<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>edo-online.com &#187; Transportasi</title>
	<atom:link href="http://edo-online.com/category/transportasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edo-online.com</link>
	<description>Corat-coret Seseorang yang Menganggap Dirinya Blogger...</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Nov 2009 04:03:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Anak Kecil Itu&#8230;</title>
		<link>http://edo-online.com/2009/09/anak-kecil-itu/</link>
		<comments>http://edo-online.com/2009/09/anak-kecil-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Sep 2009 05:22:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Transportasi]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bus]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edo-online.com/2009/09/anak-kecil-itu/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Si Ibu buru-buru naik ke bus dengan sedikit menyeret anaknya. Si anak menurut saja. Tidak bisa disalahkan. Bus kota di Jakarta memang tidak manusiawi. Wajar kalau si Ibu takut anaknya malah jatuh kalau gak buru-buru naik. 
Meski masih pagi dan bus masih relatif sepi, tapi kursi sudah terisi penuh. Sia-sia saja si Ibu melirik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/09/kidonbus.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" border="0" alt="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" src="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/09/kidonbus_thumb.jpg" width="454" height="295" /></a> </p>
<p>Si Ibu buru-buru naik ke bus dengan sedikit menyeret anaknya. Si anak menurut saja. Tidak bisa disalahkan. Bus kota di Jakarta memang tidak manusiawi. Wajar kalau si Ibu takut anaknya malah jatuh kalau gak buru-buru naik. </p>
<p>Meski masih pagi dan bus masih relatif sepi, tapi kursi sudah terisi penuh. Sia-sia saja si Ibu melirik kebelakang dan ke depan. Semua sudah penuh. Si Ibu pasrah dan menarik anaknya merapat ke bangku. Pria bertubuh besar yang duduk di bangku itu melirik sekilas, tampak iba, tapi akhirnya memutuskan pura-pura tidak tahu. Tidak bisa disalahkan juga. Naik bus 46 memang perjuangan tersendiri. Apalagi di bulan puasa ini. Supir dan kondektur tidak akan berhenti memasukkan penumpang selagi bisa.</p>
<p> <span id="more-264"></span>
<p>Karena yang duduk di sekitar si Ibu tampak tidak ada yang beranjak, saya putuskan memanggil si Ibu dan menawarkan duduk di tempat saya. Toh hari ini sepertinya gak seramai biasanya. Sambil menggumamkan terima kasih yang tidak terlalu jelas terdengar, si Ibu segera duduk dan memangku anaknya.</p>
<p>Jujur saja, saya tidak terlalu peduli dengan si Ibu. Tapi saya kasihan melihat anaknya. Umurnya paling masih di bawah 5 tahun. Kalau si Ibu sendirian, saya belum tentu akan memberikan kursi saya. Saya juga gak terlalu peduli apa saya dapat pahala atau tidak. Biarpun itu di bulan puasa, saya sama sekali gak peduli.</p>
<p>Satu yang saya harapkan, mudah-mudahan kelak anak saya tidak akan mengalami busuknya transportasi umum di Jakarta ini. Dan jika ternyata belasan tahun lagi masih sebusuk ini (atau lebih), semoga penumpang lain bersedia membantunya.</p>
<p>*Semoga Pemda DKI dibukakan hatinya untuk lebih serius menggarap transportasi Jakarta. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edo-online.com/2009/09/anak-kecil-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perusahaan Angkutan Setara Ojeg</title>
		<link>http://edo-online.com/2009/08/perusahaan-angkutan-setara-ojeg/</link>
		<comments>http://edo-online.com/2009/08/perusahaan-angkutan-setara-ojeg/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 07:35:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edo-online.com/2009/08/perusahaan-angkutan-setara-ojeg/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Perjalanan ke Subang sebetulnya mulus saja. Meski jalanan kecil, tapi tidak terlalu ramai. Yang cukup mengganggu cuma angkot yang berhenti sembarangan, motor yang ngotot ngambil jalur kanan… dan paling parah bus dan truk yang grasa-grusu nyalip meski jalanan ramai. Menurut saya aneh, kok bisa supir kaya gitu diterima jadi pegawai?
 
Bayangkan anda punya posisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/08/pirate_car.jpg"><img style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 10px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="pirate_car" border="0" alt="pirate_car" align="left" src="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/08/pirate_car_thumb.jpg" width="204" height="137" /></a> </p>
<p>Perjalanan ke Subang sebetulnya mulus saja. Meski jalanan kecil, tapi tidak terlalu ramai. Yang cukup mengganggu cuma angkot yang berhenti sembarangan, motor yang ngotot ngambil jalur kanan… dan paling parah bus dan truk yang grasa-grusu nyalip meski jalanan ramai. Menurut <a href="http://edo-online" target="_blank">saya</a> aneh, kok bisa supir kaya gitu diterima jadi pegawai?</p>
<p> <span id="more-252"></span>
<p>Bayangkan anda punya posisi sebagai decision maker di perusahaan anda. Kriteria pegawai seperti apa yang anda inginkan? Tentu yang bisa mendatangkan profit. Lalu anda mungkin akan berpikir si pegawai dapat menjaga dengan baik properti milik perusahaan. Dan tentunya akan membawa nama baik perusahaan.</p>
<p>Supir bus, properti yang dibawanya tidak main-main: bus seharga ratusan juta (atau malah milyaran?). Tentu sebagai perusahaan tidak mau properti vital seperti itu rusak saat kecelakaan. Apalagi karena ulah supir ugal-ugalan. Dan tentu, tidak ingin nama perusahaan dicemarkan si supir karena orang jadi takut naik bus maut.</p>
<p>Menurut saya aneh, kalau bus-bus seperti itu bisa dibawa secara ugal-ugalan oleh supirnya. Apa para petinggi perusahaan itu tidak tau? Atau tau tapi tidak peduli? Kalau tidak peduli sedih juga. Masa perusahaan besar hanya mengincar profit sesaat tanpa punya visi dan misi jauh ke depan? Masa tidak ada cita-cita bagaimana perusahaan itu jadinya setidaknya 5 tahun lagi? Gak jauh beda dengan tukang ojeg dong. Kita tau tukang ojeg pas macet gila-gilaan bisa naikin tarif sampai 2x lipat. Setali tiga uang dengan perusahaan bus di sini. Tapi tukang ojeg memang rejekinya sulit diprediksi, gak seperti perusahaan. </p>
<p>Entahlah. Bagi saya perusahaan angkutan yang mempekerjakan supir seperti itu tidak punya cita-cita besar. Rasanya gak mungkin pimpinannya setolol itu, mempekerjakan orang-orang yang tidak kompeten dan membahayakan perusahaannya. Yang penting uang masuk hari ini, besok urusan nanti. Boro-boro kenyamanan penumpang, keselamatan saja gak dijaga. Hanya upgrade dari tukang becak, ke tukang ojeg, dan sekarang pake bendera perusahaan. Saya tidak bermaksud menghina tukang becak atau tukang ojeg. Mereka seringkali dapat dimaklumi mengingat kondisi mereka. Yang saya tekankan keanehan bahwa perusahaan perangkutan yang mindsetnya kok tetap kerdil meski ukuran kendaraannya sudah besar?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edo-online.com/2009/08/perusahaan-angkutan-setara-ojeg/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warga Pondok Indah, Korban Tata Ruang dan Media Massa</title>
		<link>http://edo-online.com/2009/05/warga-pondok-indah-korban-tata-ruang-dan-media-massa/</link>
		<comments>http://edo-online.com/2009/05/warga-pondok-indah-korban-tata-ruang-dan-media-massa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 09:32:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Transportasi]]></category>
		<category><![CDATA[rumpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edo-online.com/2009/05/warga-pondok-indah-korban-tata-ruang-dan-media-massa/</guid>
		<description><![CDATA[Pondok Indah kembali jadi sorotan. Kali ini Pemda DKI kembali berkeinginan mengubek-ubek jalanan PI. Sebelumnya mengacak-acak jalan utama PI, sekarang hendak membuka portal dan mengijinkan through traffic lewat di kawasan pemukiman. Jalan lokal yang dipaksa jadi jalan arteri. Ini bertentangan dengan manajemen transportasi. Pemda yang mestinya mengatur tata guna lahan dengan baik, justru berusaha mencari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-206" title="victim" src="http://edo-online.com/wp-content/uploads/2009/05/victim.jpg" alt="victim" width="300" height="214" />Pondok Indah kembali jadi sorotan. Kali ini Pemda DKI kembali berkeinginan mengubek-ubek jalanan PI. Sebelumnya mengacak-acak jalan utama PI, sekarang hendak membuka portal dan mengijinkan through traffic lewat di kawasan pemukiman. Jalan lokal yang dipaksa jadi jalan arteri. Ini bertentangan dengan manajemen transportasi. Pemda yang mestinya mengatur tata guna lahan dengan baik, justru berusaha mencari solusi instan. Dan tentunya, kelak akan mewariskan masalah yang lebih besar bagi penerusnya. Tapi toh, untuk sementara masalah berkurang.</p>
<p>Tata guna lahan di Indonesia memang lucu. Kalau gak bisa dikatakan amburadul. Jalan perumahan yang harusnya jadi jalan lokal dibuka untuk arus yang mestinya ada di jalan arteri. Dan jalanan yang mestinya jadi jalan arteri, dijadikan area bisnis. Ruko dan mall tumbuh subur. Jangan heran Jakarta makin macet. Jalur lambat di Sudirman saja akhirnya sebagian jadi almarhum, demi proyek busway. Akhirnya jalur lambat yang semula berfungsi memisahkan arus kendaraan kelas lokal/kolektor jadi bercampur dengan arteri. Bukan cuma macet ujungnya, tapi juga safetynya jauh berkurang.</p>
<p><span id="more-199"></span></p>
<p>Konon, kawasan PI dulunya adalah kawasan pemukiman. Dan <del>diubah</del> berkembang jadi kawasan seperti sekarang. Jadi jalur arteri yang menghubungkan Lebak Bulus sampai ke Daan Mogot. Mall PI akhirnya jadi salah satu yang terpopuler.</p>
<p>Beberapa waktu yang lalu saya juga baru membeli rumah. Saya sengaja membeli di cluster, dengan alasan kenyamanan dan keamanan. Sesudah bekerja 5 hari seminggu, menurut saya akan menyenangkan kalau bisa bermain dengan putra saya di luar rumah. Sekedar membiarkan ia berlari-lari atau mungkin kalau kakinya sudah cukup panjang, memainkan gokartnya. Ini dimungkinkan hanya kalau saya membeli di kawasan tertutup. Dengan kendaraan yang lewat dibatasi. Keamanan, meski mungkin sifatnya semu, pasti jadi satu pertimbangan saat membeli rumah. Siapa yang mau kehilangan barang terus? Apalagi kalau yang mampir rampok&#8230;</p>
<p>Saya pikir saya juga akan kesal kalau kelak, jalan di depan rumah saya jadi jalan bagi para komuter. Yang sering srudak-sruduk, menaikkan kendaraan ke trotoar, parkir sembarangan, dan gak memperdulikan pejalan kaki. Semua alasan kenapa saya memilih rumah di sana jadi hilang. Saya pikir keberatan mereka beralasan. Toh memang seharusnya jalan lokal tidak dijadikan jalanan umum. Kalau anda pernah mudik membawa kendaraan sendiri mungkin tau juga, banyak &#8216;jalan alternatif&#8217; yang ditawarkan untuk menghindari kemacetan. Tidak jarang jalan itu jalan kampung yang aspalnya masih kasar dan harus pelan-pelan saat berpapasan dengan mobil lain. Pastinya itu bukan jalan antar kota. Lucunya, pasar yang harusnya gak ada di jalan utama, malah bisa meluber sampai tumpah ke jalanan.</p>
<p>Mereka sebetulnya korban dari desain tata ruang yang amburadul. Mereka korban, tapi media massa memojokkan mereka seolah-olah mereka yang gak mau diatur. Lihat saja judul media, &#8216;perumahan mewah&#8217; selalu disebut. Sebetulnya biar bukan pemilik rumah mewah, mereka juga berhak untuk merasa keberatan kan? Yang lebih baru, TEMPOinteraktif menyebutkan <a href="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/05/28/headline/krn.20090528.166455.id.html" target="_blank">para jenderal yang tinggal di sana yang keberatan</a>. Ada rasa bahwa media satu ini mencibir para jenderal yang menggunakan alasan keamanan sebagai penolakan. Keamanan, toh tidak hanya soal rampok. Mungkin mereka khawatir keluarga mereka celaka karena para pengguna jalan itu. Yang sudah dikasih hak pakai, tapi sering tak tau diri. Lagipula, sekali lagi, saya rasa mereka berhak untuk keberatan. Toh diartikel itu juga ditulis kalau mereka keberatan, tapi kalau Pemda ngotot ya mereka mau terima. Judul tulisan itu, seolah memvonis para jenderal sebagai pihak yang sok kuasa dan tak tau diri.</p>
<p>Terus-terang saya sering geram dengan tulisan di media. Seperti kata semboyan media &#8216;there&#8217;s no news like bad news&#8217;. Kalau gak ada berita buruk, seolah mereka menciptakan sendiri. Di milis fans Arsenal, banyak teman-teman yang sudah cuek membaca artikel dari media Inggris. Media Inggris memang terkenal sering menulis hal-hal heboh yang sebetulnya tidak benar. Entah karangan atau asal comot dari sumber yang tidak dipercaya. Parahnya, Detiksport sering menyadur berita dari mereka, dan terjemahannya (terjun) bebas. Biasanya sesudah re-check dari sumber aslinya, beritanya tidak seburuk itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edo-online.com/2009/05/warga-pondok-indah-korban-tata-ruang-dan-media-massa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
