<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>edo-online.com &#187; Hanya di Indonesia</title>
	<atom:link href="http://edo-online.com/category/hanya-di-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edo-online.com</link>
	<description>Corat-coret Seseorang yang Menganggap Dirinya Blogger...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 04:03:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Terjemahan (Terjun) Bebas</title>
		<link>http://edo-online.com/2009/05/terjemahan-terjun-bebas/</link>
		<comments>http://edo-online.com/2009/05/terjemahan-terjun-bebas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 07:19:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hanya di Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edo-online.com/2009/05/terjemahan-terjun-bebas/</guid>
		<description><![CDATA[
Tulisan ini cukup menggelitik saya pagi ini. Kebetulan saya memang lagi bawa kendaraan, dan liat tulisan ini di kaca jendela ruang tunggu supir. Awalnya saya gak terlalu memperhatikan. Tapi agak tertahan waktu melihat kata HOPED. Eh, apa ini?
The footwear hoped was released
Dicetak dengan font besar dan sepertinya dibuat bold. Ada beberapa detik saya tertahan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-209" title="hope" src="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/05/hope.jpg" alt="hope" width="400" height="310" /></p>
<p>Tulisan ini cukup menggelitik saya pagi ini. Kebetulan saya memang lagi bawa kendaraan, dan liat tulisan ini di kaca jendela ruang tunggu supir. Awalnya saya gak terlalu memperhatikan. Tapi agak tertahan waktu melihat kata HOPED. Eh, apa ini?</p>
<blockquote><p>The footwear hoped was released</p></blockquote>
<p>Dicetak dengan font besar dan sepertinya dibuat bold. Ada beberapa detik saya tertahan dan berusaha memahami maksudnya. Waktu akhirnya saya menyerah dan membaca tulisan di bawahnya, saya pun gak tahan nyengir.</p>
<p>Ternyata maksudnya &#8216;alas kaki harap dilepas&#8217;. Mungkin ini korban software terjemahan otomatis. &#8216;Harap&#8217; secara naif diterjemahkan menjadi hoped. Tapi rasanya ya belum pas juga. Hoped bukannya berharap?</p>
<p>Bukan sekali-dua terjemahan salah kaprah seperti ini muncul. Kadang kesalahan penulisannya cukup menggelikan. Entah apa alasan empunya bangunan untuk memasang bahasa Inggris lebih besar daripada bahasa Indonesianya. Seingat saya gak ada supir yang orang bule. Kalaupun ada bule yang nyetir sendiri, rasanya gak bakal nongkrong di ruang tunggu supir. Jadi pemakaian bahasa Inggris jelas gak berguna. Mungkin lebih berguna kalau pakai bahasa Jawa atau Sunda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edo-online.com/2009/05/terjemahan-terjun-bebas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Bebaskan Jakarta dari Macet! What You Can Do&#8230;</title>
		<link>http://edo-online.com/2009/05/ayo-bebaskan-jakarta-dari-macet-what-you-can-do/</link>
		<comments>http://edo-online.com/2009/05/ayo-bebaskan-jakarta-dari-macet-what-you-can-do/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 09:08:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hanya di Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edo-online.com/2009/05/ayo-bebaskan-jakarta-dari-macet-what-you-can-do/</guid>
		<description><![CDATA[Di tulisan sebelumnya, saya sedikit curhat kenapa Jakarta sulit diharapkan bebas dari macet. Tidak terasa keseriusan dari Pemda untuk membenahi kemacetan itu. That&#8217;s why.
Tapi sebetulnya macet itu biasa kok. Begini&#8230; Kebanyakan pengguna jalan cuma muncul beramai-ramai di saat peak hour. Waktu berangkat dan pulang kerja. Sesudah itu trafficnya berkurang secara signifikan. Rasanya gak ideal juga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di tulisan sebelumnya, saya sedikit curhat kenapa Jakarta sulit diharapkan bebas dari macet. Tidak terasa keseriusan dari Pemda untuk membenahi kemacetan itu. That&#8217;s why.</p>
<p>Tapi sebetulnya macet itu biasa kok. Begini&#8230; Kebanyakan pengguna jalan cuma muncul beramai-ramai di saat peak hour. Waktu berangkat dan pulang kerja. Sesudah itu trafficnya berkurang secara signifikan. Rasanya gak ideal juga kalau &#8216;panjang jalan&#8217; di Jakarta di desain untuk memenuhi traffic yang cuma berlangsung sekitar 4 jam itu. Mubazir. Masih banyak pos yang membutuhkan anggaran, gak cuma jalan. Jadi macet akan selalu ada, meski seharusnya gak separah sekarang.</p>
<p><span id="more-189"></span>
<p>Salah satu cara untuk mengurangi efek macet itu ya dari kita sendiri, para pengguna jalan. Anda ingin ikut berperan serta, atau hanya sekedar mengeluh?</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Patuhi Aturan</h3>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ini jelas. Aturan dibuat untuk kepentingan bersama, bukan salah satu kelompok saja. Tidak ada salahnya kita mencoba membaca-baca UU lalu lintas dan peraturan perundangan lain. Meski kita sudah mendapatkan SIM dari hasil &#8216;tembak&#8217;, toh bukan berarti gak perlu tau. Toh, untuk keselamatan kita juga.</p>
<p>Tahu kah anda kenapa marka di jalan tol di sebelah kiri putih menerus? Kenapa di kanan warnanya kuning menerus? Kenapa jalan busway diberi warna merah pada pertemuan dengan jalan umum?</p>
<p>Melanggar aturan tidak melulu merugikan orang lain, tapi juga membahayakan anda. Mungkin ada yang berpikir &#8216;diganti asuransi ini&#8217;, tapi kenyataannya asuransi gak bisa mengganti anggota tubuh anda kalau diamputasi. Atau mengganti nyawa anda.</p>
<p>Kalau anda pengusaha, jangan biarkan truk anda overload. Truk punya tenaga yang besar dan bisa berjalan cukup cepat. Tapi kalau overload dengan sepeda saja kalah balapan. Apalagi kalau nanjak. Bukan hanya bikin macet, anda merugikan pembayar pajak dengan merusak jalanan umum.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Jangan Nyodok!</h3>
<p>Kenapa kalau ada bus/truk mogok di bahu jalan, jalan tol jadi macet? Toh sebetulnya posisinya gak nganggu. Yang bikin macet bukan truk/busnya. Tapi orang yang nyodok di bahu jalan. Mereka ramai-ramai berusaha kembali ke badan jalan karena terhalang. Itu yang bikin macet.</p>
<p>Banyak juga yang ogah ngantri, dan ngambil jalur yang gak semestinya. Akhirnya malah nutupin jalur yang berhak.</p>
<p>Kalau di depan anda macet, seharusnya anda juga gak perlu maksa untuk terus meski lampu lalin berwarna hijau. Area persimpangan itu harusnya tetap steril. Toh, kalau anda maksa, malah bikin macet tambah parah.</p>
<h3>Jangan Keluyuran!</h3>
<p>Bagi anda yang suka mutar-mutar kota dengan kendaraan, mungkin bisa berpikir untuk mulai menguranginya. Kalau belum punya tujuan yang jelas, mungkin gak perlu keluar rumah.</p>
<p>Makin lama anda di jalan, makin besar sumbangsih anda pada kemacetan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Rawat Kendaraan Anda</h3>
<p>Apa hubungannya? Ada. Kendaraan yang tidak terawat, peluang untuk mogok di jalan cukup besar. Meski kadang sifatnya sial, tapi toh dengan mengurangi peluang ini, anda membantu mengatasi kemacetan.</p>
<p>Bayangkan kendaraan anda mogok saat jalan lagi padat-padatnya. Anda turut menyumbang kemacetan Jakarta.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Semua Berhak, dan Semua Punya Kewajiban!</h3>
<p>Ya, kenapa tidak? Kita menggunakan jalan bersama-sama. Hormati pengguna jalan lain.</p>
<p>Tidak sekali dua saya mendengar argumen dari pengguna motor &#8216;motor kan gak bikin macet, mobil yg bikin macet&#8217;. Stop that bullshit and grow up! Semua pengguna jalan ikut nyumbang kemacetan. Termasuk pejalan kaki. Yang jalan kaki kalau nyebrang sembarangan juga ngganggu. Tidak jarang suatu daerah macet karena banyaknya orang menyeberang. Apalagi 6 juta sepeda motor di Jakarta.</p>
<p>Semua punya hak yang sama. Hormati itu, dan jangan mengambil hak orang lain.</p>
<p>Beberapa kendaraan khusus memang punya prioritas lebih. Seperti ambulans, pemadam kebakaran, pejabat tinggi negara, dsb. Kalau anda masih petinggi kecamatan, anda belum pantas untuk dapat prioritas itu. Pemilik Harley? Kalau anda memang berduit, kenapa enggak sewa saja Sentul supaya bebas? Pemilik perusahaan multi-nasional? Juga belum. Kecuali anda sedang terkapar di ambulans.</p>
<p>Start from ourself. Biarkan saja kalau orang lain tidak peduli dan bersikap egois. You are better than them!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edo-online.com/2009/05/ayo-bebaskan-jakarta-dari-macet-what-you-can-do/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resepsi Pernikahan: Untuk Pengantin Apa Untuk Tamu?</title>
		<link>http://edo-online.com/2009/05/resepsi-pernikahan-untuk-pengantin-apa-untuk-tamu/</link>
		<comments>http://edo-online.com/2009/05/resepsi-pernikahan-untuk-pengantin-apa-untuk-tamu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 05:58:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hanya di Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[rumpi]]></category>
		<category><![CDATA[Pengantin]]></category>
		<category><![CDATA[Pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edo-online.com/2009/05/resepsi-pernikahan-untuk-pengantin-apa-untuk-tamu/</guid>
		<description><![CDATA[Anda pernah menghadiri pesta pernikahan orang Amerika? Saya tidak. Tapi seandainya yang di film-film itu menggambarkan suasana pesta mereka secara benar, saya rasa saya cukup punya gambaran.
Pesta pernikahan wong londo itu gak seperti di sini. Betul-betul pesta, dan pengantin pun terlibat. Yang diundang hanya keluarga dekat, yang juga mengikuti acara dari awal sampai akhir. Mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/06/1174432_engagement.jpg" border="0" hspace="10" alt="1174432_engagement" align="left" width="300" height="200" />Anda pernah menghadiri pesta pernikahan orang Amerika? Saya tidak. Tapi seandainya yang di film-film itu menggambarkan suasana pesta mereka secara benar, saya rasa saya cukup punya gambaran.</p>
<p>Pesta pernikahan wong londo itu gak seperti di sini. Betul-betul pesta, dan pengantin pun terlibat. Yang diundang hanya keluarga dekat, yang juga mengikuti acara dari awal sampai akhir. Mulai dari yang resmi sampai dansa-dansi. Semua undangan bisa duduk dan mengikuti semua prosesi dengan nyaman. Bisa berbincang-bincang dengan pengantin, tidak hanya sewaktu salaman saja. Acara yang terbilang akrab.</p>
<p>Menurut saya, acara yang cukup nyaman untuk diikuti. Apakah anda sudah pernah menikah? Atau setidaknya pernah datang ke resepsi pernikahan teman dekat anda? Atau malah ada rencana nikah lagi? Mungkin kita bisa diskusi soal resepsi ini.</p>
<p><span id="more-185"></span> </p>
<p>Saya gak tau gimana dulu resepsi pernikahan di jaman kerajaan dulu. Apakah juga seperti sekarang. Coba kita runut dari undangan. Ada yang cukup kurang ajar dengan menuliskan agar kado tidak berupa barang. Mungkin kelak kartu flash, debit atau kartu kredit bisa digunakan untuk datang ke kondangan. Lah, ini resepsi pernikahan atau resto &rsquo;all you can eat&rsquo;? No hurt feeling :)</p>
<p>Datang ke kondangan, kita disambut para penerima tamu. Dikasih cendera mata yang diharapkan sebagai pengingat bahwa anda pernah datang ke acara sang pengantin. Ukuran cendera mata sendiri kadang merepotkan kita yang datang, dibawa kemana-mana repot, akhirnya ditinggal saja di meja atau di bawah bangku. Barangnya sendiri kadang tidak bisa dimanfaatkan, atau berumur pendek.</p>
<p><img src="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/06/767401_buffet.jpg" border="0" hspace="10" alt="767401_buffet" align="right" width="300" height="199" /></p>
<p>Bagi yang datang cukup awal mungkin cukup beruntung menyaksikan prosesi adat acara resepsi itu. Atau anda malah menyesal datang terlalu cepat? Kadang memang tak banyak yang bisa dilihat. Para tamu harus berdiri berjubelan seperti di pasar malam.</p>
<p>Setelah selesai, para tamu bisa mulai mengucapkan selamat pada pengantin yang berbahagia. Yang enggan menunggu terlalu lama, bisa mulai cicip-cicip makanan dulu. Makan sendiri bisa bikin repot. Bayangkan, kita harus makan besar dalam posisi berdiri, dan rapat dengan tamu lainnya. Gak tau juga kenapa garpu selalu disediakan. Padahal kalau tangan yang satu megang piring, otomatis satunya cuma cukup megang sendok. Tempat duduk jadi barang mewah, itupun tanpa meja.</p>
<p>Katanya sih gaya ini meniru &rsquo;standing party&rsquo;. Padahal kalau kita lihat standing party yang beneran, biasanya acara santai. Orang bisa sambil berdiri ngobrol, mungkin sambil megang minuman. Sesekali mencaplok makanan yang dibawa oleh pelayan yang terus mutar. Makanan yang disediakan cukup sekali gigit. Tidak harus dibawa dalam piring kemana-mana.</p>
<p>Intinya, sesudah salaman, lalu apa? Anda langsung pulang pun sebetulnya sudah menunaikan kewajiban sebagai pihak yang diundang. Kalau acara ini diikuti teman-teman lama anda, mungkin anda bisa sekalian reunian. Hitung-hitung ngasih selamat pengantin, sekalian reuni.</p>
<p><img src="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/06/911662_all_a_blur_3.jpg" border="0" hspace="10" alt="911662_all_a_blur_3" align="left" width="199" height="300" /></p>
<p>Gimana pengantinnya sendiri? Harus rela berdiri terus di pelaminan. Salaman dengan ribuan tamu, yang mungkin bahkan separonya saja gak kenal. Kalau banyak teman lama yang asik ketawa-ketiwi di bawah, hanya bisa memandang iri. Bahkan di acaranya sendiri, mereka merasa terkucil. Lalu apa artinya acara ini bagi mereka?</p>
<p>Saya gak tau. Mungkin acara resepsi di Indonesia lebih bersifat woro-woro atau pengumuman pada semua yang mereka kenal. Mungkin, biar jangan ada gosip kalau kelak si A punya anak, padahal gak pernah ngundang kawinan. Tapi bukan pesta perayaan beneran.</p>
<p>Mungkin saja suatu saat kelak acara resepsi seperti ini berubah. Toh, ini bukan yang pertama kita menyontoh budaya luar. Mungkin kelak, undangan cukup 100-200 orang. Sisanya cukup diberitahu via email, facebook, atau diumumkan di koran. Toh, sudah ada beberapa teman saya yang enggan mengadakan acara seperti ini.</p>
<p>&quot;Serasa ngasih makan orang sekecamatan!&quot; Gitu keluh teman saya. Mungkin kalau anaknya kelak menikah, ia akan membuat acara yang hanya diikuti keluarga dekat. Sekarang? Ia tidak punya kuasa menolak keinginan orang tuanya.</p>
<p>Kalau anda sendiri pengennya acara resepsi seperti apa?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edo-online.com/2009/05/resepsi-pernikahan-untuk-pengantin-apa-untuk-tamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
