Si Ibu buru-buru naik ke bus dengan sedikit menyeret anaknya. Si anak menurut saja. Tidak bisa disalahkan. Bus kota di Jakarta memang tidak manusiawi. Wajar kalau si Ibu takut anaknya malah jatuh kalau gak buru-buru naik.
Meski masih pagi dan bus masih relatif sepi, tapi kursi sudah terisi penuh. Sia-sia saja si Ibu melirik kebelakang dan ke depan. Semua sudah penuh. Si Ibu pasrah dan menarik anaknya merapat ke bangku. Pria bertubuh besar yang duduk di bangku itu melirik sekilas, tampak iba, tapi akhirnya memutuskan pura-pura tidak tahu. Tidak bisa disalahkan juga. Naik bus 46 memang perjuangan tersendiri. Apalagi di bulan puasa ini. Supir dan kondektur tidak akan berhenti memasukkan penumpang selagi bisa.
Pondok Indah kembali jadi sorotan. Kali ini Pemda DKI kembali berkeinginan mengubek-ubek jalanan PI. Sebelumnya mengacak-acak jalan utama PI, sekarang hendak membuka portal dan mengijinkan through traffic lewat di kawasan pemukiman. Jalan lokal yang dipaksa jadi jalan arteri. Ini bertentangan dengan manajemen transportasi. Pemda yang mestinya mengatur tata guna lahan dengan baik, justru berusaha mencari solusi instan. Dan tentunya, kelak akan mewariskan masalah yang lebih besar bagi penerusnya. Tapi toh, untuk sementara masalah berkurang.
