<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>edo-online.com &#187; televisi</title>
	<atom:link href="http://edo-online.com/category/televisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edo-online.com</link>
	<description>Corat-coret Seseorang yang Menganggap Dirinya Blogger...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 04:03:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hebohnya para Motivator</title>
		<link>http://edo-online.com/2008/12/hebohnya-para-motivator/</link>
		<comments>http://edo-online.com/2008/12/hebohnya-para-motivator/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 10:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edo</dc:creator>
				<category><![CDATA[rumpi]]></category>
		<category><![CDATA[televisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edo-online.com/2008/12/hebohnya-para-motivator/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Heh, apa kabar lo?&#8221;
Gitu sapaan yang saya dengar di lift. Sepertinya dia memang rada surprised liat temen yang lama gak keliatan. Rasa surprised itu tampak semakin bertambah waktu temannya merespon.
&#8220;Luar biasa!&#8221;
Rasanya salam seperti itu rada sering terdengar akhir-akhir ini. Salam dahsyat, luar biasa, dan teriakan sejenis sering berkumandang. Gak lain dan gak bukan dunia kecil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2008/12/zrtn-006n1e7ab71f-tn.jpg" style="DISPLAY: inline; FLOAT: right; WIDTH: 250px; HEIGHT: 207px" height="207" width="250"/>&#8220;Heh, apa kabar lo?&#8221;</p>
<p>Gitu sapaan yang saya dengar di lift. Sepertinya dia memang rada surprised liat temen yang lama gak keliatan. Rasa surprised itu tampak semakin bertambah waktu temannya merespon.</p>
<p>&#8220;Luar biasa!&#8221;</p>
<p>Rasanya salam seperti itu rada sering terdengar akhir-akhir ini. Salam dahsyat, luar biasa, dan teriakan sejenis sering berkumandang. Gak lain dan gak bukan dunia kecil di kotak ajaib bernama televisi sedang gencar menyiarkan para motivator itu. Nama-nama seperti Andrie Wongso, Mario Teguh, dan Tung Desem Waringin jadi gak kalah populer dengan Bunga Citra Lestari dan Ashraf. Omongan mereka sama ditunggunya dengan pembelaan Marcella Zalianty.</p>
<p> <span id="more-71"></span>
<p>Saya sendiri terkadang menikmati omongan mereka. Meski menurut saya mempraktekkannya itu lain perkara. Rasa percaya diri yang tinggi (tapi tidak sombong) seringkali menimbulkan rasa nyaman yang berbeda saat menontonnya. Banyak perusahaan yang merasa para pegawainya perlu dikasih motivasi (yang bukan besaran transfer ke rekening mereka tiap bulan) memanggil para motivator ini untuk melecut semangat juang para pegawai. Untuk kepentingan perusahaan juga tentunya. Kalau pegawainya pada rajin dan semangat, tentu perusahaan juga untung. Asal jangan sampai motivatornya ngomporin pegawainya buat bikin usaha sendiri. Bisa-bisa besoknya HRD kebanjiran surat pengunduran diri, dan bulan depan ada tambahan kompetitor dari mantan pegawai!</p>
<p>Kalau dipikir-pikir, apa iya kita butuh motivator? Mungkin ya, mungkin tidak. Setau saya motivator itu gak ada yang termasuk <a href="http://www.antara.co.id/arc/2008/12/11/sukanto-tanoto-orang-terkaya-indonesia-versi-forbes/" target="_blank">10 orang terkaya di Indonesia</a>. Kalau gurunya saja gak bisa, rasanya muridnya juga gak akan bisa masuk daftar itu. Padahal katanya mereka dibayar sampai puluhan juta perjamnya untuk cuap-cuap. Saya gak tau apa orang-orang terkaya itu butuh motivator. Toh dari jaman dulu banyak orang kaya meski para motivator seleb itu belum ada.</p>
<p>Kadang kita emang butuh dimotivasi. Omongan mereka emang sering kena di hati. Rasa pede dan semangat pun meninggi. Apalagi setelah rasa jenuh bekerja tanpa harapan akan perbaikan hidup. Atau setelah banyak cobaan mendera. Tapi ya seperti halnya setelah mendengar kotbah Jumat, perlahan semangat itu kembali turun. Mungkin motivasi sukses dan uang merupakan dorongan yang cukup besar sehingga ada yang rajin mengikuti para motivator ini. Sukur kalau kelak ia bisa sukses.</p>
<p>Saya bukan orang yang skeptis dengan para motivator ini. Tapi menurut saya emang gak semua perlu didengar. Mereka bicara seperti itu toh karena itu profesi mereka. Sama seperti MC, penyiar radio, pembaca berita, host, dibayar buat ngomong. Penyanyi dibayar buat nyanyi. Kita suka lagunya kita dengerin. Kalau gak suka ya gak usah maksain kuping jadi panas. Sama seperti halnya motivator. Kalau emang bagus gak ada salahnya diikuti. Tapi kalau justru bikin kita susah ya gak usah diikuti. Gak susah kan? Toh apa yang buat mereka baik, belum tentu cocok buat kita.</p>
<p>Gak perlu ikut-ikutan <a href="http://jalansutera.com/2008/06/02/hujan-uang-tung-desem-waringin/" target="_blank">nyebar duit dari udara</a>. Buat yang cuma mentingin sukses dalam marketing mungkin itu hal yang genius. Tapi buat yang lain, itu menyinggung perasaan dan melecehkan harga diri manusia lain.</p>
<p>Ada juga yang ngakunya ingin hidup santai dan berbagi kesuksesan. Padahal dalam keadaan sakitpun harus keliling dunia dan ngomong sambil terbatuk-batuk demi meraup uang yang dibayar penonton yang terpukau. Yang ini mungkin anda semua kenal namanya, Roberto Kiyosaki. Sayang tulisan mengenai performancenya itu udah gak ketemu. Tapi Kiyosaki emang pernah dituduh pembohong. Ia bukan orang kaya, tapi orang yang menjual ide supaya bisa jadi kaya. Dia dituduh baru kaya setelah bukunya <em>Rich Dad Poor Dad</em> jadi best seller. Perumpamaannya, dia jualan sekop setelah dia bilang di daerah itu ada emasnya. Yang ini bisa anda baca di tulisan <a href="http://www.pembelajar.com/wmview.php?ArtID=374&amp;page=1" target="_blank" title="Kiyosaki Bohong">Andrias Harefa</a>.</p>
<p>Sekali lagi bukan saya mau nuduh motivator itu tukang tipu atau pembual. Kalau memang ada ajarannya yang bagus, gak ada salahnya diikuti. Tapi gak perlu ngikutin semua omongannya. Kalau anda terpukau itu memang tugas mereka. Sama seperti kalau anda terpukau kalau melihat aksi Metallica menandak-nandak di panggung. Atau David Copperfield menghilangkan patung Liberty. Motivator adalah profesi. Kita bisa terpukau melihat aksi Adebayor mencetak gol ke gawang Chelsea, tapi buat pendukung Chelsea itu menyesakkan. Dan sama seperti Adebayor yang bisa gagal mencetak gol, para motivator itu bisa gagal meyakinkan pendengarnya.</p>
<p>Yang pasti, orang tua saya atau orang tua orang lain bisa aja tersinggung kalau saya jawab &#8220;Luar biasa!!!&#8221; pas ditanya kabarnya. Kalau saya dan anda mungkin sudah tau kenapa ada yang menjawab seperti itu.</p>
<p>Ilustrasi: <a href="http://www.ideasandtraining.com/">www.ideasandtraining.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edo-online.com/2008/12/hebohnya-para-motivator/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Infotainment, Acara Bodoh yang Cerdas</title>
		<link>http://edo-online.com/2008/10/infotainment-acara-bodoh-yang-cerdas/</link>
		<comments>http://edo-online.com/2008/10/infotainment-acara-bodoh-yang-cerdas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 02:50:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edo</dc:creator>
				<category><![CDATA[televisi]]></category>
		<category><![CDATA[acara tv]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edo-online.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[
&#8220;Elo percaya gak, kalau ada puluhan acara infotainment di TV?&#8221;
&#8220;Masa sih? Apa aja? Coba diitung&#8230;&#8221;
Pembicaraan ini beberapa tahun yang lalu, di sebuah radio swasta. Kalau gak salah, hasil itungannya mendekati angka 30. Sekarang mungkin lebih.
Gimana enggak? Dari pagi-pagi buta sudah acara gosip yang ngomongin para selebritis lokal ini. Sampai malam juga masih ada. Banyak yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2008/10/infotainment.jpg" alt="infotainment.jpg" width="425" height="66" /></p>
<p>&#8220;Elo percaya gak, kalau ada puluhan acara infotainment di TV?&#8221;<br />
&#8220;Masa sih? Apa aja? Coba diitung&#8230;&#8221;</p>
<p>Pembicaraan ini beberapa tahun yang lalu, di sebuah radio swasta. Kalau gak salah, hasil itungannya mendekati angka 30. Sekarang mungkin lebih.</p>
<p>Gimana enggak? Dari pagi-pagi buta sudah acara gosip yang ngomongin para selebritis lokal ini. Sampai malam juga masih ada. Banyak yang merasa sebal dengan acara ini, tapi toh banyaknya tipikal acara ini menunjukkan hal ini memang laku dijual. Mulai dari seleb yang udah bisa beli mobil, caranya ngurus anak, ngasih sedekah, sampai yang berantem dengan orang tua atau suaminya. Hal-hal yang sebetulnya gak pantas diketahui orang pun jadi santapan publik. Niat beramal yang sebetulnya mulia pun dilecehkan.</p>
<p><span id="more-30"></span></p>
<p>&#8220;Ah, paling-paling buat promosi aja tuh&#8230; Jaga image!&#8221; Cibir yang sentimen.</p>
<p>Mungkin benar bahwa seleb-seleb itu cuma pamer. Toh, banyak juga seleb yang beramal tanpa diekspos. Toh kata orang tua, kalau tangan kanan memberi, tangan kiri gak perlu tau. Apalagi tangan kiri orang lain. Tapi mungkin aja mereka cuma disuruh manajemennya, atau bertujuan buat ngomporin yang lain ikut beramal.</p>
<p>Lebih seru lagi kalau ada seleb yang ribut. Mukul wartawan yang gak tau diri, seleb tetap sebagai pihak yang salah. Ribut dengan suami, wartawan infotainment itu sudah berbusa-busa mulutnya seperti serigala memburu mangsa. Bahkan ribut dengan orang tuanya, sampai orang tuanya si seleb menggelepar-gelepar dipinggir jalan, si wartawan malah makin semangat mencondongkan kamera dan mikrofonnya. Tidak ada simpati ataupun empati. Yang penting punya komoditas untuk dijual.</p>
<p>Infotainment jelas bukan acara yang cerdas ataupun mencerdaskan bangsa. Bayangkan, nonton TV satu ke TV lain, marathon dari pagi sampai malam isinya itu semua. Gambar yang sama, omongan yang sama, materi yang sama. Seleb A ada cerai, semua TV meliput. Hebatnya, semua laku dijual. Gosip yang makin sip meski gak digosok-gosok ini, juga gak ngajarin yang bener. Kawin-cerai itu biasa di acara ginian. Gaya hidup boros juga bukan hal yang tabu. Alih-alih mendidik, malah menjerumuskan penontonnya.</p>
<p>Tapi sebetulnya acara ini dilihat dari segi marketing sangat cerdas. Bayangkan saja, berapa orang yang dibutuhkan untuk buat acara ini? Tidak banyak. Juga butuh gambar baru dikit aja. Sisanya ambil dari arsip-arsip lama. Banyakin hostnya ngocol sendiri atau memberikan narasi yang berbunga-bunga atau bombastis. Jadi deh acara gak mutu selama 30-60 menit. Padahal misalnya si B baru ngelahirin, butuh waktu berapa menit (detik) untuk menyampaikannya? Bisa dibuat sampai 5-10 menit dengan kepiawaian si produser nyari host yang cerewet. Dengan biaya sangat minim, acara ini sungguh luar biasa. Bisa memberikan keuntungan besar. Tidak salah juga kalau mereka yang berorientasi bisnis tertarik untuk membuat acara seperti ini. Untungnya gede, pasti laku. Kenapa enggak?</p>
<p>Yah, semoga saja dosa-dosa mereka yang terlibat dalam acara semacam ini diampuni. Dan semoga saja yang menonton juga semakin cerdas dan bisa memilah yang patut ditonton ataupun tidak. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edo-online.com/2008/10/infotainment-acara-bodoh-yang-cerdas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
