<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>edo-online.com &#187; rumpi</title>
	<atom:link href="http://edo-online.com/category/rumpi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edo-online.com</link>
	<description>Corat-coret Seseorang yang Menganggap Dirinya Blogger...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 04:03:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Telpon Seluler atau&#8230;?</title>
		<link>http://edo-online.com/2009/11/telpon-seluler-atau/</link>
		<comments>http://edo-online.com/2009/11/telpon-seluler-atau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Nov 2009 06:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edo</dc:creator>
				<category><![CDATA[rumpi]]></category>
		<category><![CDATA[blackberry]]></category>
		<category><![CDATA[Ponsel]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edo-online.com/2009/11/telpon-seluler-atau/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Sebetulnya masalah ini sudah muncul sejak pertama kali ponsel keluar. Tapi rasanya semakin hot belakangan ini. 
Pertanyaan pendek saja: sejak anda punya ponsel yang sekarang, berapa lama anda gunakan sebagai telpon, dan berapa lama anda gunakan sebagai browser/konsol game/email client/text messaging? Mungkin jawaban anda akan bilang untuk nelpon hanya 10%!
 
Pertama kali saya lihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/11/blackberry_keypad.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 10px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="blackberry_keypad" border="0" alt="blackberry_keypad" align="left" src="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/11/blackberry_keypad_thumb.jpg" width="244" height="184" /></a> </p>
<p>Sebetulnya masalah ini sudah muncul sejak pertama kali ponsel keluar. Tapi rasanya semakin hot belakangan ini. </p>
<p>Pertanyaan pendek saja: sejak anda punya ponsel yang sekarang, berapa lama anda gunakan sebagai telpon, dan berapa lama anda gunakan sebagai browser/konsol game/email client/text messaging? Mungkin jawaban anda akan bilang untuk nelpon hanya 10%!</p>
<p> <span id="more-275"></span>
<p>Pertama kali saya lihat banyak ABG yang pakai ponsel, ponsel itu sudah tidak dimanfaatkan sebagai mana mestinya. Sering saat para ABG itu mati gaya di acara keluarga, mereka memanfaatkannya untuk main game atau sekedar ngganti-ganti setting seperti ring tone. Bersyukurlah kalau ada beberapa ABG yang hadir di acara bored to death itu. Mereka akan saling memamerkan model terbaru atau sekedar memamerkan ring tone koleksi terbaru mereka. Bahkan di masa itu, ponsel hanya bisa bunyi (tanpa bisa SMS) ponsel sudah jarang digunakan sebagai telpon. Waktu itu telpon belum bisa disebut telpon pintar alias smart phone.</p>
<p>Jaman berganti. Sekarang masanya produsen ponsel habis-habisan mempromosikan ponsel online dengan papan ketik QWERTY. Tapi akhirnya tetap sama: ponsel akan jarang dipakai sebagai telpon. Sekarang malah pemiliknya asik sendiri nge tweet atau ngupdate status di facebook. Kadang pas meeting yang juga bored to death, malah nggosipin presenter atau bossnya via Twitter atau BB messaging.</p>
<p>Yang seru di postingnya seorang teman dari NZ. Ia baru beli iPhone, dan ngoprek gadget itu habis-habisan. Install aplikasi, nge-tweet, browsing, dll. Pada saatnya iPhone itu berbunyi, dia justru terkejut dan kebingungan bagaimana cara mengangkatnya :)</p>
<p>Seingat saya, dulu ada ponsel yang make tag line ‘connecting people’, dan rasanya sekarang sudah enggak. Mungkin sekarang mestinya namanya bukan lagi ponsel. Entah lah, anda punya usul?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edo-online.com/2009/11/telpon-seluler-atau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bajakan, Kenapa Jadi Legal?</title>
		<link>http://edo-online.com/2009/09/bajakan-kenapa-jadi-legal/</link>
		<comments>http://edo-online.com/2009/09/bajakan-kenapa-jadi-legal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 08:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[rumpi]]></category>
		<category><![CDATA[bajakan]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[software]]></category>
		<category><![CDATA[Tari Pendet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edo-online.com/2009/09/bajakan-kenapa-jadi-legal/</guid>
		<description><![CDATA[ Ada pembahasan seru di Facebook. Kejadian ini awalnya dari &#8216;pencurian&#8217; tari Pendet itu. Ada yang bilang ngapain sih pusing mikirin orang… kita sendiri aja banyak nyuri hak cipta orang. Entah ngebajak desain orang, masang logo tanpa ijin misalnya. Trus CD bajakan, DVD bajakan dan software bajakan tentunya. He&#8217;s got the point. Itu jadi kaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/09/pirate_flag.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 10px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="pirate_flag" border="0" alt="pirate_flag" align="left" src="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/09/pirate_flag_thumb.jpg" width="244" height="164" /></a> Ada pembahasan seru di Facebook. Kejadian ini awalnya dari &#8216;pencurian&#8217; tari Pendet itu. Ada yang bilang ngapain sih pusing mikirin orang… kita sendiri aja banyak nyuri hak cipta orang. Entah ngebajak desain orang, masang logo tanpa ijin misalnya. Trus CD bajakan, DVD bajakan dan software bajakan tentunya. He&#8217;s got the point. Itu jadi kaya maling teriak maling. </p>
<p> <span id="more-261"></span>
<p>Lucunya ada yang nyolot bilang dia suka musik, butuh hiburan tapi harganya mahal. Terpaksa beli bajakan. Menurut saya itu alasan yang sedikit maksa :D Pembenaran. Ya orang Malaysia juga bisa ngomong gitu dong. Daripada di sana gak keurus, mending buat saya aja. </p>
<p>Sebetulnya memang gak fair kalau kita membajak. Ada hak orang di sana. Biar mungkin yang di bajak (jauh) lebih kaya, itu tidak berarti membajak itu benar. Soal lagu kan ada radio, gratis meski banyak iklan. </p>
<p>Soal software juga gitu. Dulu orang gak pernah ribut waktu kudu beli mesin ketik. Padahal produktifitasnya kalah jauh dibandingkan Linux dan Open Office yang gratisan sekalipun. Begitu juga software lain. Misalkan meja gambar yang harganya jutaan. Dibandingkan software CAD abal-abal yang setara harganya dengan meja gambar saja jauh lebih produktif. Jadi rasanya wajar kalau ada software harganya 10x lipat meja gambar, produktifitasnya juga 10x lipat. Apalagi sepanjang pengetahuan saya produktifitas dengan digital jauh di atas manual. Software itu investasi. Hanya kita gak terlalu terbiasa karena bentuknya bukan fisik. </p>
<p>Intinya, menurut saya gak ada yang maksa kok. Siapa yang maksa kita kudu pake Word? Toh mesin tik ada. Klo nekat nulis juga bisa. Kalau mau gratis tapi rada canggih ada software gratisan. Kalau mau lebih ya wajar klo kudu bayar. Simpel aja kan? </p>
<p>Coba kita liat bisnis warnet. Bayangkan warnet itu pake Linux. Toh warnet emang tujuannya buat browsing. Linux cukup lah. Setidaknya bisa dapat uang dengan jujur dan halal. Tapi kemudian apa kejadian? Warnet itu akan kalah bersaing dengan warnet yang pakai Windows bajakan. Pasalnya di warnet dengan Windows bajakan bisa menginstall game online (bajakan juga tentu). Lebih banyak warnet jadi game center ketimbang warnet beneran. Alhasil yang jujur akan kalah… ironis.</p>
<p>Menurut saya pribadi, ada ketidakadilan di sana. Yang ingin mematuhi hukum dan memiliki usaha dengan tenang, kemakan yang nekad (dan mungkin punya backup). Jadi kaya hukum rimba. </p>
<p>OK jujur saya juga gak mampu beli software semahal itu. Untungnya di kantor saya sudah pakai legal semua. Sebatas software yang digunakan untuk kerja tentu saja. Nah untuk software-software lain saya berusaha mengakalinya dengan mencari freeware. Karena itu di Tentang IT saya sering membahas freeware. Ya itu freeware yang saya dapat. Yah dikit-dikit mulai membiasakan diri ke sana. Jadi kalau sampe bangkotan kayanya gak mampu beli, saya udah punya alternatif. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edo-online.com/2009/09/bajakan-kenapa-jadi-legal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Ingin Menguasai Dunia?</title>
		<link>http://edo-online.com/2009/09/wanita-ingin-menguasai-dunia/</link>
		<comments>http://edo-online.com/2009/09/wanita-ingin-menguasai-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 05:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edo</dc:creator>
				<category><![CDATA[rumpi]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edo-online.com/2009/09/wanita-ingin-menguasai-dunia/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Entah sudah berapa puluh kali film &#8216;Baby&#8217;s day out&#8217; diputar di TV. Ceritanya pasti udah pada tau. Basi. Meski begitu, kelucuan yang ada masih lumayan menggelitik. 
Pada satu bagian, ibu si bayi terisak-isak. Merasa bersalah karena kalau saja dia enggak ngotot pengen anaknya di foto dan masuk majalah, baby Bing mungkin gak akan diculik. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/09/business_woman.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; border-top: 0px; margin-right: auto; border-right: 0px" title="business_woman" border="0" alt="business_woman" src="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/09/business_woman_thumb.jpg" width="464" height="235" /></a> </p>
<p>Entah sudah berapa puluh kali film &#8216;Baby&#8217;s day out&#8217; diputar di TV. Ceritanya pasti udah pada tau. Basi. Meski begitu, kelucuan yang ada masih lumayan menggelitik. </p>
<p>Pada satu bagian, ibu si bayi terisak-isak. Merasa bersalah karena kalau saja dia enggak ngotot pengen anaknya di foto dan masuk majalah, baby Bing mungkin gak akan diculik. Di awal film memang si Bapak gak terlalu peduli anaknya masuk majalah apa enggak, dan menyarankan supaya difoto sama langganan mereka aja. Ini sesuatu yang sering saya liat. Si Ibu yang banyak maunya. Kebanyakan demi gengsi.</p>
<p> <span id="more-258"></span>
<p>Selanjutnya, waktu saya lagi di Margo City Depok, saya melihat anak-anak pada duduk sama Bapaknya di pinggiran panggung. Ibunya entah kemana. Sepertinya sih belanja. Hal ini juga gampang ditemui di kala liburan. banyak anak-anak yang keleleran dengan Bapaknya atau Kakek-Neneknya di luar toko, sementara ibunya asik hunting pakaian di FO. Alasannya mau liburan sama keluarga, tapi anaknya cuma ikut wisata kuliner, habis itu nungguin Ibunya belanja. Kalaupun jalan-jalan, waktu di FO masih lebih lama. It doesn&#8217;t seem right.</p>
<p>Di lain waktu, saya mendengar cerita seorang teman kuliah dulu. Dia mengeluhkan anak-anak kok susah ya diajak ngumpul sekarang. Malah ada yang ketemu di jalan, diajakin buka bersama… yang nyaut istrinya.</p>
<blockquote><p>&quot;Anaknya ini lho… siapa yang jagain…&quot;</p>
</blockquote>
<p>Lho? Kenapa gak ikut aja istrinya? Toh reunian justru saat yang menyenangkan untuk memperkenalkan keluarga. Kalaupun gak ikut, masa sih gak boleh ketemuan sama teman kuliah yang sudah belasan taun gak ketemu? Klo liat orang bule, mau anaknya banyak, ya tetep aja tuh bisa ngurusin sendiri. You have to be king to have maid. Di sini, saya malah pernah menemukan gaji baby sitter-nya aja lebih gede dari majikannya… literally! Why does she work anyway?</p>
<p>Mungkin, semakin banyak pria gagal karena kelakuan istri yang seperti ini. Remember: behind a successful man, there is a woman. But not like this woman, I guess.</p>
<p>Saya gak tau jaman dulu seperti apa wanita Indonesia. Tapi kok rasanya seandainya Kartini lihat, mungkin ia enggan dijadikan icon emansipasi wanita Indonesia? </p>
<p>Yang saya tahu, dulu saya tidak pernah merasakan hal-hal seperti itu. Mungkin hal ini memang tidak terjadi dari dulu. Setidaknya, di jaman Ibu saya tidak begitu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edo-online.com/2009/09/wanita-ingin-menguasai-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
