
“Tinta Bo’… harganya masih maharani banget… mending tunggu turun atau diskon.”
Mungkin banyak yang paham dengan bahasa itu. Tapi rasanya lebih banyak yang puyeng dengernya. Termasuk orang jadul seperti saya. Sesudah kasak-kusuk nanya, ternyata itu bahasa gaul. Tinta itu maksudnya tidak. Maharani itu maksudnya mahal. Sesudah “Ooooo…” yang cukup panjang, akhirnya saya mulai maklum, bahwa kata-kata seperti itu sudah jamak di kalangan anak muda. Di radio sekarang penyiarnya ya ngomongnya begitu. Mungkin karena pendengar radio sekarang rata-rata cukup gaul.
Kalau baca yang di atas mungkin terbayang saya ini orang yang sudah sepuh. Rambutnya putih semua, keriput sana-sini, dan jalannya gemeteran :D Gak juga. Mungkin karena lingkungan saya emang orangnya gak terlalu gaul. Gak peduli dengan tren. Jadi gak terlalu ngeh dengan revolusi gaya di luar sana. Tapi saya suka. Di sini orang lebih mementingkan fungsi ketimbang gaya. Saat orang demam BB (meski saya sudah tau Blackberry sejak lama, lagi-lagi kaum gaul memberikan istilah sendiri), di sini cuek aja. Ya tentu ada satu-dua yang pake. Tapi justru jadi minoritas. Yang penting di sini telponnya bisa bunyi, bisa sms. Sehingga telpon yang udah ilang dari brosur juga gak masalah. Bahkan ada yang masih ngotot make ponselnya meski batrenya dah mesti diiket karet. Karena longgar.

