Archive for the ‘Hanya di Indonesia’ Category

Bahasa Gaul yang Bikin Puyeng Orang Jadul

Tuesday, January 13th, 2009

happy-businesswoman.jpg

“Tinta Bo’… harganya masih maharani banget… mending tunggu turun atau diskon.”

Mungkin banyak yang paham dengan bahasa itu. Tapi rasanya lebih banyak yang puyeng dengernya. Termasuk orang jadul seperti saya. Sesudah kasak-kusuk nanya, ternyata itu bahasa gaul. Tinta itu maksudnya tidak. Maharani itu maksudnya mahal. Sesudah “Ooooo…” yang cukup panjang, akhirnya saya mulai maklum, bahwa kata-kata seperti itu sudah jamak di kalangan anak muda. Di radio sekarang penyiarnya ya ngomongnya begitu. Mungkin karena pendengar radio sekarang rata-rata cukup gaul.

Kalau baca yang di atas mungkin terbayang saya ini orang yang sudah sepuh. Rambutnya putih semua, keriput sana-sini, dan jalannya gemeteran :D Gak juga. Mungkin karena lingkungan saya emang orangnya gak terlalu gaul. Gak peduli dengan tren. Jadi gak terlalu ngeh dengan revolusi gaya di luar sana. Tapi saya suka. Di sini orang lebih mementingkan fungsi ketimbang gaya. Saat orang demam BB (meski saya sudah tau Blackberry sejak lama, lagi-lagi kaum gaul memberikan istilah sendiri), di sini cuek aja. Ya tentu ada satu-dua yang pake. Tapi justru jadi minoritas. Yang penting di sini telponnya bisa bunyi, bisa sms. Sehingga telpon yang udah ilang dari brosur juga gak masalah. Bahkan ada yang masih ngotot make ponselnya meski batrenya dah mesti diiket karet. Karena longgar.

(more…)

0

Pekerjaan yang Bukan Pekerjaan

Friday, January 2nd, 2009

Pak Ogah atau polisi cepek. Begitu orang seperti ini dipanggil. Dulu nama ini timbul karena mereka diberi uang cepe’an alias 100 rupiah. Jumlah yang sering diminta oleh tokoh gundul pemalas bernama pak Ogah di film si Unyil. Tapi jangan coba-coba memberikan uang cepek pada mereka sekarang. Minimal justru dimaki, atau disambit koin seratusan yang kita kasih. Harga diri mereka sekarang sudah meninggi. Tidak hanya karena inflasi, tapi sepertinya profesi ini diamini oleh pihak berwajib adalah profesi yang sah.

Posisi pak Ogah satu ini betul-betul ogah-ogahan. Dia tetep berdiri di dekat jendela pengemudi. Keberadaannya betul-betul mubazir. Karena posisinya itu, ia tidak dapat menghalangi arus kendaraan dengan semestinya. Ia enggan bolak-balik dan mungkin juga takut pengemudinya keburu kabur. Justru adanya pak Ogah satu ini, kadang pengemudi justru buru-buru memutar. Malas dengar umpatan pak Ogah yang gak dikasih gope’an. Kadang kaburnya membahayakan pengguna jalan lain.

Ia jelas tidak memberikan kontribusi apapun, justru membuat yang menggunakan jalan merasa tidak nyaman. Tapi coba tanyakan padanya apa pekerjaannya, pasti ia akan mengatakan itu adalah pekerjaannya. Dan biasanya akan tersinggung kalau disuruh cari kerjaan yang ‘bener’.

(more…)

5