rumah Muh Jari? Seseorang yang diduga Noordin M Top dikepung habis-habisan dan diberondong. Media sibuk menyiarkan pengepungan si ‘Noordin’ itu. Masyarakat sudah kedarung terhipnotis oleh euforia Nurdin akan tertangkap. Waktu itu dinyatakan bukan Nurdin, masyarakat pun kecewa. Polri jadi bulan-bulanan. Satu hal yang dilupakan, seingat saya pihak kepolisian tidak pernah merilis secara resmi itu Noordin sampai hasil tes DNA dirilis. Media yang menekankan itu Noordin.
Yang agak baru, kasus tari Pendet yang ‘kata Media’ diklaim oleh Malaysia sebagai tarian dari sana. Ini mengikuti kasus Manohara dan TKI lainnya. Mungkin saja apa yang terjadi itu benar. Tapi media seperti berusaha menggiring masyarakat untuk punya ‘musuh bersama’, bukan introspeksi diri.
Kenapa media gak berusaha mengajak bangsa ini introspeksi agar tidak perlu ada TKI ilegal, dan lebih suka manas-manasin bangsa ini? Bukankah di negri ini juga banyak pembantu yang dianiaya? Mungkin lebih banyak, tapi tidak seasik kalau ada TKI yang disiksa beritanya. Pembantu disiksa majikan cukup kolom kecil saja, meski mungkin terjadi tiap hari. Kalau tau tetangga sebelah suka nyiksa pembantunya, mungkin kita malah pura-pura gak tau.
Manohara? No comment deh. Kalau liat beritanya kok banyakan simpang-siurnya. Saya lebih suka punya ‘praduga tak bersalah’. There are two sides of every story. Kita selalu dicekoki dengan sisi yang memang ingin kita dengar. Mungkin Manohara benar, tapi bisa saja sebetulnya tuduhannya itu tidak benar. Yang pasti, buat saya orang yang lebih mengutamakan wawancara ketimbang visum sounds ridiculous. Belum ada putusan resmi kan?
Kasus tari Pendet juga diangkat media secara provokatif. Saya gak terlalu tertarik mengikutinya lagi. I’ve lost my faith to our media. Hari ini saya melihat status seorang teman di FB yang cukup meriah threadnya. Dia mempertanyakan juga kenapa media terlalu manas-manasin dan bukannya mencari kebenaran. Yang bikin seru, dia mempertanyakan apa kita gak pernah nyuri hak cipta? Toh CD, DVD di lapak glodok banyak bertebaran. Jangan sampai kita seperti maling teriak maling. Tanggapannya jelas makin meriah. Status itu lah yang membuat saya ingin menulis ini. Saya sendiri ingat ada beberapa lagu nasional yang mirip dengan lagu-lagu asing. Misalnya ‘Kulihat Ibu Pertiwi’ yang diambil dari lagu gereja.
Coba pikir, saya baca ini di media online tadi pagi… Masang tari Pendet di iklan mereka, toh belum tentu salah. Toh kita suka majang iklan tari Barongsai, meski tari itu bukan budaya lokal. Malah kadang kita majang tokoh yang jadi trade mark di iklan dan billboard kita. Ingat ada caleg yang majang foto dirinya bersama Obama? Selama mereka gak mengakui itu budaya mereka ya kenapa enggak? Apakah mereka yang sibuk mengasah golok dan kapak perang itu sudah lihat iklannya? Jangan sampai malah bikin malu bangsa lah…
Bukan berarti saya membela Malaysia. Tapi saya pikir semua harus pada porsinya. Siapa yang peduli dengan tari Pendet sebelum kejadian ini? Perumpamaan di thread teman saya itu (saya pikir cukup unik): kaya orang punya jenggot, jangankan dirawat… dieluspun enggak. Tapi pas kebakaran jenggot baru ribut.
Tidak nasionalis? Ah, kalau memang terbukti merampas hak Indonesia saya yakin kok mayoritas bangsa ini akan siap perang. Tapi jangan sampai karena ulah media yang manas-manasin bikin kita tertutup pikirannya. Hal ini membuat saya teringat film James Bond (lupa judulnya). Waktu Uni Sovyet runtuh, Inggris (dan Amerika) seperti tidak punya lawan. Karena satu-satunya musuh dah gak ada. Akhirnya tokoh yang jadi musuh adalah raja media. Kalau gak salah film Superman the movie juga pernah punya musuh media. pikir sudah waktunya kita berpikir lebih terbuka. Dan gak gampang kemakan ‘berita panas’. Bukankah kebebasan pers diberikan karena masyarakat dianggap sudah dewasa?
Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:
- Warga Pondok Indah, Korban Tata Ruang dan Media Massa Pondok Indah kembali jadi sorotan. Kali ini Pemda DKI kembali berkeinginan mengubek-ubek jalanan PI. Sebelumnya mengacak-acak jalan utama PI, sekarang hendak membuka portal dan mengijinkan through tra
- Antara Obama dan Kutu Air ilustrasi: obamarama.org Tidak, saya tidak ingin membicarakan Obama punya kutu air di kakinya… atau di bagian lain. Mungkin banyak juga yang sudah menebak ke mana arah tulisan ini. Obama punya
- Bajakan, Kenapa Jadi Legal? Ada pembahasan seru di Facebook. Kejadian ini awalnya dari ‘pencurian’ tari Pendet itu. Ada yang bilang ngapain sih pusing mikirin orang… kita sendiri aja banyak nyuri hak cipta orang. En
Tags: Malaysia, mbah Surip, Media, Tari Pendet


hihi… aku udah males aja mbahas orang2 itu, udah kebanyakan yang ngebahas…