Di tulisan sebelumnya, saya sedikit curhat kenapa Jakarta sulit diharapkan bebas dari macet. Tidak terasa keseriusan dari Pemda untuk membenahi kemacetan itu. That’s why.
Tapi sebetulnya macet itu biasa kok. Begini… Kebanyakan pengguna jalan cuma muncul beramai-ramai di saat peak hour. Waktu berangkat dan pulang kerja. Sesudah itu trafficnya berkurang secara signifikan. Rasanya gak ideal juga kalau ‘panjang jalan’ di Jakarta di desain untuk memenuhi traffic yang cuma berlangsung sekitar 4 jam itu. Mubazir. Masih banyak pos yang membutuhkan anggaran, gak cuma jalan. Jadi macet akan selalu ada, meski seharusnya gak separah sekarang.
Baru-baru ini pemerintah DKI mulai meluncurkan ’wacana baru tapi lama’ : pembatasan kendaraan dengan pelat nomer. Sudah banyak jurus yang sudah dilancarkan Pemda DKI. Mulai dari 3 in 1, busway, larangan parkir, jam sekolah dan jam kerja, sampai monorail dan subway yang masih diangan-angan. Tapi tidak ada yang berhasil, meski waktu pemilihan gubernur, jurus sakti yang dilontarkan adalah ’serahkan saja pada ahlinya. Bahkan ahlinya tampak tidak berdaya menghadapi kemacetan Jakarta.
Pagi ini untungnya saya denger di radio kalau jalan tol dalam kota macet. Ada kecelakaan trailer, truk, dan bus. Kebayang kalo kendaraan dengan bodi yang molegh-molegh seperti itu malang-melintang di jalan tol. Tanpa direcoki kecelakaan dahsyat itu saja, biasanya dah bikin tekanan darah naik beberapa bar. Akhirnya saya milih mutar lewat Mampang.
