September 7th, 2009

business_woman

Entah sudah berapa puluh kali film ‘Baby’s day out’ diputar di TV. Ceritanya pasti udah pada tau. Basi. Meski begitu, kelucuan yang ada masih lumayan menggelitik.

Pada satu bagian, ibu si bayi terisak-isak. Merasa bersalah karena kalau saja dia enggak ngotot pengen anaknya di foto dan masuk majalah, baby Bing mungkin gak akan diculik. Di awal film memang si Bapak gak terlalu peduli anaknya masuk majalah apa enggak, dan menyarankan supaya difoto sama langganan mereka aja. Ini sesuatu yang sering saya liat. Si Ibu yang banyak maunya. Kebanyakan demi gengsi.

Selanjutnya, waktu saya lagi di Margo City Depok, saya melihat anak-anak pada duduk sama Bapaknya di pinggiran panggung. Ibunya entah kemana. Sepertinya sih belanja. Hal ini juga gampang ditemui di kala liburan. banyak anak-anak yang keleleran dengan Bapaknya atau Kakek-Neneknya di luar toko, sementara ibunya asik hunting pakaian di FO. Alasannya mau liburan sama keluarga, tapi anaknya cuma ikut wisata kuliner, habis itu nungguin Ibunya belanja. Kalaupun jalan-jalan, waktu di FO masih lebih lama. It doesn’t seem right.

Di lain waktu, saya mendengar cerita seorang teman kuliah dulu. Dia mengeluhkan anak-anak kok susah ya diajak ngumpul sekarang. Malah ada yang ketemu di jalan, diajakin buka bersama… yang nyaut istrinya.

"Anaknya ini lho… siapa yang jagain…"

Lho? Kenapa gak ikut aja istrinya? Toh reunian justru saat yang menyenangkan untuk memperkenalkan keluarga. Kalaupun gak ikut, masa sih gak boleh ketemuan sama teman kuliah yang sudah belasan taun gak ketemu? Klo liat orang bule, mau anaknya banyak, ya tetep aja tuh bisa ngurusin sendiri. You have to be king to have maid. Di sini, saya malah pernah menemukan gaji baby sitter-nya aja lebih gede dari majikannya… literally! Why does she work anyway?

Mungkin, semakin banyak pria gagal karena kelakuan istri yang seperti ini. Remember: behind a successful man, there is a woman. But not like this woman, I guess.

Saya gak tau jaman dulu seperti apa wanita Indonesia. Tapi kok rasanya seandainya Kartini lihat, mungkin ia enggan dijadikan icon emansipasi wanita Indonesia?

Yang saya tahu, dulu saya tidak pernah merasakan hal-hal seperti itu. Mungkin hal ini memang tidak terjadi dari dulu. Setidaknya, di jaman Ibu saya tidak begitu.

Corat-coret yang (mungkin) berhubungan:

  1. Seperti Lingkaran Setan Ilustrasi: www.wikimu.com Sejak lebaran kemarin, serumah kondisinya gak ada yang sehat. Pertama sekali ibunya Rama kena radang tenggorakan. Dan Rama yang juga excited ketemu banyak fans di rumah Yang
  2. Ditunggu: Barney versi Indonesia Rama sudah terkantuk-kantuk hendak tidur. Meski kadang guling sana, guling sini, sepertinya memang menunggu waktu saja Rama terlelap. Dengan niat supaya lebih cepat pules, saya nyanyiin lagu dari DVD
  3. Anak Kecil Itu… Si Ibu buru-buru naik ke bus dengan sedikit menyeret anaknya. Si anak menurut saja. Tidak bisa disalahkan. Bus kota di Jakarta memang tidak manusiawi. Wajar kalau si Ibu takut anaknya malah jatuh ka

Tags:

3 Responses to “Wanita Ingin Menguasai Dunia?”

  1. latree says:

    kalo yang model2 di atas itu sih, wanita mau menangnya sendiri… :D

  2. wi2k says:

    gak smua wanita begitu Do..
    Contohnya aku..hua..ha..ha. Semua yg kmu tulis di atas..alhamdulillah gak ada di aku. kelemahanku cm satu..masih jd pegawe kantoran yg hrs ninggalin anak di rumah :(

  3. Edo says:

    @LAtree: Klo kamu gak termasuk ya Lat? :D
    @Wiwik: Iya deh :D