September 11th, 2009

pirate_flag Ada pembahasan seru di Facebook. Kejadian ini awalnya dari ‘pencurian’ tari Pendet itu. Ada yang bilang ngapain sih pusing mikirin orang… kita sendiri aja banyak nyuri hak cipta orang. Entah ngebajak desain orang, masang logo tanpa ijin misalnya. Trus CD bajakan, DVD bajakan dan software bajakan tentunya. He’s got the point. Itu jadi kaya maling teriak maling.

Lucunya ada yang nyolot bilang dia suka musik, butuh hiburan tapi harganya mahal. Terpaksa beli bajakan. Menurut saya itu alasan yang sedikit maksa :D Pembenaran. Ya orang Malaysia juga bisa ngomong gitu dong. Daripada di sana gak keurus, mending buat saya aja.

Sebetulnya memang gak fair kalau kita membajak. Ada hak orang di sana. Biar mungkin yang di bajak (jauh) lebih kaya, itu tidak berarti membajak itu benar. Soal lagu kan ada radio, gratis meski banyak iklan.

Soal software juga gitu. Dulu orang gak pernah ribut waktu kudu beli mesin ketik. Padahal produktifitasnya kalah jauh dibandingkan Linux dan Open Office yang gratisan sekalipun. Begitu juga software lain. Misalkan meja gambar yang harganya jutaan. Dibandingkan software CAD abal-abal yang setara harganya dengan meja gambar saja jauh lebih produktif. Jadi rasanya wajar kalau ada software harganya 10x lipat meja gambar, produktifitasnya juga 10x lipat. Apalagi sepanjang pengetahuan saya produktifitas dengan digital jauh di atas manual. Software itu investasi. Hanya kita gak terlalu terbiasa karena bentuknya bukan fisik.

Intinya, menurut saya gak ada yang maksa kok. Siapa yang maksa kita kudu pake Word? Toh mesin tik ada. Klo nekat nulis juga bisa. Kalau mau gratis tapi rada canggih ada software gratisan. Kalau mau lebih ya wajar klo kudu bayar. Simpel aja kan?

Coba kita liat bisnis warnet. Bayangkan warnet itu pake Linux. Toh warnet emang tujuannya buat browsing. Linux cukup lah. Setidaknya bisa dapat uang dengan jujur dan halal. Tapi kemudian apa kejadian? Warnet itu akan kalah bersaing dengan warnet yang pakai Windows bajakan. Pasalnya di warnet dengan Windows bajakan bisa menginstall game online (bajakan juga tentu). Lebih banyak warnet jadi game center ketimbang warnet beneran. Alhasil yang jujur akan kalah… ironis.

Menurut saya pribadi, ada ketidakadilan di sana. Yang ingin mematuhi hukum dan memiliki usaha dengan tenang, kemakan yang nekad (dan mungkin punya backup). Jadi kaya hukum rimba.

OK jujur saya juga gak mampu beli software semahal itu. Untungnya di kantor saya sudah pakai legal semua. Sebatas software yang digunakan untuk kerja tentu saja. Nah untuk software-software lain saya berusaha mengakalinya dengan mencari freeware. Karena itu di Tentang IT saya sering membahas freeware. Ya itu freeware yang saya dapat. Yah dikit-dikit mulai membiasakan diri ke sana. Jadi kalau sampe bangkotan kayanya gak mampu beli, saya udah punya alternatif.

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Pemilu Libur… Nyuruh Orang Jadi Golput? Akhir minggu ini mungkin banyak disambut gembira orang kantoran. Boleh lihat di status Facebook atau Y!M teman-teman kita. Betapa tidak, pada hari H Pemilu pemerintah memutuskan untuk dijadikan hari l
  2. Nasionalisme Buta “Ah, kalau saya sih tetep milih beli di Pertamina. Kita untung, bangsa untung!” Kata teman saya ini dengan penuh nasionalisme. Itu tanggapannya waktu saya bilang di Shell ternyata bbm sekelas pertama
  3. Kebenaran itu Tidak Selalu Mutlak… Waktu membuat orang menjadi lebih bijak. Paling enggak begitu kata orang bijak. Meski saya ngerasa bukan orang bijak, tapi ada benarnya juga petuah itu. Paling enggak, menurut saya sekarang gak ada gu

Tags: , , ,

2 Responses to “Bajakan, Kenapa Jadi Legal?”

  1. jiem says:

    Nice web mas..
    waw kren banget ne theme nya, dapat dari mana mas? bagi2 dong :D